Nafsu Lawwamah dan Nafsu al-Mulhamah


Pendahuluan

Manusia selamanya tak akan pernah diam dan sebisa mungkin ia akan selalu mencari kehakikian dalam hidupnya. Manusia akan selalu berubah bersama ruang dan waktu yang menyelimutinya demikianlah fitrahnya. “Manusia selalu berevolusi dengan gerak trans-subtansialnya.” Demikian Shadra berkata.

Sedikit demi sedikit, dengan kesadarannya manusia akan berusaha menempatkan dirinya dari kegelapan menuju cahaya. Manusia dengan watak dasarnya—pengetahuan, kecenderungan, dan kemampuan—akan berusaha selalu menuju Tuhan dengan potensi-potensi yang dimilikinya.(Dr. Mahmoud Rajabi, 2006:126-7)

Kemudian, transformasi jiwa manusia dapat dikategorikan dalam beberapa tahapan dengan beberapa pendapat yang ada menyertainya. Pertama, tahapan itu dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan. Yaitu nafsu ammarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, nafsu mutmainnah, nafsu radiyah, nafsu mardiyah, dan nafsu kamilah. (Robert Frager, 2002:100-29). Tahapan-tahapan ini adalah tahapan-tahapan yang biasa dikenali oleh para sufi dengan jalan spiritual yang dijalaninya. 

Berbeda dengan klasifikasi di atas Qomarul Hadi membagi tahapan perjalanan jiwa manusia hanya empat tingkatan. Yaitu nafsu ammarah, lawwamah, Mulhamah, dan Mutmainah.(Qomarul Hadi, 1986:120). Dengan argumen bahwa di dalam al-Qur’an tidak disebutkan atau mensiratkan selain empat tahapan ini.

Sekedar menjadi pembuka, wacana pengkategorisasian itu tidak akan dibahas lebih lanjut, dalam makalah ini akan dibahas dua tahapan perjalanan jiwa manusia—dan dua-duanya ada pada dua pengkategorisasian di atas—yaitu tahapan nafsu lawwamah dan nafsu mulhamah.

  

 

 I.  Nafs Penuh Penyesalan (Lawwamah)

 “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang penuh penyesalan.” Q.S. al-Qiyamah (75): 2. Tuhan bersumpah pada jiwa yang mulai mendapatkan cahaya. Jiwa yang mulai menyadari bahwa ia ternyata begitu dikuasai oleh kecendrungan buruk yang selalu dihidupkan oleh hawa nafsu manusia. Tentang nafsu lawwamah ini Syaikh Fadhlalla Haeri memberi penjelasan bahwa dalam tahapan nafsu ini, jiwa manusia masihlah sangat labil, dengan kecenderungan yang berubah-ubah, terkadang keras kadang kala lembut. Sebersit cahaya nurani memasukinya, memunculkan penyesalan muncul padanya.(Syaikh Fadhalla Haeri, 2004:60)

Lebih lanjut Robert Frager memberi penjelasan bahwa nafs lawwamah ini (penuh penyesalan) adalah nafs yang telah dipancari cahaya hati. Ketika ingatan pada Tuhan telah menetap di dalam nafs yang menyuruh seseorang pada kejahatan, maka ia bagaikan lampu di sebuah rumah yang gelap, yang pada titik tertentu ia berubah menjadi ’menyalahkan’ (menyesal), karena ia melihat bahwa rumah tersebut dipenuhi oleh kotoran anjing, babi, macan, harimau, keledai, kerbau, gajah—singkatnya adalah segala sesuatu yang buruk. Setelah mengamati situasi tersebut, ia berjuang untuk membersihkan kotoran dan mengusir-mengusir binatang-binatang liar tersebut di rumah yang didukung dengaan berzikir kepada Tuhan dan perasaan berdosa yang mendalam, sehingga zikir tersebut membanjiri mereka dan membuat mereka pergi.( Robert Frager, 2002:108)

Ujub dan kemunafikan adalah sosok yang tepat untuk menunjukkan tentang jiwa ini. Menyadari bahwa hawa nafsu menguasinya, namun tak dapat berbuat banyak untuk mengatasinya. Penyesalan ada sekedar kesadaran sambil lalu yang diiringi oleh kembalinya hawa nafsu menguasai sang jiwa. Kejahatan kembali dipraktekkan, dan kembali cahaya nurani padam, ada sekedar memberi tanda bahwa jiwa ini diselimuti kegelapan.

“Pada tingkat ini kita bagaikan pecinta yang tidak jujur, yang mengaku mencintai secara spiritual dengan sepenuh hati, namun masih melirik kemungkinan-kemungkinan lainnya.(Robert Frager, 2002:110)     

 

Kota nafs yang penuh penyesalan[1]

Di dalam Kota Penyesalan, imajinasi tidak memiliki kekuatan yang mutlak. Mereka juga melakukan apa yang disebut sebagai dosa, namun sering menyadari perbuatan mereka, kemudian menyesal dan bertobat. Kota ini berada di bawah kekuasaan Yang Mulia Kepandaian, namun merekaa memiliki administrator sendiri, yang bernama Keangkuhan, Kemunafikan, dan Fanatisme.

Di antara para penduduk banyak manusia yang tampak seakan-akan suci, taat, saleh, dan lurus. Aku mendapati mereka dicemari oleh keangkuhan, egoisme, dengki, ambisis, kefanatikan, dan di dalam persahabatan mereka, ketidaktulusan. Yang terbaik dari mereka adalah bahwa mereka berdoa dan berusaha mengikuti perintah Tuhan karena mereka takut akan hukuman Tuhan serta Neraka.

Di tengah Kota Penyesalan tersebut terdapat wilayah yang dikenal sebagai Kota Cinta dan Ilham. Penguasanya bernama Yang Mulia Kearifan, Yang Mengenal Tuhan. Raja ini memiliki seorang perdana menteri yang bernama Cinta.   

 

Diagram Nafsu yang Penuh Penyesalan

Untuk memberi gambaran yang lebih baik, Robert Frager memberikan diagram yang mengilustrasikan seperti apa kondisi jiwa ketika pada tahapan nafsu lawwamah. Berbeda dengan kondisi jiwa pada tahapan nafsu ammarah, dengan aku dan wilayah kepekaan—yang ada pada wilayah alam bawah sadar tengah—dikuasai oleh alam bawah sadar di bawahnya (hawa nafsu) dan cahaya nurani—yang ada pada alam bawah sadar atas—tidak memiliki peluang untuk mewarnai ruang bawah sadar , pada tahapan nafsu lawwamah alam bawah sadar atas ini memiliki kesempatan untuk memberi secercah cahaya pada alam bawah sadar tengah. Meski dalam tahapan ini alam bawah sadar bawah masih begitu dominan menguasai alam bawah sadar di atasnya itu.     

 

II.  Nafs Yang Terilhami

 

“Awal dari perjalanan sufistik manusia.” Demikian Robert Frager memberi pernyataan tentang nafsu ini.(Robert Frager, 2002:111)       

Tahapan ini tidak lagi hawa nafsu manusia yang menguasai jiwa, cahaya nurani telah memancar, membawa pada kesenangan hati pada kegiatan spirtual manusia. Manusia mulai mengenal cinta hakiki dari Tuhan.

Pada tingkatan ini jiwa tidak hanya membawa manusia pada sekedar penyesalan yang kemudian tenggelam kembali pada keburukan, jiwa pada tingkatan ini membawa manusia pada pertaubatan terhadap kesalahan-kesalahan masa lalu dan pada janji untuk tidak kembali melakukan kesalahan itu kembali di masa yang akan datang. Dan bahkan manusia pada tahapan ini terilhami untuk selalu melakukan kebaikan.

Meski demikian, pada tahapan ini, jiwa tetaplah masih labil. Hawa nafsu kerap masih membayangi perjalanan spiritual manusia. Selalu berupaya kembali menguasai jiwa manusia agar manusia terjerumus pada kesalahan dan dosa.

 

 

 

Kota Nafs yang Terilhami

Kota Cinta dan Ilham adalah sebuah wilayah yang kompleks, dengaan wilayah positif dan negatif. Egoisme dan kemunafikan masih meruapakan hal yang sangat berbahaya pada tingkat ini. Sang pengembara memasuinya dengan semata-mata mengucapkan kalimat la ilaha illa Allah, “Tida tuhan selain Allah.”

Sang pemandu pun kemudian menggambarkan pada si pengembara mengenai wilayah kaum peniru yang berada di dalam Kota Cinta dan Ilham. Ini adalah wilayah kaum munafik, yaang menirukan bentuk luar dari pemujaan dan ajaran spiritual tanpa pemahaman batiniah.

 

Diagram Nafs yang Terilhami

Alam bawah sadar atas mulai memiliki kekuatan untuk mengimbangi dominasi alam bawah sadar bawah. Alam bawah sadar tengah tidak lagi dikuasai oleh alam bawah sadar bawah yang pada tahapan sebelumnya—nafsu lawwamah—begitu dominan membelenggu aku dan wilayah kepekaan. Seseorang pada tingkatan ini semakin peka terhadap wilayah alam bawah sadar atas pada dirinya.

Pada tahapan ini, seorang syaikh begitu penting sebagai penghubung tidak langsung pada sifat Ilahiah melalui bimbingannya.

Bahan Bacaan

Al-Qur’an dan Terjemahan

Frager, Robert, Hati, Diri, dan Jiwa, Jakarta: Serambi, 2002

Qamarulhadi, S,. Membangun Insan Seutuhnya, Bandung: Al-Ma’arif, 1986

Rajabi, Mahmoud, Horison Manusia, Jakarta: Al-Huda, 2006

Syaikh Fadhlalla Haeri, Bahagia Tanpa Jeda, Jakarta: Serambi, 2004



[1] Ilustrasi yang diberikan oleh Robert Frager untuk mengambarkan nafsu lawwamah ini. (Robert Frager, 2002:108)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: