Manusia Otentik


By Muhammad Fathi, dkk

Latar Belakang

Terjadinya konsep manusia otentik adalah lahir dari rahim modernisme yang telah gagal memahami manusia secara utuh. Filsafat ‘pencerahan’, karena ketakjubannya dengan fisika memahami manusia seperti mereka memahami alam. Alam dianggap sebagai sebuah mesin raksasa, dan manusia dianggap sebagai mesin kecil. Penyamaan manusia dengan alam sebagai mesin menyebabkan ‘kemesinan’ manusia (i’ home machine).

Pemesinan manusia yang diperparah oleh penggunaan teknologi industrial setelah terjadinya ‘Revolusi Industri’ di Eropa, dimana peradaban ‘mesin’ sungguh-sungguh melingkari manusia. Manusia yang dulunya bekerja di pabrik-pabrik secara manual, sejak itu tergantikan oleh robot-robot. Manusia telah direndahkan derajatnya oleh industrialis-industrialis teknokrat yang lebih rendah dari robot-robot.

Definisi Manusia Otentik

‘Otentik’ berarti tidak palsu, tidak meniru, jenuin, orisinil, asli, valid, real. Jadi, manusia yang otentik ialah, sebagaimana dijelaskan Husain Heriyanto, ‘ Manusia otentik adalah manusia yang menjadi diri sendiri bukan orang jiplakan, bukan orang tiruan, manusia otentik adalah manusia yang mempunyai sikap dan pendirian sendiri. Otonom, berdasarkan kesadaran hati nuraninya. Bukan hanya bisa membeo, atau ikut mode, pendapat umum, atau hanya ikut arah angin.[1]

Dari definisi di atas, kita dapat menarik suatu batasan bahwa yang dinamakan manusia otentik ialah manusia yang senantiasa menjadi dirinya sendiri. Tidak bergantung pada common sense, atau stereotip, berfigur dan menjiplak kepribadian orang lain. Adapun jika ia bertindak sama dengan orang lain, maka kesamaannya itu semata-mata dilakukan karena ia anggap benar. Dirinya senantiasa mengakui bahwa sikap dan pendiriannya benar. Dan mampu menentukan dirinya sendiri.

Ia mampu membuat keputusan-keputusan moral berdasarkan kesadarannya sendiri. Manusia otentik selalu bersifat jujur dan berani menghadapi realita hidup.

‘Manusia otentik’ bukanlah ‘manusia mesin’ yang hidup dan berfungsi sebagaimana mesin: tak punya kebebasan, dapat disetel dan dimatikan seketika, tak beremosi, monoton, dapat diukur dengan ukuran-ukuran matematis dan kalkulatif, tal punya pilihan. Menurut N. Drijarkara mengenal manusia dan masyarakat

Tak perlu kita sangkal, bahwa dalam perkembangan moral, masyarakat memiliki peranan penting. Dengan Durkheim, dapat juga kita akui bahwa apa yang baik itu, baik juga untuk masyarakat. Akan tetapi kita tolak pendapatnya, bahwa masyarakat itu merupakan norma terakhir dari kesusilaan, bahwa hanya masyarakatlah yang menetapkan apakah sesuatu baik atau buruk.

Pendapat itu demikian itu depersonisasi dari manusia, artinya memungkiri bahwa manusia itu pribadi. Kedua kita harus katakan bahwa pendaoat tadi tidak sesuai dengan fakta-fakta bahwa dalam masyarakat selalu ada perseorangan-perseorangan yang mengajukan kritik atau koreksi. Hal itu tidak mungkin, andaikata pendapat kita tentang moral sama sekali ditentukan oleh masyarakat. Sebagai keberatan ketiga, kita ajukan bahwa, teori seperti yang diajarkan oleh Durkheim itu akan membenarkan kolonialisme, penindasan bangsa lain dsb. Sebab dengan berdasarkan teori itu nanti suatu masyarakat dari suatu bangsa akan berkata: bagi kita baiklah jika kita merampas kemerdekaan dari tetangga kita….[2]

Mengapa Manusia Harus Otentik?

  1. Manusia berbeda dengan selain manusia

Makhluk nonmanusia telah ditentukan atau dipatok fungsi keberadaan di dunia. Sedangkan fungsi keberadaan manusia di dunia ditentukan oleh sang manusia sendiri.[3]

Makhluk nonmanusia sejak lahir keberadaannya di dunia sudah merupakan wujud final, tetapi manusia adalah wujud yang tak pernah final.

  1. Dengan keotentikan manusia dapat bertanggung jawab secara moral.

Bertanggung jawab secara moral dapat ditunjukkan ketika apakah ia bertindak lantaran mau menjadi baik, atau sungguh-sungguh mau. Jika ia bertindak untuk menjadi baik, apakah tindakan moralnya tidak otentik. Ia telah didikte oleh suatu konsep kebaikan yang bisa jadi dibuat oleh selain dari dirinya.

Apakah keotentikan (otentisitas) itu hanya terdapat pada manusia?

Manusia adalah makhluk potensial, yang harus terus mengaktualisasikan potensi-potensi kemanusiaanya, maka otentisitas (sikap otentik) merupakan cara berada khas kemanusiaan. Binatang, batu, tanaman, syaithan dan malaikat jelas tidak dituntut keotentikan, karena mereka semua termasuk makhluk de facto, yaitu makhluk yang sudah ditentukan dan dipatok fungsi keberadaanya di dunia. Hanya manusialah makhluk yang fungsinya di dunia ditentukan oleh sang manusia itu sendiri; apakah jadi orang baik atau buruk, jadi pahlawan atau pengkhianat, dan sebagainya.

Sejauh manakah kebutuhan manusia terhadap otentisitas?

Otentisitas adalah syarat harkat kemanusiaan dalam segala sikap yang kita ambil. Dengan memiliki otentisitas kita dapat mengembangkan kebebasan eksistensial. Boleh dikatan; derajat kemanusiaan kita setara dengan tingkat keotentikan kita menjadi manusia yang otonom, mandiri.

Jadi jelaslah bahwa keotentikan adalah kebutuhan fitrah manusia. Semua manusia pada dasarnya membutuhkan sikap yang otentik, jadi diri yang otonom, yang punya pendirian dan kepribadian mandiri. Karena, hal itu semua termasuk nilai-nilai kesempurnaan menjadi manusia.

Jika keotentikan merupakan kebutuhan fitrah manusia, mengapa banyak manusia yang tidak otentik, tapi menjadi manusia robot, pembeo, pembebek, peniru?

Kenyataanya, banyak manusia yang tidak otentik, sebagian besar manusia bersifat sebagai peniru. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, ia tidak dilatih dan terlatih untuk menjadi di sendiri. Sistem pendidikan yang diterapkan baik yang non formal (di keluarga, masyarakat) dan yang formal (sekolah, perguruan tinggi) sering tidak mendidik pelajar yang mempunyai kepercayaan diri untuk bersikap sesuai dengan pendiriannya sendiri. Mereka tidak digembleng untuk mampu membuat keputusan-keputusan berdasarkan pertimbangan sendiri yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Kedua, sistem nilai budaya yang tidak kondusif, tidak mendukung penempaan jiwa dan karakter yang otonom. Ada budaya yang lebih mengutamakan ‘kekompakkan’ palsu seperti; budaya nyontek, tawuran, ikut teman (narkoba, minuman keras); sebaliknya sikap yang mandiri dan otentik kurang dihargai. Misalnya; belajar keras sendiri di perpustakaan (dianggap sombong, ambisius) padahal hal itu memang kewajiban semua pelajar.

Ketiga, budaya massal yang menghegemoni seperti: konsumerisme, iklan, kapitalisme, Hollywood, hedonisme, borjuisme melalui berbagai media massa cetak dan elektronik dan internet. Tapi ketiga faktor ini dapat diatasi jika kita semua bertekad dan berlatih keras untuk menjadi manusia yang otentik; apalagi bila kita benar-benar mengerti dan menghayati hakekat dan harkat jati diri kemanusiaan kita yang benar-benar mulia.

Reference:

Heriyanto, Husein. Term Of Reference Kaji Filsafat on Radio Kiss 107,2 FM

Nicolaus Drijarkara, Percikan Filsafat, (Jakarta: PT. Pembangunan,1978), cet-3, hal. 23-24


[1] Husein Heriyanto, TOR Kaji filsafat on Radio KISS 107,2 FM, ‘Manusia Otentik’, hal 1

[2] Nicolaus Drijarkara, Percikan Filsafat, (Jakarta: PT. Pembangunan,1978), cet-3, hal. 23-24

[3] Husein Heriyanto, ‘Manusia Otentik’, hal.2

One response

  1. manusia otentik bukan suatu tujuan kok sepertinya. terserah masing-masing manusia ingin menjadi otentik atau tidak itu mungkin lebih pantas disebut otentik. be meaning ful. yang penting punya rasa bahagia dalam hidup. menurutku.🙂
    terimakasih informasinya, mari berbagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: