Subjektivisme


By Nanik, Dkk

PENDAHULUAN

Keadaan bumi ini tidaklah sama, ada yang tinggi ada yang rendah, ada yang subur ada yang gersang, ada yang basah ada yang kering. Iklimnya pun ada yang panas, ada yang dingin, dan lain-lain. Keadaan alam yang pada dasaranya tidak sama itu mempengaruhi keadaan fisik,  mental, budaya serta cara hidup.  Karena berbagai faktor, manusia itu berbeda-beda, berbeda karena alam yang mempengaruhinya, berbeda karena faktor keturunan yang dibawa dari orang tua, serta berbeda karena pengalaman, pendidikan, serta sejarah hidupnya.

Peribahasa mengatakan, “lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya”. Oleh karena masyarakat dan budayanya berbeda-beda, maka tidak ada standar norma universal[1] ataupun objektif, yang dapat diberlakukan bagi semua orang di seluruh dunia. Karena apa yang dinilai baik dan buruk, benar dan salah oleh seseorang belum tentu dinilai baik dan buruk, benar dan salah oleh orang lain. Bahkan, pada lingkungan yang pada dasarnya mirip, apa yang kenyataanya dianggap baik dan buruk, benar dan salah, dapat saja berbeda. Karena tidak ada standar norma yang sama dan berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia, tidak selayaknya seseorang merasa bahwa dirinya lebih tinggi atau lebih rendah daripada orang lain.

Dari adanya perbedaan manusia, masyarakat, bangsa dengan keadaan fisik, mental, kultural dan lain-lainnya ini, muncullah sebuah faham yang sering kali dikenal dengan sebutan “subjektivisme”. Pada pembahasan kali ini, subjektivisme lebih dikhususkan pada ranah filsafat moral.  

 

SUBJEKTIVISME

Sebelum beranjak kepada pembahasan mengenai subjektivisme, terlebih dahulu kami akan memberikan sedikit gambaran mengenai “subjektif”. Subjektif mengacu kepada apa yang  berasal dari pikiran (kesadaran, ego, diri, persepi-persepi kita, putusan pribadi kita) dan bukan dari sumber-sumber objektif,  hanya individual yang tahu.  Subjektif sering dipakai untuk menunjukkan pencapaian putusan-putusan yang didasarkan pada alasan-alasan emosional atau prasangka.[2]

Subjektivisme atau yang terkadang sering juga dikenal dengan “sebutan relativisme individual atau relativisme subjektif” ini[3], adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa setiap individu berhak menentukan kaidah moralnya sendiri. Meskipun, kaidah moral kebanyakan individu dalam masyarakat tertentu pada praktiknya terlihat sama, karena kemungkinan mereka mempunyai pengalaman kultural yang sama. Yaitu, yang berpendirian bahwa penilaian baik-buruk dan benar-salah tergantung pada masing-masing orang.

Subjektivisme  berpendapat bahwa tidak ada fakta-fakta “moral”.  Meskipun putusan-putusan tersebut pada mulanya terlihat benar atau salah secara objektif, yaitu benar atau salah terlepas dari apa yang diyakini atau diinginkan banyak orang.

Subjektivisme berpendapat bahwa pilihan-pilihan individu menentukan validitas sebuah prinsip moral. Slogannya adalah “Moralitas bersemayam di mata orang yang melihatnya”. Sebagai contoh, “menghormati orang tua” itu baik karena orang yang menilainya menyetujui demikian, atau “mengambil hak milik orang lain” itu jahat karena orang yang menilainya menganggapnya demikian. Jadi, baik dan buruk itu ditentukan oleh kecocokan orang yang menilainya, tapi tidak ada dasar objektif dan rasional untuk membenarkan serta menyalahkan. Penilaian dan keputusan etis yang menentukan adalah orang yang membuat penilaian dan keputusan. Oleh karena itu, dapat saja penilaian etis orang tentang suatu perkara yang sama berbeda, tetapi perbedaan penilaian itu sah-sah dan baik-baik saja.

Menurut relativisme subjektif, dalam masalah etis, emosi, dan perasaan berperan penting. Oleh karena itu, pengaruh emosi dan perasaan dalam keputusan moral harus diperhitungkan. Yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah tidak dapat dilepaskan dari orang yang bersangkutan dan menilainya

Perbedaan itu tidak hanya menyangkut perbedaan fisik, tetapi juga mental, moral, religius dan lain sebagainya. Menurut kaum relativisme  subjektif, karena setiap individu manusia itu berbeda, maka berbeda pula dalam penilaian dan keputusan etisnya. Yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah bukanlah perkara yang berdiri sendiri, melainkan berhubungan erat, bahkan bergantung pada orang yang menilainya.

Kelebihan dari relativisme  subjektif adalah kesadarannya bahwa “manusia itu unik dan berbeda satu sama lain”. Karena itu, setiap orang menanggapi lika-liku hidup dan menjatuhkan penilaiannya atas hidup secara berbeda pula. Dengan cara itu, manusia dapat hidup sesuai dengan tuntutan situasinya. Ia dapat menetapkan apa yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah menurut pertimbangan dan pemikirannya sendiri. Dengan demikian, bukan hanya individu manusia itu sendiri saja yang berbeda dan unik, tetapi juga berbeda dan unik  dalam hidupnya.

Dalam hal ini, subjektivisme terbagi dalam beberapa jenis, diantaranya adalah:

1.                  Subjektivisme etis

Subjektivisme etis adalah teori tentang sifat penilaian moral, bukan teori tentang perbuatan baik dan buruk. Apapun yang kita katakan adalah ungkapan tentang perasaan-perasaan personal dan individual, dan tidak lebih dari pada itu. Jadi, apapun sikap moral kita, tidak ada sangkut pautnya dengan kebenaran dan kesalahan, bahkan tidak berhubungan dengan fakta.

Berkaitan dengan subjektivisme ini, J.A. Boss berpendapat :”Ethical subjectivism, also known as individual relativism, make the claim that people can never be mistaken about what is morally right or wrong, because there are no objective or universal moral standards or truths; instead, there are only opinions.

2.                  Subjektivisme sederhana

Subjektivisme sederhana berpendapat bahwa putusan-putusan moral merupakan proposisi tentang perasaan, keyakinan, atau sikap terhadap individu maupun kelompok. Aliran ini disebut dengan “subjektivisme sederhana”, karena meyakini pemikiran dasar tentang subjektivisme dalam bentuk yang tidak rumit. Subjektivisme sederhana menyatakan bahwa ketika seseorang menyebutkan bahwa sesuatu itu baik atau buruk secara moral, maka yang dimaksudkannya ialah bahwa ia “setuju” atau “tidak setuju” terhadapnya. Sebagai contoh misalnya, “menolong orang itu baik”, hal itu dianggap benar hanya jika  individu-individu yang bersangkutan menerimanya, atau paling tidak memiliki keyakinan atau sikap yang pantas terhadap hal tersebut.

Berdasarkan teori etika subjektivistik, proposisi moral merupakan ungkapan tentang apa yang dirasakan atau diyakini orang tentang masalah-masalah moral, sehingga proposisi moral seseorang boleh jadi sama benarnya dengan proposisi orang lain. Putusan moral itu hampir sama dengan putusan terhadap apa yang disukai orang, seperti warna ataupun rasa yang digemari. Salah satu persoalan penting dalam subjektivisme sederhana adalah bahwa ia memandang moralitas dan pujian atau celaan moral tidak berguna sama sekali. Dengan kata lain, subjektivisme menyiratkan bahwa secara moral kita mustahil salah, selama kita melakukan apa yang kita sukai.

 

KESIMPULAN

Dari sedikit pemaparan di atas, sekiranya dapat diambil sedikit kesimpulan bahwasanya dalam subjektivisme, pada dasarnya menerima akan adanya baik ataupun buruk, namun, konsep tersebut tidaklah dijadikan sebagai suatu ketetapan untuk menghukumi sesuatu, melainkan hanya dianggap sebagai ungkapan-ungkapan moral semata. Dan, konsep-konsep baik ataupun buruk tersebut, hanya ada dalam masing-masing individu.

Everyone is special in their own way, we make each other strong, we’re not the same we’re different in a good way.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Shomali, Mohammad A. Relativisme Etika. Serambi. Jakarta: 2005.

 

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 1996.

 

Diktat-diktat Filsafat Moral

 

Isme-isme Etika dari A-Z.



[1] Apa yang menyangkut keseluruhan dari suatu kelas secara objektif atau secara distributif. Bisa juga disebut suatu pernyataan umum  atau generaliasi (perampatan) sejumlah hal yang cukup besar, sebagaimana dilawankan dengan sesuatu pernyataan tentang beberapa hal.

[2] Lihat Loren Bagus. Kamus Filsafat. Jakarta. 1996. hlm. 1046.

[3] Pojman (1996, hlm. 690 dan 1998, hlm. 16-18). Lihat Mohammad A. Shomali. Relativisme Etika. Jakarta: Serambi. 2001. hlm. 35.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: