Archives for category: Refleksi

By :

Alayqid

Mahasiswa ICAS-Paramadina, Jakarta

PENDAHULUAN

Bagi mayoritas masyarakat, kritik (dalam hal apapun) masih sering dianggap sebagai sebuah penghinaan. Mereka yang tidak terbiasa dengan kritik akan menganggap para pengritik adalah kaum sinis yang hendak menjatuhkan nama baik orang lain. Tak pelak lagi, akibatnya masyarakat bersikap antipati terhadap kritik. Mereka tak akan pernah mau mendengarkan kritik dalam bentuk apapun, baik berupa tulisan ataupun ucapan langsung, mengenai karya mereka. Padahal kritik tersebut bisa menjadi pemicu untuk menghasilkan karya lebih baik. Tak aneh, jika dikatakan kritik dapat membangun peradaban baru. Peradaban yang lebih baik dari sebelumnya. Peradaban yang terisi dengan progresivitas menuju kesempurnaan. Oleh karena itu sangat disayangkan jika kita tidak terbiasa untuk mengritik dan menerima kritikan, karena hal itu berarti mematikan proses penyempurnaan peradaban. Baca entri selengkapnya »

Muqaddimah

Wacana tentang asal-usul manusia, menjadi satu hal yang menarik untuk dikaji dan dikaji lagi lebih dalam. Dua konsep (konsep evolusi dan konsep Adam sang manusia pertama) menimbulkan perdebatan yang tak habis-habis untuk dibahas.

Di satu sisi konsep evolusi menawarkan satu gagasan bahwa manusia adalah wujud sempurna dari evolusi makhluk di bumi ini. Sedangkan konsep yang kedua mengatakan bahwa manusia adalah keturunan Adam dan Hawa. Baca entri selengkapnya »

Dalam setiap alur sejarah, para penguasa nampak begitu berperan dalam menentukan maju-mundurnya satu tradisi ilmiah. Kebijakan yang berpihak, tentu membawa dampak positif bagi perkembangan dan kemajuan pada bidang pendidikan. Sebaliknya, jika kebijakan penguasa kurang memperhatikan pendidikan, hampir dapat dipastikan bahwa tradisi ilmiahpun akan cenderung limbung. Apalagi bila kebijakan penguasa menekan para akademisi dan lembaga-lembaga pendidikan karena beda ideologi misal. Peristiwa pembakaran buku-buku filsafat Ibnu Rusyd (1194-1195) contohnya. Oleh Khalifah Abu Ya’la Yusuf al-Mansur (1184-1199) penguasa Sevilla, karya-karya Ibnu Rusyd tersebut dibumihanguskan hanya karena khalifah lebih condong pada para teolog.[1] Dan runtuhlah tradisi ilmiah filsafat di Sevilla. Baca entri selengkapnya »

Sejarah kemunculan Pancasila erat kaitannya dengan dibentuknya satu badan panitia persiapan kemerdekaan (BPUPKI)[1], yang resmi berdiri pada tanggal 29 April 1945. Dari badan inilah muncul ide penentuan dasar negara. Dan pada tanggal 1 Juni 1945 Bung Karno menyampaikan pidato di depan BPUPKI, tentang dasar negara.[2] Dalam pidatonya inilah Pak Karno mengeluarkan gagasannya mengenai lima dasar, yaitu; Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme, (Mufakat, Perwakilan, Permusyawaratan), Kesejahteraan, Prinsip Ketuhanan. Dan inilah cikal bakal Pancasila saat ini. Yang kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 rumusan Pak Karno tadi dimodifikasi kedalam bentuk Pancasila yang seperti ini. Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.