Category Archives: Ethic

Pancasila sebagai Etika Politik:Ironi Pedoman hidup bangsa yang Diagungkan


  1. Pendahuluan

Adakah terdengar lagi gaung Pancasila dalam kancah kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini? Agaknya untuk melihat hal itu, perlu penelaahan yang cukup luas sudut pandangnya. Atau dapat dikatakan bahwa jika Pancasila dilihat sebagai sebuah fenomena, maka perlu juga dilihat noumena atau esensi dari fenomena itu, dengan begitu sudut pandangnya tidak hanya dibatasi pada tataran luaran yang nampak, tetapi juga berupaya melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Dan sebagai generasi yang hadir hidup di tengah pergumulan “hidup-mati’ Pancasila, sepertinya hal itu dapat dilakukan. Melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Pancasila.

Akhir-akhir ini kita tahu bahwa, Pancasila sedang mengalami satu fase delegitimasi keberadaan, di mana sebagai sebuah pandangan hidup sebuah bangsa ia tak lagi “diakui” sebagai pedoman hidup bersama. Pancasila sekarang sudah tidak sakti lagi, meski kita masih sering mendengar tiap tahunnya pada akhir bulan September dan awal Oktober selalu ada peringatan hari Kesaktian Pancasila. Reformasi 1998-1999 telah mencabik-cabiknya, dan melabelinya sebagai kaki tangan sebuah rezim kekuasaan, pada masa-masa Orba (orde baru). Pancasila menjadi korban. Korban yang diperalat, dan korban untuk dijadikan kambing hitam. Begitulah nasib Pancasila. Continue reading →

Iklan

Nafsu Lawwamah dan Nafsu al-Mulhamah


Pendahuluan

Manusia selamanya tak akan pernah diam dan sebisa mungkin ia akan selalu mencari kehakikian dalam hidupnya. Manusia akan selalu berubah bersama ruang dan waktu yang menyelimutinya demikianlah fitrahnya. “Manusia selalu berevolusi dengan gerak trans-subtansialnya.” Demikian Shadra berkata.

Sedikit demi sedikit, dengan kesadarannya manusia akan berusaha menempatkan dirinya dari kegelapan menuju cahaya. Manusia dengan watak dasarnya—pengetahuan, kecenderungan, dan kemampuan—akan berusaha selalu menuju Tuhan dengan potensi-potensi yang dimilikinya.(Dr. Mahmoud Rajabi, 2006:126-7)

Kemudian, transformasi jiwa manusia dapat dikategorikan dalam beberapa tahapan dengan beberapa pendapat yang ada menyertainya. Pertama, tahapan itu dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan. Yaitu nafsu ammarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, nafsu mutmainnah, nafsu radiyah, nafsu mardiyah, dan nafsu kamilah. (Robert Frager, 2002:100-29). Tahapan-tahapan ini adalah tahapan-tahapan yang biasa dikenali oleh para sufi dengan jalan spiritual yang dijalaninya.  Continue reading →