Tag Archives: Ibnu rusyd

Belajar Filsafat Bersama Ibnu Rusyd


Prolog

Ibnu RusydTaman-taman kota dan Masjid Agung di Andalusia yang dibuat keluarga besar Khalifah Abu Ya’qub Yusuf (1163-1184) penguasa Sevilla, menjadi saksi bisu kehadiran seorang Filsuf besar Islam. Filsuf yang dikenal tidak hanya di dalam dunia filsafat Islam, Filsafat Barat pun mengenalnya dengan sangat baik. Dialah Ibnu Rusyd (1194-1195) atau sebagai Averrous para filsuf Barat mengenalnya. Seorang filsuf kenamaan kelahiran Cordova, ibokota Andalusia pada waktu itu.

Gagasan-gagasan besarnya tidak begitu dikenal di dalam filsafat Islam, andai saja ia tidak mencipta Tahafut at-Tahafut. Bahkan pemikiran dan karya-karya yang merupakan buah komentar dari karya-karya Aristoteles lebih banyak dikenal di Barat. Di dalam filsafat Islam, namanya masih saja ada dalam bayang-bayang al-Ghazali, tokoh yang dikritiknya karena kritiknya terhadap filsafat melalui Tahafut al-Falasifah. Sepertinya orang-orang Islam pada umumnya mengenal Ibnu Rusyd dalam sebagai bagian orang-orang yang menyimpang karena ajaran-ajaran filsafat mereka dan mengenal Tahafut at-Tahafut sebagai sebuah kesesatan yang mencoba menghancurkan jalan lurus yang dikenalkan al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah-nya. Hampir-hampir para pemikir Islam yang cenderung tenggelam dalam bidang fiqih, jarang merujuk pada karya-karya Ibnu Rusyd, yang juga merupakan ahli fiqih terkenal di Andalusia. Padahal Ibnu Rusyd memiliki sebuah kitab fiqih yang cukup otoritatif, Bidayatut Mujtahid. Meskipun secara garis besar kitab tersebut seperti sekedar memaparkan fiqih empat madzab yang ada, dan berikut pandangan-pandangan Ibnu Rusyd sendiri. Continue reading →

Membangun Tradisi Ilmiah Islam Indonesia, Mungkinkah?


Dalam setiap alur sejarah, para penguasa nampak begitu berperan dalam menentukan maju-mundurnya satu tradisi ilmiah. Kebijakan yang berpihak, tentu membawa dampak positif bagi perkembangan dan kemajuan pada bidang pendidikan. Sebaliknya, jika kebijakan penguasa kurang memperhatikan pendidikan, hampir dapat dipastikan bahwa tradisi ilmiahpun akan cenderung limbung. Apalagi bila kebijakan penguasa menekan para akademisi dan lembaga-lembaga pendidikan karena beda ideologi misal. Peristiwa pembakaran buku-buku filsafat Ibnu Rusyd (1194-1195) contohnya. Oleh Khalifah Abu Ya’la Yusuf al-Mansur (1184-1199) penguasa Sevilla, karya-karya Ibnu Rusyd tersebut dibumihanguskan hanya karena khalifah lebih condong pada para teolog.[1] Dan runtuhlah tradisi ilmiah filsafat di Sevilla. Continue reading →

Reaktualisasi Budaya Kritik


Baik pemikiran al-Ghazali (1058-1111M) ataupun Ibnu Rusyd (1126-1198M) pada dasarnya memiliki satu garis hubung yang sama di mata umat Islam. Yaitu sebuah garis yang berangkat dari titik pemikiran Ibnu Sina dengan aliran filsafat yang memiliki bangunan dasar wahdat al-wujud. Dari sinilah al-Ghazali mulai mengeluarkan komentar-komentar yang mungkin lebih tepat disebut sebagai kritikannya terhadap filsafat.[1] Al-Ghazali begitu gigih membantah lontaran-lontaran argumen dari para filosof dengan titik fokus pada filsafat metafisik mereka.[2] Dan kemudian mengumandangkan bahwa para filsuf yang dengan tiga hal (keabadian alam, pengetahuan Tuhan yang universal, menolak bangkitnya jasad setelah mati) yang diajarkannya adalah kafir, termasuk bagi mereka yang mengikutinya. Continue reading →