Perang Kritik


By :

Alayqid

Mahasiswa ICAS-Paramadina, Jakarta

PENDAHULUAN

Bagi mayoritas masyarakat, kritik (dalam hal apapun) masih sering dianggap sebagai sebuah penghinaan. Mereka yang tidak terbiasa dengan kritik akan menganggap para pengritik adalah kaum sinis yang hendak menjatuhkan nama baik orang lain. Tak pelak lagi, akibatnya masyarakat bersikap antipati terhadap kritik. Mereka tak akan pernah mau mendengarkan kritik dalam bentuk apapun, baik berupa tulisan ataupun ucapan langsung, mengenai karya mereka. Padahal kritik tersebut bisa menjadi pemicu untuk menghasilkan karya lebih baik. Tak aneh, jika dikatakan kritik dapat membangun peradaban baru. Peradaban yang lebih baik dari sebelumnya. Peradaban yang terisi dengan progresivitas menuju kesempurnaan. Oleh karena itu sangat disayangkan jika kita tidak terbiasa untuk mengritik dan menerima kritikan, karena hal itu berarti mematikan proses penyempurnaan peradaban.

DEFINISI

Kritik berasal dari bahasa yunani κριτικός, kritikós – “yang membedakan”, kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuno κριτής, krités, artinya “Orang yang memberikan pendapat beralasan” atau “Analisis”, “Pertimbangan nilai”, “Interpretasi”, atau “pengamatan”. Istilah ini biasa digunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan[1]Dari asal kata kritik tersebut, kita bisa mengartikan kritik sebagai sebuah analisa seseorang, sekumpulan orang, institusi, lembaga, atau komunitas tertentu mengenai suatu objek. Objek kajian kritik sangatlah luas. Kritik hampir bisa masuk ke ranah kategori objek apapun. Ada kritik di ranah seni, seperti kritik musik, teater, film, design, dll. Ada juga kritik di bidang sosial, misalnya lontaran kritik pedas yang dilakukan oleh para kritikus politik, yang bisa menjadikan suasana panas pada musim dingin. Apapun objek kritiknya, satu hal yang perlu ditekankan, kritik tidak akan pernah sekalipun masuk ke ranah kelemahan fisik. Kritik adalah bentuk komentar terhadap suatu objek agar terjadi progres pada objek lainnya di masa yang akan datang.Sedangkan kelemahan fisik seseorang bukanlah objek yang bisa dirubah. Oleh karena itu, komentar terhadap kekurangan fisik bukanlah salah satu bentuk dari kritik melainkan penghinaan. Masyarakat kita yang terbiasa mendengarkan caci maki di lingkungan mereka, mulai dari sekumpulan ibu-ibu yang membicarakan kekurangan tetangga, penyiar radio yang menjelek-jelekan radio saingannya, presenter Tv yang menjadikan tamu undangannya sebagai bahan lelucon, sampai ceramah mubaligh yang mengutuk agama lain atau bahkan mengutuk saudara seagamanya, yang bermadzhab lain misal. Inilah salah satu alasan mengapa masyarakat menyamaratakan komentar demi sebuah progresivitas (kritik) dengan komentar untuk menjatuhkan (penghinaan).Dengan demikian, kritik adalah analisa atau pendapat yang berupaya untuk membangun, meluruskan, dan membenarkan suatu objek, agar objek tersebut menjadi lebih baik dari sebelumnya. Contoh sederhana, kritik terhadap sebuah film adalah upaya si pengkritik agar sang produser bisa membuat karya yang lebih baik, top, keren dan bermutu dari film sebelumnya.

URGENSI KRITIK

Mengapa harus ada kritik? Jika tujuan kritik adalah menjadikan karya-karya yang kelak diciptakan di masa depan menjadi lebih baik, tidak bisakah kita memuji karya orang lain saja tanpa perlu mengkritik? Bukankah upaya saling mendukung, misalnya dengan pujian, bisa memajukan dan menjadikan suatu karya lebih baik juga, lalu mengapa harus memilih mengkritik dan dikritik daripada memuji dan dipuji? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali terdengar di telinga kita. Mereka yang terbiasa hanya dipuji, akan merasa enggan dikritik. Ego mereka mengatakan mereka lebih pantas dipuji daripada dikritik. Ego menjadikan mereka seolah-olah seperti manusia tanpa cacat, padahal sudah menjadi pengetahuan yang umum bahwa tak ada satu pun manusia tanpa cacat[2]. Konsekuensi logis dari keyakinan tersebut adalah bahwa dalam suatu karya, tindakan, atau apapun itu, pastilah setidaknya terdapat kelemahan atau kekurangan. Kritik inilah yang berusaha untuk merubah cacat pada karya atau kekurangan pada tindakan tersebut menjadi sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini bukan berarti pujian tidak lagi bermakna. Pujian juga merupakan salah satu upaya peningkatan kualitas. Hanya saja terkadang pujian menjadikan ego seseorang menjadi dominan. Ego tersebut lalu memberikan rasa puas yang berlebihan. Jika sudah demikian, tak akan ada lagi peningkatan kualitas sebuah karya. Berbeda dengan pujian, kritik ibarat sebuah obat bagi si penderita. Kritik seringkali pahit sebagaimana pahitnya obat-obatan. Hanya saja di balik rasa pahit tersebut, obat mampu membuat kesehatan si penderita menjadi lebih baik. Begitu pula dengan kritik, jika dosis kritik itu tepat, tidak berlebihan, bukan kritik yang menjatuhkan, maka kritik tersebut akan membantu terealisasinya peningkatan kualitas suatu karya.Manusia, dalam kehidupan sehari-harinya, sering melakukan tindakan-tindakan keliru. Hal ini jika tak diimbangi dengan kritikan, maka manusia akan terbiasa dengan kekeliruan, ketidak-sesuaian, kekurangan dan kelemahan yang akan membawa kepada kehancuran. Lain halnya dengan komunitas yang sudah terbiasa dengan perang kritik. Mereka akan menjadikan kritik yang mereka terima sebagai landasan untuk menjadikan karya, tindakan, aksi, perilaku, atau pemikiran mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hal inilah yang nantinya akan membawa kepada kemajuan di dalam sebuah peradaban. Oleh karena itu perang kritik haruslah dijadikan sebagai budaya. Perang yang bukan membawa kepada kehancuran, melainkan progresivitas kualitas peradaban.

Perang Kritik dalam Tradisi Ilmiah Islam

Sejauh mana perang kritik sudah berlangsung dalam tradisi Islam? Pernahkah kemajuan yang terjadi di dalam tradisi Ilmiah Islam disebabkan oleh perang kritik? atau perang kritik yang terjadi justru membawa merosotnya bidang keilmuan Islam seperti sekarang ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak bisa dilepaskan dari tradisi Ilmiah Islam yang pernah tercatat dalam sejarah.Pada abad ke delapan sampai ke empat belas, tradisi Ilmiah dalam dunia Islam pernah menjadi rujukan para pemikir dunia. Pada saat itu Islam menjadi yang terdepan dalam hampir seluruh bidang ilmu pengetahuan. Ada banyak faktor yang membuat Islam mengalami kemajuan dan dijadikan sebagai pusat perkembangan ilmu. Di antaranya adalah aktivitas penerjemahan teks-teks yunani kuno, tingginya appresiasi penguasa dan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan, tradisi mengkritik karya-karya yang telah ada, dan masih banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan perkembangan keilmuan dalam dunia Islam. Di antara faktor-faktor tersebut, perang kritik adalah salah satu faktor yang cukup signifikan dalam perkembangan tradisi Ilmiah Islam. Menurut Dr. Mulyadi kartanegara, salah satu faktor yang berperan dalam perkembangan Islam di ranah keilmuan adalah tradisi kritik. Seperti tertulis dalam bukunya Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam; Salah satu kunci sukses keilmuan Islam adalah adanya semangat dan tradisi mengkritik yang luar biasa di kalangan ilmuwan Muslim. Tentu saja semangat mengkritik ini sangat diperlukan bagi kemajuan dan perkembangan ilmiah di manapun, karnea melalui semangaat mengkritik ini, teori-teori ilmiah yang telah ada diuji kesolidan dan koherensinya, sehingga hanya teori-teori yang betul-betul solid dan koheren yang dapat tahan uji, sedangkan yang tidak, akan gugur dan ditinggalkan. Dengan cara begitu sebuah teori akan terus mengalami perbaikan, revisi bantahan dan sebagainya, hingga fondasi baru yang solid dapat ditemukan.[3] Salah satu contoh karya kritik di dalam tradisi ilmiah Islam adalah Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filosof) yang ditulis oleh Imam Ghazali. Tahafut al-Falasifah adalah sebuah karya yang mengkritik pemikiran-pemikiran para filosof yang dianggap dapat menghancurkan Islam. Imam Ghazali dalam buku tersebut begitu kental dalam menyerang logika para filosof. Menurutnya filsafat dalam Islam hanyalah membawa kepada kekeliruan dalam memaknai ajaran Islam. Oleh karena itu logika yang dibangun para filosof haruslah dihancurkan. Tetapi yang menarik adalah Imam Ghazali menyerang filsafat dengan berfilsafat, logika dengan ber-logika. Terlepas dari benar atau salah kritiknya Imam Ghazali, hal itu menjadikan aliran sungai ilmu keislaman terus mengalir deras. Hasil yang terbangun dari perang kritik ini memang begitu terasa, hal ini terlihat dari respon-respon para pemikir Islam, baik yang mendukung ataupun yang menolak filsafat, yang bermunculan sebagai respon dari kritik-kritik yang telah ada. Lalu kritik-kritik tersebut membangun sebuah bangunan keilmuan keislaman yang lebih kokoh dari sebelumnya.

KESIMPULAN

Perang kritik seharusnya sudah tidak diragukan lagi sebagai bagian dari faktor yang menuntun kita kepada sebuah kemajuan peradaban. Sudah banyak contoh di mana perang kritik (tradisi saling mengkritik) dapat membangun sebuah peradaban yang lebih baik.Oleh karena itu, ketika memikirkan sesuatu, lalu menemukan kesalahan, kekeliruan, keburukan pada sesuatu itu hendaklah kita keluarkan suara kita dengan lantang. Bukan untuk menghina, menjatuhkan, mencaci-maki, tetapi mengkritik. Mengkritik tidaklah sama dengan menghina. Oleh karena itu jangan takut untuk mengkritik. Mulailah mengkritik dari orang-orang terdekatmu. Kritiklah orang tuamu yang bersikap pilih kasih, temanmu yang sering terlambat pergi ke kantor, pejabat yang tak memikirkan rakyatnya, pekerja seni yang tak berkarya, sutradara yang hanya membuat film berdasarkan selera pasar, penulis yang dalam satu bulan hanya menelurkan satu halaman, atau bahkan kalangan tertentu yang kerap kali dikultuskan seperti dosen, ulama, dan para pemikir yang kerjanya hanya berkoar-koar tanpa menindak-lanjuti pemikirannya. Bukankah mereka semua manusia juga. Kekeliruan, kekurangan, dan kelemahan bisa saja menimpa mereka. Setiap manusia mempunyai kemungkinan melakukan kesalahan atau, setidaknya, kekurangan dalam berkarya atau bertindak. Membudi-dayakan perang kritik bukan berarti kita sengaja mencari-cari kesalahan orang lain. Hal ini adalah sebuah sikap agar kita menjadikan kritikan sebagai pemicu untuk melakukan sebuah tindakan progresif dalam kehidupan kita. Tak ada pengecualian dalam berperang kritik. Bahkan, tulisan perang kritik ini pun layak untuk dikritik.Selamat berperang!

DAFTAR PUSTAKA

Kartanegara, Mulyadi. Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam. Jakarta:Penerbit http://id.wikipedia.org/wiki/kritik


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/kritik pada tanggal 30 November 2007

[2] Ada beberapa kalangan yang meyakini bahwa di dunia ini pernah hidup manusia tanpa cacat, manusia sempurna. Seperti keyakinan salah satu madzhab dalam Islam yang meyakini Nabi Muhammad Saww. sebagai perwujudan dari insan kamil (ubberman) tanpa cacat sedikitpun, sempurna.

[3] Reaktualisasi Islam, Mulyadi Kartanegara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: