Paradigma Sufistik dalam Sastra


by Wiwit KR.

PENDAHULUAN

Beberapa sarjana mengatakan bahwa kata sufi berasal dari kata ‘safi’ yang dalam bahasa Arab bermakna suci atau bersih. Memang jalan kerohanian sufi dimulai dengan penyucian diri (tadhkiya` al-nafs) dan penyucian kalbu (tadhkiya` al-qalb). Tujuan penyucian diri dan kalbu dimaksudkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Di samping itu jalan kerohanian sufi ditempuh dengan maksud agar seorang salik (penempuh jalan kerohanian) lebih mengenali diri mereka dan hakikat bahwa manusia merupakan makhluq kerohanian, bukan semata-mata makhluq kejasmanian dan sosial.[1]

Membincang tentang tasawuf merupakan hal yang menarik bagi pencintanya. Banyak sastra-sastra Islam yang berisikan tentang puisi sufi yang sangat menarik dan indah terkait dengan penghambaan manusia terhadap Tuhannya. Dalam karya Dr. abdul Hadi W.M yang di presentasikan dalam mata kuliah ‘Sastra Islam’ di ICAS Paramadina, dia menyebutkan bahwa Tasawuf ialah bentuk spiritualitas atau jalan kerohanian dalam Islam. Sebagai bentuk spiritualitas dengan ajaran kerohanian yang telah dirumuskan ilmu tasawuf muncul pada awal abad ke-2 H atau 8 M. Mereka yang melaksanakan disiplin kerohanian mengikuti jalan tasawuf disebut sufi. Kerana itu tasawuf juga disebut sufisme. Para sufi telah sejak awal lagi melibatkan diri dalam kegiatan sastra, khususnya penulisan puisi.

Nyata sekali bahwa tasawuf tidak hanya merupakan gerakan keagamaan, tetapi juga merupakan gerakan sastra. Braginsky (1993,xiv-v) menyambut tasawuf sebagai gerakan sastra dengan istilah ‘tasawuf puitik’. Tasawuf yang ditulis dengan bentuk doktrin keruhanian disebut sebagai ‘tasawuf kitab’. Tasawuf puitik merupakan fenomena universal. Ia bukan hanya fenomena local, tidak terbatas hanya dalam lingkungan tradisis Muslim Arab atau Parsi, tetapi juga muncul dalam tradisi masyarakat lain seperti Turki, Urdu, Bengali, Cina, Melayu dan Jawa. Tasawuf puitik mempengaruhi gerakan-gerakan sastra modern di luar Negara Islam, di Timur maupun Barat.[2]

Dari sinilah kita tahu bahwa sufi juga memiliki berbagai sastra yang tidak kalah indahnya dengan sastra-sastra lainnya, bahkan bisa dikatakan melebihi sastra-sastra lainnya. Disini kami akan mencoba membahas tentang Sufi-sufi itu mengekspresikan cintanya pada Sang Pencipta ‘cinta’, juga karangan sastra sufi yang sebagian telah disampaikan oleh Dosen kami, Bapak Abdul Hadi W.M.

PEMBAHASAN

  1. cinta sufi

Sufi mengapresiasikan cintanya tidak hanya kepada setiap orang yang dicintainya, akan tetapi juga kepada Tuhannya. Dan cinta Sufi kepada Tuhannya melebihi cintanya kepada yang lain. Ketika seorang sufi merasa bahwa dirinya hanyalah makhluk Allah yang kecil dia akan menggantungkan diri dan nmenyerahkan dirinya hanya kepada Allah semata. Cinta kepada Allah memiliki makna yang luas. Di antaranya ialah keimanan yang dalam dan kukuh, ketaatan menjalankan perintah agama dengan perasaan bebas, membuang semua kecenderungan kepada yang selain Dia dan mengisi kalbu dan fikiran hanya dengan ingatan sepenuhnya kepada Allah s.w.t. [3]

Tasawuf ialah bentuk kebajikan spiritual dalam Islam yang dikemas dengan filsafat, pemikiran, ilmu pengetahuan dan disiplin kerohanian tertentu berdasarkan syariat Islam. Jalan-jalan kerohanian dalam ilmu tasawuf dikembangkan dengan tujuan membawa seorang sufi menuju pencerahan batin atau persatuan rahasia dengan Yang Satu. Di sini jelas bahwa landasan tasawuf ialah tauhid. Menurut keyakinan para sufi, apabila kalbu seseorang telah tercerahkan dan penglihatan batinnya terang terhadap yang hakiki, maka ia berpeluang mendapat persatuan rahasia (fana’) dengan Yang Hakiki. Apabila demikian maka dia akan dapat merasakan pengalaman paling indah, yaitu hidupnya kembali jiwa dalam suasana baqa` (kekal). Ia lantas tahu cara-cara membebaskan diri dari kesementaraan alam zawahir (fenomenal) yang melingkungi hidupnya, serta merasakan kedamaian yang langgeng sifatnya.[4]

Cinta ruhani lebih hebat dari cinta yang kita pahami selama ini. Cinta ruhani adalah cinta mistikal. Tujuan cinta mistikal ialah mewujudkan kesatuan hakiki diantara para pencinta, Kekasih dan cinta. Cinta mistikal mengatasi sifat kemanusiaan, membimbing jiwa seseorang menghampiri Tuhan dan menyebabkan terbitnya perasaan bersatu dengan-Nya, serta merupakan perwujudan dari cinta ilahi. Tujuan lain dari cinta mistikal ialah mengenal hakekat cinta (makrifat).hakekat cinta sama dengan wujud Tuhan. Cinta sejati tidak memiliki tujuan dalam dirinya sendiri, kecuali mencintai itu sendiri. Menurut Ibn ‘Arabi dasar dan sebab dari cinta ialah keindahan. Karena itu keindahan pula yang dapat membawa kita dekat kepada Yang Maha Indah. Yang Maha Indah disebut juga Yang Maha Sempurna (kamal). sebagaimana manusia mencintai disebabkan keindahan-Nya, begitu pula Tuhan mencintai kita dan seluruh makhluk-Nya sebab kita adalah manifestasi dari keindahan yang dicintai-Nya. Keindahan Tuhan adalah sumber dari segala keindahan, baik keindahan ruhani atau intelektual.[5] Dan satu-satunya tempat cinta kita kepada Tuhan ialah hati. Hanya hati (kalbu) yang bisa mengenal Tuhan dengan dorongan cintaNya.

Ibn ‘Arabi juga menuangkan isi hatinya:

Piala cinta adalah hati pencinta, bukan pikiran atau peralatan indranya, oleh sebab hati turun naik dari keadaan yang satu kepada keadaan yang lain, seperti halnya Tuhan–yang adalah Kekasih–‘Tiap hari melaksanakan bermacam-macam pekerjaan dari kekasih secara terus menerus di dalam tindakan-tindakan-Nya. pencinta adalah seperti piala jernih dan murni yang mengalami pelbagai keadaan mengikuti ragam benda cair yang terkandung di dalamnya. Warna pencinta adalah warna Kekasih. Ini hanya berkenaan dengan Hati, sebab akal pikiran berasal dari alam kemutlakan.[6]

2. Mendekatkan Diri

Makrifat dapat dicapai dengan berbagai cara. Di antaranya dengan melakukan ritual keagamaan seperti sembahyang dengan khusyuk, latihan kerohanian yang berdisiplin, penyucian diri sepenuhnya di hadapan Kekasih (Allah), dan pengisian jiwa dengan pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan rohani. Seseorang yang mencapai makrifat akan menerima nur (cahaya) sesuai amal usahanya dan mendapat peringkat kerohanian yang ditetapkan baginya dalam mengenal kebenaran ilahi. Orang yang mengenal hakekat segala sesuatu akan memandang, dan bersikap terhadap dunia melalui penglihatan hatinya yang telah tercerahkan. Ia tidak lagi terpaku pada segala sesuatu yang bersifat embel-embel, sebab yang menjadi perhatiannya ialah yang hakiki. Ia tidak sibuk memikirkan dirinya dan hasratnya yang rendah, namun senantiasa asyik memandang wajah Sahabat atau Kekasihnya, yang Maha Pengasih dan Penyayang itu (al-rahman al-rahim). Kearifan menjadi rusak disebabkan dangkalnya pikiran, kesedihan yang berlarut-larut dan kebutaan pandangan terhadap hakekat ketuhahan. Mata orang arif terbuka kepada Yang Satu, bagaikan bunga tulip yang kelopaknya selalu terbuka kepada cahaya matahari.[7]

Pencapaian mak’rifah harus dilakukan dengan penuh perjuangan batin melawan kecendrungan nafsu rendah yang dapat membawa kita pada pengingkaran terhadap Yang Haqq. Ujung perjalanan melalui mujahadah disebut musyahadah, yaitu penyaksian secara batin bahwa Tuhan benar-benar satu, tiada kesyakan lagi terhadap-Nya. Jadi yang terbit dari keadaan musyahadah ialah haqq al-yaqin. Jiwa yang menerima keadaan rohani semacam itu disebut faqir, yaitu kesadaran tidak memiliki apa pun selain cinta kepada-Nya dan karenanya bebas dari kungkungan selain Dia.[8]

Ini tidak memaksudkan bahwa seorang faqir tidak memiliki perhatian terhadap yang selain Dia (Allah), yakni terhadap alam sekitarnya, dunia dan sesamanya, tetapi semua itu dilihat dengan mata hati yang terpaut kepada Dia semata (selain Allah adalah hanya merupakan manifestasi dari-Nya). Dengan demikian seseorang tidak hanya akan terpaku oleh penampakan zahir kehidupan (yang terlihat atau terasa bukan oleh nurani), tanpa melihat hakekat dan hikmah yang dikandung dalam semua peristiwa dan kejadian.

  1. Sekilas tentang Rabi’ah al-Adawiyah

Nama Rabi`ah al-Adawiyah adalah Ummi al-Khayr Rabi`ah binti Ismail al-Adawiyah. Dia berasal dari keluarga yang sangat miskin di Basra, Iraq bagian selatan . Sejak kecil beliau tinggal di Basra. Di kota ini namanya sangat masyhur sebagai seorang wanita saleh dan suci, serta mempunyai banyak anak murid dan pengikut. Beliau juga masyhur sebagai pengkhutbah dan penulis syair-syair sufi. Beliau meninggal di Basra pada tahun 185 H atau 801 M, yaitu pada masa akhir pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid.

Ketika kecil, Rabi`ah dikenal sebagai penyair dan penyanyi. Namun pengalaman hidupnya sangatlah pahit. Dia tumbuh sebagai wanita berwajah cantik yang sering dikejar para lelaki dan pernah hendak dirogol, sehingga dia berusaha untuk merubah jalan hidupnya. Rabi’ah memilih jalan zuhud dan berjuang dalam mempelari tasawuf. Selama hidupnya, Rabi`ah tidak pernah berkahwin. Dalam sejarah tidak ditemukan literatur yang menyatakan bahwa Rabi’ah membina sebuah keluarga. Sumbangan Rabi’ah sangatlah besar terhadap perkembangan tasawuf, terutama melalui gagasannya tentang cinta mistikal.

Puisi-puisi Rabi`ah kebanyakannya berbentuk munajat, iaitu sajak-sajak dengan ungkapan bersahaja mirip doa, namun memiliki makna yang dalam. Riwayat hidup, kesufian dan kepenyairannya ditulis dalam banyak buku. Juga banyak dari ajaran-ajarannya yang dijadikan pegangan langsung oleh pengikutnya.

Di antara ajaran Rabi`ah yang disampaikan kepada para pengikutnya ialah: (1) Jangan membesar-besarkan amal perbuatan atau jasa baik yang kita lakukan, lebih baik menyembunyikannya sebagaimana kita gemar menyembunyikan amal buruk dan kesalahan-kesalahan kita. Membesar-besarkan amal baik dan jasa dapat menimbulkan riya` atau sombong; (2) Rabi`ah mengajarkan kepada pengikut-pengikutnya agar tidak gemar mencari kesalahan orang lain. Seorang sufi mesti menumpukan perhatian kepada kelemahan dan kesalahan sendiri, untuk secara bertahap dibetulkan. Ini tidak bermakna sufi tidak boleh menyampaikan kritik sosial; (3). Orang bertaubat apabila mendapat hidayah atau petunjuk Tuhan. Agar seseorang mendapat hidayah dan kesadaran bertobat, maka dia harus mendekatkan diri kepada Tuhan secara terus menerus; (4).Untuk mendapat ridha Allah manusia mesti ridha dalam melaksanakan perintah agama-Nya; (5). Ketaatan kepada Tuhan jangan dilaksanakan demi tujuan memperolehi pahala atau diperkenankan masuk ke dalam syurga, dan juga jangan karena disebabkan rasa takut masuk ke dalam neraka. Seorang sufi mentaati perintah Tuhan karena benar-benar mencintai Tuhan dan rindu untuk bersatu dengan-Nya.[9]

Rabiah menyatakan bahwa seseorang yang taqwa terhadap Tuhan tidak perlu mengharapkan syurga didasarkan atas kenyataan, sebagaimana digambarkan beliau dalam sajaknya:

Dalam batin kau durhaka kepada-Nya

Hanya secara lahir kau mengucap Cinta

Sungguh ganjil kenyataan ini

Apabila cintamu kepada-Nya tulus dan murni

Kau tentu mentaati perintah-Nya

Karena cinta sejati ialah patuh

Dan mau mengabdi kepada Yang Dicintai[10]

Setiap kali Rafi’ah ditanya mengapa seseorang yang taqwa terhadap Tuhan tidak perlu mengharapkan syurga, Rabi’ah selalu menjawab dengan sajak-sajak indah. Pun ketika bliau ditanya oleh sufi Sufyan al-Tawri. Bliau menjawabnya dengan sebuah puisi.

Kumiliki dua cinta kepada-Mu

Cinta disebabkan diriku rindu

Dan cinta kerana hanya Kau yang pantas dicinta

Cinta disebabkan rindu ialah kerana hanya Kau

Yang sentiasa kuingat bukan selain Kau

Cinta kerana hanya Kau yang pantas dicinta

Ialah cinta yang menyebabkan Kau

Menyingkap hijab sehingga Kau nyata kepadaku

Segala pujianku tidak untuk siapa pun

Melainkan untuk-Mu semata[11]

Rabi’ah sering sekali ketika bangun malam dan bersujud mengungkapkan puisi-puisi yang berisikan gambaran-gambaran hatinya yaitu cinta yang meluap-luap terhadap Rabb-nya.

Dalam Thadkira al-`Awliya karangan Fariduddin `Attar ada dimuat doa Rabi`ah yang terkenal, yang bermaksud:

Ya Allah, segala yang akan Engkau kurniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu, dan segala yang akan Engkau kurniakan kepadaku di akhirat kelak, berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu, karena Engkau sendiri sudah mencukupi untukku. Ya Allah, apabila aku menyembah-Mu kerana takut api neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan apabila aku menyembah-Mu karena mengharap syurga, halaulah aku darp pintu sorga; namun apabila aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihat keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.Ya,Allah, semua jerihpayahku dan semua hasratku di antara segala kesenangan dunia ini ialah untuk mengingat Engkau. Dan di akhirat kelak, di antara segala kesenangan akhirat ialah untuk berjumpa dengan-Mu. Begitulah halnya dengan diriku, seperti yang telah kukatakan. Kini jadikanlah aku seperti yang Engkau kehendaki![12]

  1. Puisi Sufi

Dunia jangan kau taruh,

Supaya hamper mahbub yang jauh,

Indah segala akan kalah-kaluh,

Ke dalam api pergi berlabuh.

Hamzah miskin hina dan karam,

Bermain mata dengan Rabul Alam,

Selamanya sangat terlalu dalam,

Seperti mayat sudah tertanam.

Allah maujud terlalu bagi ,

‘ari enam jihad kenahinya cali,

Wa huwal Auwalu sempurna ‘ali,

Wa Huwal Akhiru daim nurani.

Nurani itu hakikat kahatam,

Pertama terang di laut dalam,

Menjadi makhluk sekalian alam,

Itulah bangsa Hawa dan Adam.

Tertentu awal suatu cahaya,

Itulah cermin yang mulia raya,

Kelihatan sdi sana miskin dan kaya,

Menjadi dua Tuhan dan sahaja.

Nurani itu terlalu zahir,

Bernama Ahmad dari cahaya satir,

Penjuru alan keduanya hadir,

Itulah makna awal dan akhir.[13]

Sajak-sajak ini sangatlah indah sehingga ketika kita membaca dan mencerna arti yang terkandung akan terasa ketenangan bagi jiwa ini.

PENUTUP

Ini sekilas tentang pemikiran-pemikiran yang dituangkan oleh para sufi sekaligus karya-karya agung yang diperuntukkan bagi kita untuk mengajarkan kepada kita tentang cinta yang dalam terhadap Rabb. Semoga paper ini bisa mendatangkan manfaat bagi semua.

REFERENCE

Ahmad, Ali & Siti Hajar Che’Man, Sastra Melayu Warisan Islam. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. 1996.

W. M. Abdul Hadi. Tasawuf yang Tertindas. Jakarta. PARAMADINA. 2001

W. M. Hadi. Mata kuliah Seni dan Sastra Islam ICAS-PARAMADINA


[1] Abdul Hadi W.M. Puisi-puisi Sufi Arab. Paper mata kuliah Seni dan Sastra Islam ICAS Paramadina

[2] Dr. abdul Hadi W.M., Tasawuf yang Tertindas, Jakarta, PARAMADINA, 2001, hal 11.

[3] Ibid.

[4] Abdul Hadi W.M. cinta ilahi dalam tasawuf Menurut fariduddin `attarDalam “mantiq al-tayr” Paper mata kuliah Seni dan Sastra Islam ICAS Paramadina.

[5] Dr. Abdul Hadi W. M., Tasawuf yang Tertindas, hal 58.

[6] Ibid, hal 59

[7] Dr. Abdul Hadi W. M., Mata Kuliah Sastra Islam (6) “Mantiq al-Tayr” Alegori Sufi Fariduddin al-`Attar.

[8] Dr. Abdul Hadi W. M., Mata Kuliah Sastra Islam

[9] Dr. Abdul Hadi W. M., Kuliah Sastra Islam (5)ICAS Paramadina “Puisi-puisi Sufi Arab”

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ali Ahmad & SWiti Hajar Che’Man, Sastra Melayu Warisan Islam, 1996, hal 215-216.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: