Murthada Muthahhari


Kilas Balik Perjalanan Hidup Muthahari

 

Malam menjelang larut ketika salah seorang pengurus Dewan Revolusi Islam, Iran, keluar dari rumah DR. Yadullah Sahabi, tanggal 1 Mei 1979, sehabis memimpin rapat. Sebelumnya, berjalan bersama para ulama yang menghadiri rapat, kemudian di tikungan menuju tempat mobilnya diparkir dia berpisah dengan rombongan kecil ini. Suasana lengang, menjadikannya buruan empuk dalam sasaran tembak salah seorang anggota kelompok Furqon yang telah mengintainya. Sebuah letupan senjata api mengiringi terjangan peluru dari belakang  yang menebus kepalanya. Tubuh orang ini bersimbah darah, tak terselamatkan meski ada upaya pertolongan dari kawan-kawannya yang ada di tempat kejadian. Korban penembakan kejam ini adalah Murthada Muthahhari, seorang faqih, filosof, teoritikus ekonomi, pakar gender, dan politikus mumpuni Iran, yang bersama Ayatullah Khomeini memiliki andil besar pada jatuhnya kepempinan otoritarian Syah Khan. Di usianya yang ke-59 Muthahari tutup usia, mengakhiri kiprahnya dalam belantika kehidupan politik dan akademiknya di Iran yang dimulainya 30 tahun sebelum kematiannya, sejak pertemuan awal dalam kuliah yang diberikan Imam Khomeini.

 

Jauh sebelum peristiwa berdarah ini terjadi, di sebuah kota kecil di Khurasan, Fariman, tanggal 2 Februari seorang bayi laki-laki lahir dalam keluarga Ayatullah Syeikh Muhammad Husain Muthahhari, tiga tahun sebelum Shah Khan mengibarkan panji-panji kediktatoran yang 59 tahun kemudian digulingkan oleh Dewan Revolusi yang dimotori Imam Khomeini. Bayi itu di kemudian hari dikenal sebagai Murthada Muthahhari, tangan kanan Imam Khomeini pada masa-masa revolusi Iran.

 

Muthahari mulai mengenyam dunia pendidikan formalnya di Mashhad ketika berusia 12 tahun, setelah menerima pelajaran penting dasar agama melalui bimbingan ayahnya, Ayatullah Syeikh Muhammad Husein Muthahhari. Di tempat ini, Muthahhari belajar tentang dasar-dasar Bahasa Arab, filsafat, teologi, dan tasawuf (irfan). Di sini pulalah ia mendapatkan pengajaran filsafat yang diberikan Mizra Mahidi Syahidi Razavi. Pada masa ini, seperti yang dikatakan Mahmoood T. Davari, setelah dua tahun berada di Mashhad, kota ini tidak lagi kondusif bagi alam pemikiran dan pembelajaran karena tekanan Reza Khan yang kebarat-baratan dengan ide-ide sekularisme yang diterapkannya, pertama-tama dengan penyeragaman pakaian kaum lelaki dan pelarangan penggunaan kerudung.(Mahmood T. Davani, 2005:hal 12).

 

Setelah empat tahun belajar di Mashhad, atau masa satu tahun setelah kematian guru filsafatnya tersebut, Muthahhari kemudian pindah ke Qum, memperdalam keilmuannya di bawah bimbingan Ayatullah Sayid Muhammad Damad, Sayyid Muhammad Riza Gulpaygani, Haji Sayyid Sadr al-Din Shadr, dan Ayatullah Burujerdi sebelum belajar pada Imam Khomeini. Dari sejumlah ulama besar itu Muthahhari belajar fiqh dan ushul fiqh. Sedangkan pada Ayatullah Burujerdi pengganti Syaikh Abdul Karim Ha’iri—reconstructor of Qum  Seminary—Muthahhari kembali mendapatkan pelajaran mengenai filsafat, irfan, dan fiqh.

 

Sosok penting lain selain Burujerdi di Qum bagi Muthahhari Ayatullah Sayyid Muhammad Husein Thabathabai, yang oleh Hamid Algar dikatakan sebagai seorang filosof sekaligus mufasir agung dengan magnum-opus-nya, kitab tafsir al-Mizan, yang terbagi sebanyak 20 jilid. Thabathabai dikenal memiliki beberapa karya filosofis yaitu Bidayah al-Hikmah dan Nihayah al-Hikmah, serta Usus-e Falsafeh wa Rawisy-e Rialism (Dasar-dasar Filsafat dan Mazhab Realisme) yang menurut hemat penulis menjadi salah satu pegangan Muthahhari dalam melancarkan serangan kritik pada materialisme.

 

Sosok ideal kedua dalam perjalanan hidup Muthahhari adalah Imam Khomeini. Padanya pertama-tama Muthahari belajar tentang etika, ajaran-ajaran mistik dan praktek perjalanan spiritual.  Dan kemudian turut serta pada kuliah filsafat di tahun 1946 ketika Imam Khomeini mulai memberikan kuliah pada sekelompok kecil siswa, dengan mempelajari dua teks utama filsafat, asfar al-Arba’ah Mulla Sadra dan Syarh-i Manzuma-nya Mulla Hadi Sabzawari. Imam Khomeini kemudian tidak hanya mengajarkan pada dua hal tersebut, atas desakan Muthahhari dan Muntazeri Imam Khomeini juga memberikan kuliah fiqh dan ushul, dengan teksnya adalah bab hujah-hujah rasional dari jilid kedua Kifayat al-Ushul karangan Akhund Khurasani.

 

Mirza Ali-Aqa al-Shirazi (d. 1957) adalah sosok ideal ketiga yang membimbing Muthahhari, seorang Mudarris Madrasah-yi Sadr di Isfahan. Di madrasah ini Ali-Aqa al-Shirazi mengajarkan teologi, hukum, Fisika, dan kritik sastra. Selain sebagai seorang ahli studi Islam, dia juga seorang dokter tradisional yang terkadang juga mengajarkan ­al-Qanun karya Ibn Sina. Tokoh ini menjaddi sosok ideal bagi Muthahhari karena nahj al-Balaghah yang diajarkannya, selain itu juga karena sosoknya yang memiliki gaya emosi dan ekspresi yang bersih.( Mahmood T. Davani, 2005: hal. 17)

 

Aktivitas Intelektual Muthahhari

Setelah hampir 16 tahun bergelut dalam dunia akademisi di Qum, pada tahun 1952 Muthahhari hijrah ke Teheran. Menikahi puteri Ayatullah Ruhani, dan mengajar filsafat di Madrasa-yi Marvi.

 

Pada tahun 1954 Muthahhari diminta mengajar filsafat di Universitas Teheran. Ia membaktikkan diri pada universitas ini selama satu dasawarsa.

 

Di tahun 1960 Muthahhari menjadi pemegang kepemimpinan sekelompok ulama Teheran yang dikenal dengan Masyarakat Keagamaan Bulanan (Anjuman-i Mahayi Dini). Sebuah kelompok diskusi yang melakukan kuliah-kuliah umum bulanan dalam rangka memaparkan relevansi islam di kalangan ulama. Materi kuliah yang digunakanpun dicetak dan diberi judul, Guftar-i-mah.

 

Aktivitas intelektual Muthahhari mau tidak mau harus diakui berujung pada produktivitasnya dalam menulis. Hamid Algar menyatakan bahwa; “Sejak menjadi Mahasiswa di Qum sampai tahun kematiannya, Muthahhari seperti tidak mau berhenti untuk berkarya melalui tulisan. Baik-baik karya-karya filsafat maupun bidang keilmuan yang lain, juga tentang hak-hak perempuan.”[1]

 

Karya-karyanya yang lebih dari 60 buah dan kebanyakan telah diterjemahkan baik dalam bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia, di antaranya adalah A Discourse in the Islamic Republic, Al-Adl al-Ilahiy, Akhlaq, An Introduction to Ilm Kalam, Attitude and Conduct of Prophet, the Concept of Islamic Republic, Happiness, Kenabian Terakhir, Logika, al-Maqalat al-Falasifah, Philosophy, Hak-hak Wanita dalam Islam, dan Memahami al-Qur’an.

 

Pandangan Islam Modern Menurut Muthahari

Dalam pandangannya intelektuasasi adalah hal penting yang harus ditanamkan dalam diri setiap umat Islam. Tentang hal ini Dr. Haidar Bagir juga menyatakan bahwa Muthahari melihat bahwa berfikir, melakukan perenungan, dan pemahaman intelektual adalah tujuan hidup seorang muslim. Dan jelasnya, intelektualisasi dalam kacamata Muthahhari adalah sebuah jalan yang tidak bertentangan dengan agama atau wahyu. Dalam hal ini Muthahari nampak berbeda pandang dengan para filosof terdahulu, seperti  al-Farabi (870-950), Ibnu Sina (980-1037), dan Ibnu Rusyd (1126-1198) yang melihat bahwa filsafat memiliki hakikat kebenaran yang berdiri sendiri selain adanya kebenaran agama. Berbeda dengan mereka Muthahhari antara keduanya tidaklah ada secara terpisah. Ketika para filosof sibuk dengan upaya untuk memadukan filsafat dan agama, maka Muthahhari cukup menyatakan bahwa filsafat adalah alat dan metode dalam praktek berfikir yang digunakan untuk memahami dasar agama.

Mungkin Muthahhari jenuh melihat “pertikaian” berlarut antara dua kubu pendukung agama dan filsafat (akal dan wahyu), padahal jelas-jelas menurut dia antara keduanya tak perlu di-dikotomikan sedemikain rupa. Di dalam al-Qur’an pun menurut Muthahhari berulang kali memerintahkan manusia untuk mengaktifkan nalarnya. Seperti dalam surat 8:22) bahwa Allah berfirman bahwa; “Sesungguhnya makhluk yang paling rendah bagi Allah adalah orang-orang yang tuli, bisu, serta tidak bernalar.” (Muthahhari, 1986: hal. 39). Dikotomi antara akal dan wahyu yang selam ini terjadi haruslah dihilangkan, tantang zaman ke depan akan nampak lebih berat. Dan lagi-lagi Muthahari menekankan pada tujuan hidup seorang muslim, yaitu intelektualisasi pada diri mereka untuk dapat mewujudkannya.

Isu menarik terkait Muthahhari dalam kacamata kemodernan adalah kritiknya terhadap marxisme dan materialisme. Muthahhari sendiri mulai membaca karya-karya marxis ketika ia ada di Qum, mulai tahun 1946, melalui literatur-literatur yang diterbitkan partai Tudeh. Yang kala itu gencar menyebarkan paham marxisme di Iran. Melihat sepak terjang kaum Marxis dan kegagalan-kegagalan yang dialami mereka, menurut Muthahhari paham ini tidaklah sesuai dengan Islam. Selain marxisme, materialisme juga menjadi arus penting yang juga mendiami khazanah pikiran orang-orang di Iran. Tentang materialisme di sini menurut Muthahhari adalah pendapat yang menegaskan bahwa tidak ada satu wujud di alam ini kecuali bermetamorfosis dan terikat dengan ruang dan waktu, jelas ini segala sesuatu yang bersifat materi.(Muthahhari, 2001:18). Dan lagi-lagi ini tidaklah sesuai dengan Islam, bahkan agama-agama di dunia. Oleh karena itu Muthahhari menegaskan bahwa Islamlah yang dapat menjadi jalan tepat, yang oleh Dr. Haidar Bagir dikatakan sebagai sebuah pandangan yang dipertanggung jawabkan. Namun terlebih dahulu, pertama, umat Islam harus melakukan intelektualisasi pada dirinya, selain juga tidak meninggalkan petunjuk-petunjuk agamanya. Dan yang kedua, masih menurut Dr. Haidar Bagir bahwa Muthahhari melihat bahwa umat Islam harus memunculkan juga kesadaran akan perlunya suatu landasan yang kuat dan koheren bagi pembangunan sistem-sistem Islam di berbagai bidang kehidupan, termasuk di dalamnya sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, dan sebagainya.

Masih da Lanjutannya…………..

Bahan Bacaan

Bagir, Haidar, Membincang Metodologi Ayatullah Murtadha Muthahhari, www.icas-indonesia.org

Mahmood T. Davani, the Political Thought of Ayatullah Murtaza Mutahhari, London: Routledge Curzor, 2005

Muthahhari, Murtadha, Memahami al-Qur’an, Jakarta: Bina Tauhid, 1986

__________________, Kritik Islam terhadap Materialisme, Jakarta: Al-Huda, 2001

Murthada Muthahari, Mengenal Irfan Meniti Maqam-maqam Kearifan, pengantar Hamid Algar, hal. xxi-xxii

__________________, Kumpulan Artikel Pilihan, Jakarta: Lentera, 2003

 

 



[1] Murthada Muthahari, Mengenal Irfan Meniti Maqam-maqam Kearifan, pengantar Hamid Algar, hal. xxi-xxii.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: