Belajar Filsafat Bersama Ibnu Rusyd


Prolog

Ibnu RusydTaman-taman kota dan Masjid Agung di Andalusia yang dibuat keluarga besar Khalifah Abu Ya’qub Yusuf (1163-1184) penguasa Sevilla, menjadi saksi bisu kehadiran seorang Filsuf besar Islam. Filsuf yang dikenal tidak hanya di dalam dunia filsafat Islam, Filsafat Barat pun mengenalnya dengan sangat baik. Dialah Ibnu Rusyd (1194-1195) atau sebagai Averrous para filsuf Barat mengenalnya. Seorang filsuf kenamaan kelahiran Cordova, ibokota Andalusia pada waktu itu.

Gagasan-gagasan besarnya tidak begitu dikenal di dalam filsafat Islam, andai saja ia tidak mencipta Tahafut at-Tahafut. Bahkan pemikiran dan karya-karya yang merupakan buah komentar dari karya-karya Aristoteles lebih banyak dikenal di Barat. Di dalam filsafat Islam, namanya masih saja ada dalam bayang-bayang al-Ghazali, tokoh yang dikritiknya karena kritiknya terhadap filsafat melalui Tahafut al-Falasifah. Sepertinya orang-orang Islam pada umumnya mengenal Ibnu Rusyd dalam sebagai bagian orang-orang yang menyimpang karena ajaran-ajaran filsafat mereka dan mengenal Tahafut at-Tahafut sebagai sebuah kesesatan yang mencoba menghancurkan jalan lurus yang dikenalkan al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah-nya. Hampir-hampir para pemikir Islam yang cenderung tenggelam dalam bidang fiqih, jarang merujuk pada karya-karya Ibnu Rusyd, yang juga merupakan ahli fiqih terkenal di Andalusia. Padahal Ibnu Rusyd memiliki sebuah kitab fiqih yang cukup otoritatif, Bidayatut Mujtahid. Meskipun secara garis besar kitab tersebut seperti sekedar memaparkan fiqih empat madzab yang ada, dan berikut pandangan-pandangan Ibnu Rusyd sendiri.

Baik sebagai faqih maupun filsuf memang kurang begitu dikenal dalam dunia Islam, kecuali beberapa tokoh saja yang pernah mengenalnya di Andalusia. Sedangkan di Barat, Ibnu Rusyd atau Averrous ini dikenal cukup baik, para pemikirnya seperti Dante mengenal tokoh Islam ini benar-benar karena komentar-komentarnya pada karya-karya Aristoteles. Dalam bukunya

Divine Comedia Dante[1] menyebut Ibnu Rusyd sebagai sang Komentator Aristo terbesar. Selain itu dalam filsafat Barat pemikiran Ibnu Rusyd juga masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Perdebatan tentang kebenaran ganda antar akal dan wahyu yang oleh mereka dikatakan itu diajarkan oleh Ibnu Rusyd. Demikianlah, sosok Ibnu Rusyd lebih dikenal Barat, daripada Islam yang sebenarnya ibu kandung tokoh ini.

Sekilas tentang Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd lahir di Cordoba, ibukota Andalusia, pada tahun 1194, dengan nama Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd. Di dalam keluarga para ahli hukum, ia tumbuh dan berkembang. Memberinya bekal di masa hidupnya ke depan tentang fiqh dan berbagai ilmu-ilmu yang ia perlukan. Bekal finansial, moral, dan tuntunan bagi Ibnu Rusyd.

Satu catatan penting dalam sejarah karir pemikiran Ibnu Rusyd adalah peran seorang gurunya, Ibnu Thufail (w. 1185). Seorang dokter, filsuf, mungkin astronom, matematikawan, dan juga penyair yang mengabdikan diri pada keluarga dinasti Muwahidun, menjadi dokter dan wazir Sultan Abu Ya’qub Yusuf, penguasa Granada waktu itu. Tokoh inilah yang berperan penting pada perkembangan pemikiran Ibnu Rusyd muda. Atas rekomendasinyalah nama Ibnu Rusyd terpilih sebagai orang mumpuni yang beruntung atas pengangkatannya sebagai seorang komentator karya-karya Aristoteles.

Sebelumnya Sultan Abu Ya’qub Yusuf meminta Ibnu Thufail memberikan komentar pada berbagai macam karya Aristoteles. Sekian banyak terjemahan yang ada dan komentar-komentar yang diberikan pada karya-karya Aristoteles dirasa oleh sultan begitu sulit dipahami. Ibnu Thufail yang sudah tua merasa tidak mampu untuk melakukannya. Ibnu Thufail yang melihat kecermalangan muridnya, Ibnu Rusyd, akhirnya merekomendasikannya untuk melakukan tugas itu. Ibnu Rusyd pun menjalankan tugas itu dengan baik. Di buatlah komentar-komentarnya terhadap karya-karya terjemahan Aristoteles. Bahkan dia mengkategorikan komentarnya menjadi tiga bagian. Ringkasan (jami), komentar sedang (talkhis), dan komentar detil (syarh atau tafsir).[2] Sayangnya karir cemerlang Ibnu Rusyd harus pupus, saat Granada dipimpin Khalifah Abu Ya’la Yusuf al-Mansur (1184-1199). Peta perpolitikan saat itu berubah, karena peperangan sedang berkecamuk. Tentara-tentara Salib mengancam kedaulatan kekuasaan sang khalifah dan juga Islam. Upaya terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan meminta tangan-tangan dingin para teolog dan ahli fiqh ortodok untuk turun tangan mengibarkan bendera perang bagi umat Islam. Ibnu Rusyd dengan filsafatnya yang sejak awal dimusuhi para teolog dan ahli fiqih itupun akhirnya harus disingkirkan dari pengaruh politiknya. Buku-buku Ibnu Rusyd dibakar, ajaran-ajarannya dinyatakan sesat dan keluar dari Islam. Mendekati penghujung hidupnya, filsuf Cordoba ini dibuang ke Lucena, dekat tempat kelahirannya, Cordoba. Meskipun pada akhirnaya al-Mansur kembali memperlakukannya dengan baik dengan mengundang kembali beliau ke istana pada tahun 1197. Setahun kemudian Ibnu Rusyd meninggal di Marakish, Maroko, pada tanggal 10 Desember 1198.[3]

Karya-karyanya

Membahas karya-karya Ibnu Rusyd akan menarik sekali bila pemaparannya merujuk pada tulisan seorang pemikir pembaharu dari Maroko, Muhammad Abid al-Jabiri. Al-Jabiri dalam tulisannya itu mengatakan banyak sekali karya-karya Ibnu Rusyd hampir di setiap bidang tokoh Andalusia ini memiliki karya-karya yang otoritatif sebagai rujukan. Dari bidang akidah hingga politik.

Di bidang akidah Ibnu Rusyd dikatakan oleh al-Jabiri memiliki tiga kitab penting. Al-Kasyf’an Manahij al-Adilah fi Aqaid al-Millah, Fashl al-Maqal fi ma Bain al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittishal, dan Tahafut at-Tahafut.[4] Dari kitab-kitab ini Ibnu Rusyd ingin menyatakan bahwa filsafat tidaklah sesat, seperti yang dituduhkan al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah-nya. Selain itu Ibnu Rusyd juga menyatakan bahwa antara filsafat dan syariat tidaklah bertentangan. Keduanya memiliki satu esensi yang satu yaitu kebenaran Tuhan topik tentang ini secara rinci terdapat dalam kitab Fashl al-Maqal-nya.

Di bidang fiqh Ibnu Rusyd pada dasarnya memiliki satu kitab yaitu Bidayatul Mujtahid wa-Nihayah al-Muqtashid yang kemudian diintisarikan pada satu kitab yang berjudul adh-Dharury fi Ushul al-Fiqh. Dikatakan oleh al-Jabiri bahwa dua kitab ini benar-benar ditujukan untuk mengkritik para fuqaha setelah masa empat imam madzab. Ibnu Rusyd menilai bahwa kebanyakan ulama-ulama fiqih di zamannya hanya dapat mengikuti saja apa yang diajarkan oleh imam empat madzab itu.

Dengan struktur yang ada di dalamnya, Bidayatul Mujtahid ingin menyatakan harus ada beberapa koreksi yang harus dilakukan oleh para fuqaha terhadap pandangan-pandangan para fuqaha terdahulu. Kenapa ada perbedaan dalam fiqih imam Syafii dengan Hanafi misal. Tak hanya sebatas itu, dalam kitabnya itu Ibnu Rusyd juga menekankan bahwa perlu adanya sebuah ijtihad baru yang dapat dilakukan oleh para fuqaha pada zamannya itu. Ini dibuktikan dengan mengemukan pandangan-pandangannya sendiri dalam kitabnya itu setelah membahas pandangan-pandangan fiqih imam empat madzab.

Dalam bidang filsafat sayanganya oleh al-Jabiri tidak disebutkan bahwa Ibnu Rusyd mengarang sebuah kitab khusus untuk filsafat. Menurut hemat penulis, karya-karya Ibnu Rusyd dalam bidang ini ada pada komentar-komentarnya pada karya-karya Aristoteles. Perlu diingat bahwa, karena karya-karya itu berupa komentar-komentar maka, tidak mungkin karya-karya yang dikomentari adalah diterima begitu saja secara mentah-mentah. Banyak sekali bagian-bagian filsafat Aristo atau Yunani pada umumnya yang tidak lepas dari mitos-mitos kuno, yang tentu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Agaknya Ibnu Rusyd dengan tiga kategori komentarnya telah melakukan penyaringan terhadap itu. Dan jika mau dimasukkan, Tahafut at-Tahafut pun dapat menjadi bagian dari karya-karya Ibnu Rusyd yang bercorak filsafat. Karyanya ini penulis kira tidak hanya melakukan pembelaan terhadap filsafat semata. Tentu ada argumen-argumen filosofis yang ada di situ untuk melawan argumen al-Ghazali yang juga masuk dalam kategori filsafat, metafisika.

Dalam bidang kedokteran Ibnu Rusyd memiliki sebuah kitab yang dibuat menjadi semacam ensiklopedia, al-Kulliyat fi ath-Thibb. Sebuah kitab yang berisi tujuh jilid buku dengan tema-tema yang berhubungan dengan anatomi, fisiologi, patologi umum, diagnosis, materia medika, kesehatan dan terapi umum. Sebuah karya yang dibuat dengan tujuan seperti yang dikatakan al-Jabiri untuk mensistemastisasi ilmu kedokteran di atas pondasi ilmu pengetahuan, terutama fisika.[5] Kitab ini oleh orang-orang Kristen, di masa lalu dijadikan sebagai buku panduan, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, di berbagai universitas.

Dalam bidang gramatikal Ibnu Rusyd memiliki sebuah karya yang dikatakan oleh al-Jabiri melampaui Ibnu Madha dengan kitab ar-Radd ala an-Nuhah-nya. Kitab itu adalah adh-Dharury fi an-Nahw yang “berintikan kategorisasi kalimat pada kata tunggal (mufrad) dan kata plural (murakkab) bukan pada kata benda (ism), kata kerja (fiil), dan huruf sebagaimana berlaku dalam ilmu yang setelah era Sibawaih.”[6]

Sedangkan dalam bidang politik kita disuguhi Ibnu Rusyd dengan kitab adh-Dharury fi as-Siyasah sebuah kitab hasil ringkasan Republic (Politea)[7] Plato. Sebuah gagasan tentang Negara Kota atau Kallipolis (al-Madinah al-Fadhliyah).[8] Sayangnya al-Jabiri tidak menerangkan secara lebih mendetail tentang karya Ibnu Rusyd ini, ia hanya mengatakan bahwa seperti halnya Plato, Ibnu Rusyd juga mengkonsepsikan sebuah negara kota dengan pemerintahan-pemerintahan pilihan sebuah kota penuh keadilan dan kemakmuran.[9]

Pembelaan Ibnu Rusyd pada Filsafat

Di atas sedikit disinggung bahwa dalam bidang akidah, Ibnu Rusyd memiliki peran penting dalam melakukan upaya penyelamatan filsafat dari pengasingan yang dilakukan umat Islam sendiri paska fatwa haram al-Ghazali pada bidang pengetahuan itu. Dua kitab yang kitabnya itu mencoba melakukan penetrasi gencarnya serangan-serangan badai yang telah dicipta Hujatul Islam, al-Ghazali. Tahafut at-Tahafut dan Fashl al-Maqal fi ma Bain al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittishal. Kedua kitab inilah yang menjadi pilar utama pemikiran Ibnu Rusyd untuk menyelamatkan filsafat. Meski upaya inipun baru nampak membuahkan hasil baru-baru ini saja, di era modern ini.

Jadi lama sekali pemikiran Ibnu Rusyd ini keluar dari sarangnya dan menampakkan kupu-kupu indahnya. Selama tujuh abad paska kematiannya, pemikiran al-Ghazalilah yang berkibar, memunculkan kondisi stagnansi pada ajaran Islam, yang nampak cenderung menjauhi dunia pemikiran seperti filsafat dan begitu memunculkan ketertarikan pada kajian fiqh dan ushul begitu besar, khususnya di Sunni. Kejumudan melanda, peta pemikiran filsafat masih ada namun nampak redup, di belahan bumi Persia filsafat itu terus berkembang, sedangkan di belan bumi Islam lainnya, semuanya mengalami ketidakberubahan.

Pembelaan Ibnu Rusyd yang sejak dulu ia lakukan terhadap filsafat yang sering kita dengar adalah upayanya untuk meredam Kesesatan para Filosof, Tahafut al-Falasifah karya al-Ghazali. Bagaimana ia mengcounter tiga argumen utama yang difatwakan al-Ghazali pada para filosof yang dianggapnya sesat. “Perdebatan” antara keduanya menjadi debat dua orang dari dua generasi yang berbeda dengan seolah mewakili perdebatan sengit masa lampau antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Mu’tazilah dengan kebebasan berfikirnya dan Asyariyah dengan ortodoksinya. Perdebatan antara dua kubu tentang masalah akidah yang menimbulkan polemik berkepanjangan tentang siapa Tuhan, asal-usul dan seperti apa alam semesta berikutnya. Dasar rasional melawan teks wahyu.

Namun dalam kaitannya dengan al-Ghazali Dr. Mulyadi Kertanegara mengatakan bahwa pada dasarnya apa yang diserang al-Ghazali adalah dunia filsafat tidak secara keseluruhan. Hanya pengikut aliran filsafat Neo Platonis saja yang seharusnya mendapatkan serangan itu. Adapun alasan al-Ghazali melakukan ini karena kebebasan berfikir yang dipraktikkan orang-orang muslim Neo Platonis seperti al-Farabi (w.950) dan Ibn Sina (w.1038),[10] terlalu diumbar sebebas-bebasnya dan terkadang menganggap ritual-ritual agama menjadi tidak penting. Berangkat dari sinilah al-Ghazali mengembangkan gagasannya untuk menyerang para filosof Neo Platonis ini, sayangnya oleh kebanyakan umat Islam itu dipahami sebagai fatwa haram bagi semua aliran filsafat tanpa mengingat bahwa al-Ghazalipun seorang filsuf.

Rasionalitas Ibnu Rusyd pada dasarnya tidak lepas dari aliran peripatetik yang menyatakan bahwa semua yang ada di dunia ini memiliki materi dan bentuk. Satu gagasan Aristoteles yang begitu dijiwai oleh Ibnu Rusyd. Hylomorfis inilah yang dijadikan pijakan oleh aliran filsafat peripatetik. Yang kemudian memunculkan grant naration of causality principal. Di mana prinsip-prinsip kausalitas ini berangkat dari potensialitas materi yang baru bisa terbentuk ketika ada satu wujud non-potensial yang mengaktualkannya. Rasionalitas mencoba membuktikan keberadaan Tuhan sebagai wahdat al-wujud.

Antara subjek dan predikat menurut kaum peripatetik memiliki dua kemungkinan hubungan. Pertama, mumkin. Setiap hubungan akan selalu menyatakan mumkin. Misalnya; “Aku ada”, aku ada adalah sebuah kemungkinan, meskipun sekarang aku sudah aktual tetapi sebelum aku lahir atau setelah aku mati aku hanya “ada” sebagai sebuah kemungkinan. Mungkin ada, mungkin tidak. Selain itu, perubahan yang terjadi pada aku sudah menjadi indikasi bahwa aku adalah kemungkinan. Jadi aku akan selalu membutuhkan sesuatu yang tidak berubah untuk dapat eksis.

Kedua, wajib. Adanya entitas dapat dikatakan wajib bila ia tidak dipengaruhi oleh apapun, tidak berubah-ubah, dan aktual. Dan tentu hanya Tuhanlah yang hanya dapat demikian. Demikianlah fondasi dasar teori peripatetik yang salah satu knight rider-nya adalah Ibnu Rusyd.

Sanggahan-sanggahan Ibnu Rusyd terhadap tiga hal yang menyebabkan al-Ghazali mengaharamkan filsafat;

  1. Keabadian Alam

Apa yang dikatakan al-Ghazali mengenai keabadian alam yang didengungkan oleh para filsuf? Keabadian alam yang dikatakan para filsuf memiliki ketidakkoherenan. Ketika ada dua entitas yang abadi maka tidak dapat dibedakan mana yang pencipta dan mana yang diciptakan. Tapi, kita lupa bahwa apa yang dibicarakan ini saat alam belum ada alam. Al-Ghazali terjebak dengan konsep ruang dan waktu yang meliputi alam. Ketika membahas tentang proses terciptanya alam maka lepaskan dulu konsep ruang dan waktu.

Kata Ibnu Rusyd: “Meskipun Tuhan dan alam sama-sama abadi tetapi karena Tuhan sebagai penyebab, sedangkan alam adalah akibat, maka Tuhan tetap yang dahulu ada (sebagai pencipta). Hal ini dapat di ibaratkan sebagai matahari dengan sinarnya. Mana yang lebih dahulu antara matahari dan sinarnya?”

Al-Ghazali sangat tidak relevan mengkafirkan para filsuf, hanya karena menyatakan alam itu abadi. Padahal pijakan nilai yang dipakai oleh filsuf dan Al-Ghazali sungguh berbeda. Jika para filsuf memancangkan konsep keabadian alam ini dalam kontek di luar ruang dan waktu. Al-Ghazali masih terjebak dalam konteks ruang dan waktu.

Kemudian Ibnu Rusyd pun melakukan kritik balik terhadap pemikiran al-Ghazali yang menyatakan bahwa Tuhan berkehendak ketika meciptakan alam. Menurut Ibnu Rusyd ini tidak mungkin. Permasalahannya adalah kenapa jika kehendak Tuhan itu ada sejak zaman azali tetapi alam datangnya kemudian. Seharusnya sejak azalipun alam sudah ada. Rentang waktu penciptaan ini mengandaikan bahwa ada sesuatu yang lain, membuat Tuhan harus merealisasikan alam. Tentu ini menyalahi aturan.

Para filsuf menawarkan, bahwa alam di sini bukan alam aktual. Tetapi potensi alam, jadi potensi alamlah yang ada sejak zaman dahulu

  1. Pengetahuan Tuhan

Menurut para filsuf Tuhan hanya mengetahui yang partikular secara universal. Jika pengetahuan Tuhan bersifat partikular, maka apa-apa yang ada di dunia ini akan selalu menjadi kehendak Tuhan. Ini berakibat, keadilan Tuhan akan dipertanyakan. Misalnya kasus manusia yang mati bunuh diri, dengan konsep pengetahuan Tuhan yang partikular, implikasinyapun hal ini sudah ditetapkan Tuhan. Dengan begitu konsep pengetahuan Tuhan secara partikular mengalami permasalahan. Tuhan akan tahu bahwa setiap manusia akan mati, sampai di sinilah pengetahuan Tuhan, tetapi bagaimana cara manusia itu mati, hal itu diserahkan pada manusia sendiri.

Hal ini nampak sebagai keterbatasan, karena mengandaikan bahwa penglihatan Tuhan menggunakan indera. Pengenalan Tuhan adalah pengenalan universal, karena tiadanya indera dalam diri Tuhan.

Selalu ada batas-batas yang membatasi, terhadap Tuhan sendiri. Misalnya, mungkinkah Tuhan membunuh dirinya? Jika mengikuti nalar tentu bisa saja Tuhan membunuh dirinya sendiri, karena kemahakuasaan diri-Nya. Tentu tak mungkin Tuhan membunuh dirinya.

  1. Kebangkitan Jasmani Setelah Mati

Menurut para filsuf tak mungkin jasmani manusia akan bangkit setelah mati. Hal ini merujuk pada sifat jasmani itu sendiri (tubuh tak mungkin bisa abadi, setiap yang fisik akan selalu hancur), padahal menurut al-Qur’an, nanti manusia akan abadi di akhirat. Maka dari itu, tak mungkin jasmani manusia ini akan bangkit menuju akhirat, karena kefanaannya. 

Dosa yang kita lakukan tak akan dirasakan sakitnya saat ini, karena tubuh menikmatinya, begitupun dengan kebaikan yang kita lakukan saat ini seringkali terasa menyakitkan bagi tubuh kita. Tapi, setelah meninggal, kata al-Fârâbî, kepahitan dosa kita akan benar-benar dirasakan karena sudah tak ada yang menghalangi, yaitu tubuh. Begitu pula dengan pahala, pahala akan kita rasakan kenikmatannya. Dosa kitalah yang akan menyiksa kita, bukan Tuhan. Itulah gambaran al-Fârâbî tentang kehidupan akhirat nanti.

Sedangkan konsep al-Ghazali tentang kehidupan akhirat, menurut Ibnu Rusyd tidak konsisten karena kadangkala menyatakan bahwa surga dan neraka itu bersifat fisik di satu buku, di buku lainnya ia menyatakan bahwa kehidupan akhirat bersifat ruhani.

Dari tiga sanggahanya ini Ibnu Rusyd mencoba untuk kembali merajut benang-benang filsafat yang sempat dipotong-potong al-Ghazali. Ibnu Rusyd seolah berkata bahwa di dalam filsafat Islam ini kami juga menemukan kebenaran. Namun sayangnya filsafat Ibnu Rusyd justeru berkembang di Barat tempat ia mengasah pengetahuannya. Di dunia Islam sendiri pintu untuk mempelajari filsafat telah dikunci mati oleh fatwa haram al-Ghazali. Dan inipun harus diakui.

Upaya lain Ibnu Rusyd dalam usaha pembelaanya terhadap filsafat adalah dengan menyatakan bahwa antara filsafat dan syariat tidaklah bertentangan dalam kitabnya Fashl al-Maqal fi ma Bain al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittishal. Fatwa haram al-Ghazali benar-benar meresap di benak dan sanubari umat Islam dan tentu Ibnu Rusyd tidak ingin itu berlarut-larut terjadi. Ketika upaya perlawanan dengan Tahafut at-Tahafut-nya dirasa masih kurang berhasil dalam mengambil hati umat Islam, upaya persuasifpun dimunculkan dengan adanya kitab ini. Pada dasarnya kitab ini berbicara tentang hubungan antara akal dan wahyu. Bertentangan atau tidak keduanya? Oleh Ibnu Rusyd dikatakan bahwa keduanya tidaklah bertentangan.

Ada kebenaran tunggal di dalamnya. Dalam upayanya itu nampak betul bahwa Ibnu Rusyd benar-benar berkeinginan untuk mendamaikan dua episteme ini. Untuk memperkuat argumen ini Ibnu Rusyd membagi manusia menjadi tiga golongan. Pertama, kelas kaum ortodoks yang tidak terpelajar. Orang-orang dalam kategori ini jumlahnya paling banyak, dan biasanya dalam menjalani rutinitas keberagamaannya hanya dengan bertaqlid atau mengikut. Kedua, adalah para teolog. Golongan ini dikatakan Ibnu Rusyd adalah golongan tepelajar namun tidak mau memahami premis-premis logika. Dan yang terakhir, adalah golongan orang-orang yang memahami agama secara rasional.

Dari tiga kategorisasi ini Ibnu Rusyd kemudian menyatakan bahwa perbedaan pendapat dan pemahaman dalam Islam, sebenarnya berpangkal pada ini. Allah SWT mencipta al-Qur’an sebegitu fleksibelnya hingga dapat menyesuaikan yang membaca dan yang memahaminya. Dari sinilah kemudian Ibnu Rusyd dinyatakan sebagai seorang yang menyebarkan ajaran ganda. Meski kalau kita pahami lanjut sebenarnya tidak ada itu yang namanya kebenaran ganda, yang ganda mungkin pemahamannya saja. Jelas pembelaan yang luar biasa oleh Ibnu Rusyd pada filsafat.[11]

Lima hal yang harus dimiliki seseorang yang ingin mendalami filsafat menurut Ibnu Rusyd[12]

Pertama, bakat alam. Menurut Ibnu Rusyd seseorang yang ingin mendalami harus memiliki bekal awal yaitu nalar. Tidak semua orang memiliki kemampuan dan minat yang sama dalam mendalami filsafat. Jadi ini penting untuk diperhatikan. Bekal otak yang cerdas.

Kedua, tertib. Seorang yang ingin berhasil menjadi filsuf harus mempelajari filsafat secara sistematis dan berurutan, agar tidak ada kerancuan-kerancuan.

Ketiga, objektivitas. Kejujuran untuk mengatakan benar dan tidak pada sebuah pemikiran adalah hal penting lain yang harus dimiliki seorang calon filsuf. Ketika mendapatkan satu kebenaran dalam suatu pemikiran katakanlah itu kebenaran, tanpa mengurangi atau melebikan.

Keempat, keteguhan pendapat. Ketika seorang filsuf mendapatkan kepastian dalam pemikirannya, maka sikap yang patut adalah mempertahankan pemikirannya itu dengan sungguh. Dalam kamus seorang filsuf tidak ada yang namanya kemunafikan pemikiran. Ketika ia menyatakan kebenaran satu hal maka ia harus mempertahankannya mati-matian.

Kelima, keutamaan akhlak. Seseorang yang ingin mendalami filsafat harus benar-benar meniatkan dirinya untuk fokus hanya pada pengetahuan dan kebaikan.

Demikianlah lima hal yang diajarkan Ibnu Rusyd untuk mengaktualkan diri dalam dunia pemikiran.

Ending

Ibnu Rusyd dengan begitu gigih melakukan pembelaan terhadap apa yang diyakininya benar. Bahwa filsafat memang bukanlah ajaran sesat yang patut dijauhi. Saya masih ingat betul akan kata-kata guru-guru dan teman-teman waktu dulu, “Janganlah belajar filsafat, karena filsafat dapat membuatmu menjadi atheis dan kafir”. Satu kalimat yang saya ingat sampai sekarang. Dan ketika saya mencoba membaca-baca buku filsafat, ada betulnya juga mereka, namun itu dalam batasan tertentu tentunya. Benar yang dikatakan Ibnu Rusyd bahwa pemahaman yang dangkal pada pencarian dalam dunia filsafat memang kerap mengantarkan sang pencari itu pada kesesatan. Maka ingatlah lima pedoman itu!

Daftar Pustaka

Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim; Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat Modern, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004

Joseph Losco dan Leonard Williams, Political Theory, terj, Haris Munandar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005

Mulyadi Kertanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago, Jakarta: Paramadina, 2000

Philip, K Hitti, Hostory of the Arabs, Jakarta: Serambi, 2005

Zuhairi Misrawi, Ibnu Rusyd, Gerbang Pencerahan Timur dan Barat, Jakarta: P3M, 2007


[1] Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim: Membuka Pintu Gerbang Filsafat Barat Modern, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004, hal. 191

[2] Philip, K Hitti, Hostory of the Arabs, Jakarta: Serambi, 2005, hal. 743. Lihat juga Ahmad Zainul Hamdi, hal. 192.

[3] Ibid, hal. 197

[4] Zuhairi Misrawi, Ibnu Rusyd, Gerbang Pencerahan Timur dan Barat, Jakarta: P3M, 2007, hal. 157

[5] Ibid, hal. 158.

[6] Ibid, hal 160

[7] Konsepsi Plato tentang sebuah kota yang indah, baik, cantik, penuh keadilan, dan adanya kebijaksanaan penguasa. Menurut Plato seorang pemimpin yang patut memimpin adalah dari golongan Filsuf. Yang memiliki pengetahuan tentang berbagai macam pengetahuan. Joseph Losco dan Leonard Williams, Political Theory, terj, Haris Munandar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005, hal. 144

[8] Ibid, hal. 160. Ketika membaca pernyataan ini saya sedikit meragukan tentang gagasan “Kota Utama” ini.

[9] Zuhairi Misrawi, Op.Cit. hal. 160.

[10] Mulyadi Kertanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago, Jakarta: Paramadina, 2000, hal. 48.

[11] Dalam hal ini saya melihat bahwa Ibnu Rusyd lebih condong ke rasionalitasnya dan sedikit mengerdilkan peran wahyu.

[12] Zuhairi Misrawi, Op.Cit., hal.167-168.

6 responses

  1. kapan buku-buku di daftar pustaka dapat dibeli yaa?

    1. Setahu saya, buku2 itu bisa dibeli kok. Kalau yang political theory, dulu saya pernah melihat buku ini dijual di Senin, di Kwitang. Untuk buku satu ini tentu versi aslinya cukup mahal harganya, sekitar 200-an untuk 2 jilid bukunya.

  2. Adakah buku terjemahan bahasa Bahasa Indonesia karangan Ibnu Rusyd yang berjudul “Tahafut At Tahafut”?Kalol sudah diterjemahkan,kemana harus beli?kami kesulitan mencari buku tersebut

    1. seingat saya ada itu buku, meski terjemahannya katanya masih kurang bagus…saya lupa penerbitnya mana….kalo mau baca, silahkan datang saja di perpustakaan kampus kami, the islamic college Jakarta, di Plaza III Pondok Indah seberang carefor Lebak Bulus

  3. kalau pendapat yang paling mendasar dari ibnu rusyd itu apa?..

  4. kata-kata tidak seutuhnya dapat mewakili apa yang di maksud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: