Jamaluddin al-Afghani


By

Zaenal Abidin & R.M. Joko Prawoto

Pendahuluan

Abad ke 19 hingga abad ke 20 merupakan suatu momentum dimana umat Islam memasuki suatu gerbang baru, gerbang pembaharuan. Fase ini kerap disebut sebagai abad modernisme, suatu abad dimana umat diperhadapkan dengan kenyataan bahwa Barat jauh mengungguli mereka. Keadaan ini membuat berbagai respon bermunculan, berbagai kalangan Islam merespon dengan cara yang berbeda berdasarkan pada corak keislaman mereka. Ada yang merespon dengan sikap akomodatif dan mengakui bahwa memang umat sedang terpuruk dan harus mengikuti bangsa Barat agar dapat bangkit dari keterpurukan itu. Ada pula yang merespon dengan menolak apapun yang datang dari Barat sebab mereka beranggapan bahwa itu diluar Islam. Kalangan ini menyakini Islamlah yang terbaik dan umat harus kembali pada dasar-dasar wahyu, kalangan ini kerap disebut dengan kaum revivalis.

Berbagai nama tokoh pun segera tampil dalam ingatan ketika disebutkan tentang abad modernisme Islam yang ditandai dengan dominasi Eropa ini. Dominasi Eropa atas dunia Islam, khusunya di bidang politik dan pemikiran ini ditanggapi dengan beragam cara sehingga melahirkan kalangan modernis dan fundamentalis. Modernisme cenderung akomodatif terhadap ide Barat meskipun kemudian mengembangkan sendiri ide-ide tersebut, sedangkan fundamentalisme menganggap apa–apa yang datang dari Barat adalah bukan berasal dari Islam dan tak layak untuk diambil. Fundamentalisme merupakan suatu paham yang lahir atau besar setelah fase modernisme.

Berbicara abad pembaharuan dalam Islam, maka tak lepas dari seorang tokoh yang merupakan sosok penting dalam pembaharuan Islam, al-Afghani, seorang pembaharu yang memiliki keunikan, kekhasan, dan misterinya sendiri. Berangkat dari pembagian corak keIslaman di atas, Afghani menempati posisi yang unik dalam menanggapi dominasi Barat terhadap Islam. Di satu sisi, Afghani sangat moderat dengan mengakomodasi ide-ide yang datang dari Barat, ini dilakukannya demi memperbaiki kemerosotan umat. Namun di lain sisi, Afghani tampil begitu keras ketika itu berkenaan dengan masalah kebangsaan atau mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keIslaman. Alhasil Afghani memijakkan kedua kakinya di dua sisi berbeda, ia seorang modernis tapi juga fundamentalis. Agaknya tepat apa yang dikatakan Black bahwa afghani adalah puncak dari kalangan modernis dan fondasi bagi kalangan fundamentalis(Black,2006:550).

Pada makalah sederhana ini kami akan paparkan sedikit tentang Afghani, hal yang berkenaan dengan jati diri beliau, sekilas pemikiran beliau, kiprah politik, dan hal lain yang serba sedikit sebab makalah ini tak cukup representativ jika harus mewakili keseluruhan pemikiran dan sepak terjang beliau yang begitu fenomenal.

Sekilas tentang Afghani

Dilahirkan di Asad abad pada tahun 1838[1], yakni sebuah distrik di Iran, Jamaluddin al-Afghani lahir sebagai seorang pembaharu dalam dunia Islam. Ia adalah anak dari sayyid Safder yang memiliki hubungan darah dengan seorang perawi hadist tekenal, Imam at-Tirmidzi yang selanjutnya terhubung dengan sayyidina Ali bin Abi Thalib. Masa remajanya banyak ia habiskan di Afghansitan. Ia adalah anak yang cerdas. Sejak umurnya 12 tahun ia telah hafal al-Qur`an, kemudian saat usianya menginjak 18 tahun ia sudah mendalami berbagai bidang ilmu keislaman dan ilmu umum. Al-Afghani dikenal sebagai orang yang menghabiskan hidupnya hanya demi kemajuan islam. Ia rela beranjak dari suatu negara ke negara lainnya demi menyuarakan pemikiran-pemikiran revolusionernya, tentunya demi mengangkat posisi dan martabat Islam yang jauh tertinggal dari dunia barat.

Di zamannya Islam berada di bawah bayang-bayang imperialisme Barat. Kondisi masyarakat muslim yang jauh dari Islam, menurutnya adalah salah satu penyebab utama kemunduran dunia Islam. Fanatisme yang masih kental kala itu, belum lagi dengan tidak adanya rasa persaudaraan di antara sesama muslim yang berkonsekwensi pada minimnya rasa solidaritas menjadikan masyarakat muslim rentan terhadap perpecahan.

Pemikiran

Tidak adanya kebersatuan di antara umat muslim merupakan titik strategis yang digunakan oleh kolonialisme Barat untuk menjajah dan sedapat mungkin mengeruk kekayaan negara-negara Islam. Lemahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan umat terhadap ilmu-ilmu Islam sendiri bahkan dan juga ilmu-ilmu lainnya menjustifikasi bahwa semangat intelektual yang sangat diagung-agungkan oleh Islam pudar kala itu.

Dengan segenap kesadaran dan semangat intelektual serta tanggung jawab sebagai seorang muslim, ia hadir demi menegakkan nasionalisme, patriotisme serta yang paling utama adalah izzul (kemuliaan) Islam. Ia berusaha menyadarkan masyarakat muslim yang masih sakau dalam mengenang kejayaan Islam di masa lalu, padahal dihadapan mereka berdiri kekuatan besar imperialisme Barat yang telah menghadang. Menurutnya, sudah selayaknya Islam bangkit dan melakukan gerakan intelektual ke depan mengikuti gerak pengetahuan modern.

Diperlukan perubahan radikal dalam pandangan umat, kecenderungan kepada keyakinan tradisional yang kaku harus ditransformasi pada keterbukaan pikiran dan rasionalisme yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. Labih lanjut Al-Afghani menekankan akan semangat pengetahuan yang kala itu sedang redup di dunia Islam, dan malah bersemi di dunia Barat. Semangat yang ada di dunia Barat ini selaras dengan nilai-nilai Islam sejati yang seharusnya juga bersemi di kalangan masyarakat muslim.

Dengan demikian demi terealisasinya keinginanya dalam memajukan islam, setidaknya terdapat dua keadaan yang mesti dilakukan oleh umat muslim. Pertama, perubahan radikal signifikan dalam pola pikir mengenai ilmu pengetahuan dari yang sebelumnya bercirikan kekakuan kepada keterbukaan dan rasionalisme. Kedua, perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan yang dilakukan oleh imperialisme Barat.

Berkenaan dengan keadaan yang kedua, hal ini dapat kita lihat dari berbagai aktivitas yang ia lakukan, baik melalui tulisan-tulisannya atau pun melalui dakwah-dakwah yang ia sampaikan di berbagai belahan negara. Pada setiap negara yang ia pernah tinggal di sana, ia selalu menyerukan nasionalisme ~terlepas dari agama yang dianut oleh suatu negara~. Di India misalnya yang kala itu sedang mengalami kondisi kritis ~yakni berada di bawah kolonialisme Inggris~, ia lebih mendukung nasionalisme urdu ketimbang Islam, karena tidak ada kebahagiaan selain dalam kebangsaan, dan tidak ada kebangsaan selain dalam bahasa.[2] Dengan demikian yang menjadi inti dari seruannya adalah perlawanan terhadap imperialisme barat.

Pun demikian di Afghanistan dan Mesir yang juga berada di bawah imperialisme barat, yakni Inggris. Usahanya dalam menghapus intervensi asing akhirnya harus kandas, karena kedua penguasa di dua negara Islam tersebut berada di bawah bayang-bayang mereka yang akhirnya membuatnya tersingkir serta terusir. Kendati demikian, ia tidak patah semangat, melalui gerakan intelektual yang ia adakan di rumahnya sewaktu ia berada di Mesir, ia berdakwah serta berdiskusi dengan para cendekiawan, mahasiswa, serta tokoh-tokoh gerakan. Begitu juga dengan yang ia lakukan di Paris (Prancis) dengan mendirikan suatu organisasi, al-Urwatul Wutsqa. Organisasi ini menerbitkan jurnal yang berisi seruan kepada umat muslim agar bersatu serta meninggalkan jubah fanatisme kelompok dan menolak penjajahan, menepis berbagai propaganda Barat terhadap dunia Islam yang menghasut kaum muslim agar meninggalkan Islam ~karena selama seseorang masih berpegang teguh pada suatu agama niscaya ia tidak akan bangkit dari keterpurukan.

Kiprah Politik

Terkenal sebagai orator ulung dan politikus sejati, Al-Afghani selalu mendasarkan kegiatan agama dan politiknya pada ide-idenya tentang pembaharuan dalam Islam. Ia adalah seorang yang anti terhadap pemerintahan otoriter. Menurutnya, sistem pemerintahan yang sesuai dengan kondisi umat muslim adalah pemerintahan konstisusional atau republik dan konsep kewarganegaraan aktif[3]. Bukannya tanpa sebab, pemerintahan otoriter tidaklah jauh berbeda dengan tirani. Bentuk pemerintahan seperti ini menafikan keaktifan warga negara selain juga rentan terhadap monopoli asing yang langsung tertuju pada penguasa suatu negara. Hasilnya dapat dilihat, dengan mudahnya imperialisme Barat menguasai serta mengintervensi bentuk pemerintahan absolut yang banyak digunakan sebagai sistem pemerintahan di banyak negara Islam.

Dalam perjuangan politiknya, Afghani kerap berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, ini dilakukannya sebab seringkali pada suatu negara ia mengalami pngusiran oleh penguasa setempat. Namun demikian talenta politik Afghani memang telah tampak sejak awal, bahkan ia lebih menonjol sebagai seorang aktivis gerakan politik ketimbang pemikir keagamaan. Pendapat tersebut dipaparkan Harun Nasution yang juga ia kutip dari berbagai pendapat semisal Stoddart maupun Goldzhier[4].

Pandangan ini memang bukan sekadar komentar, tapi suatu pandangan yang memiliki dasar. Jika kita amati kronologi perjalanan hidup Afghani, maka kita akan mendapati agenda beliau dipenuhi dengan aktivitas politik. Talenta politik ini memang sujah tamapak sejak dini. Pada usia 22 tahun, ia membantu pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan, lalu pada usia kurang lebih 25 tahun ia menjadi penasihat Sher Ali Khan, dan beberapa tahun setelah itu Afghani diangkat sebagai perdana menteri oleh A’zam Khan[5].

Perjalanan politiknya ke berbagai negara pun patut mendapat sorotan, semua ia lakukan untuk menggoyang posisi penguasa yang otoriter, penguasa yang keluar dari rel amanat, dan juga untuk melawan dominasi barat atas negeri-negeri muslim. Namun ia kerap kali terlibat pertentangan dengan para pemimpin, kendati pemimpin itulah yang telah mengundangnya masuk ke negaranya. Misalnya saja pada kasus Iran, ia diundang ke Iran untuk urusan Iran-Rusia, namun sikap otoriter syah membuatnya menentang syah dan berpendapat bahwa syah harus digulingkan. Namun pendiriannya ini membuatnya terusir dari Iran. Nasib yang lebih tragis diterimanya ketika ia Berada di turki, alih-alih menjadi penasihat sultan Hamid II, Afghani malah berakhir sebagai tahanan kota hingga akhir hayatnya.

Daftar Pustaka:

Ø Black, Antony. 2006, Pemikiran Politik Islam, Jakarta: Serambi.

Ø Nasution, Prof. Dr. Harun. 1992, Pembaharuan dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang.

Ø republika.co.id/kotasantri.com

Ø Wikipedia.co.id


[1] Sumber wikipedia. Ada berbagai pendapat berkenaan dengan kelahiran al-Afghani, menurut Harun Nasution, al-Afghani dilahirkan di Afghanistan pada tahun 1839. Lihat. Prof. Dr. Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam. 1992. h. 51. Sedangkan dalam catatan Black, al-Afghani dilahirkan di Asterabad pada tahun 1837. Lihat. Anthony Black, Pemikiran Politik Islam.2006.h. 545. Sementara pendapat lain datang dari Mohsen Araki, beliau berpendapat bahwa al-Afghani dilahirkan di Asadabad, sebuah desa di daerah Hamadan, Iran. Ini pula yang menyebabkan beliau disebut Jamaluddin Asadabadi, nama Asadabadi merupakan nisbah pada daerah kelahirannya. Sedangkan tanggal kelahiran al-Afghani dituliskan Araki dalam tradisi penanggalan Islam yakni pada Sya’ban 1254 H. Lihat. Mohsen Araki dalam Roger Garaudy, Demi Kaum Tertindas.h. 34.

Adapun tentang tanggal ataupun tempat wafat Beliau, tidak ada pertentangan antara beberapa literatur, yakni wafat di Istanbul pada tahun 1897. kecuali catatan Araki yang mencatat dalam tradisi penaggalan Islam yakni pada Syawwal 1314 H di Istanbul.

[2] Antony Black, Pemikiran Politik Islam, Serambi, 2006, h. 549.

[3] Anthony Black…………..h. 549

[4] Lihat Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam. h. 54

[5] Harun Nasution………………h. 51

4 responses

  1. just tengsssss

  2. satu kisah tokoh pemikiran yang bagus..klu boleh tampilkan semua perkara penting yg berkaiatan dgn jamaluddin al-afghani ini..syabas

  3. tajuk buku apa yang betul menceritakan tentang tokoh ini..jamaluddin..

  4. amaizing, tapi analisa nya kurang,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: