Arsip untuk Mei, 2008

29
Mei
08

Murthada Muthahhari

Kilas Balik Perjalanan Hidup Muthahari

 

Malam menjelang larut ketika salah seorang pengurus Dewan Revolusi Islam, Iran, keluar dari rumah DR. Yadullah Sahabi, tanggal 1 Mei 1979, sehabis memimpin rapat. Sebelumnya, berjalan bersama para ulama yang menghadiri rapat, kemudian di tikungan menuju tempat mobilnya diparkir dia berpisah dengan rombongan kecil ini. Suasana lengang, menjadikannya buruan empuk dalam sasaran tembak salah seorang anggota kelompok Furqon yang telah mengintainya. Sebuah letupan senjata api mengiringi terjangan peluru dari belakang  yang menebus kepalanya. Tubuh orang ini bersimbah darah, tak terselamatkan meski ada upaya pertolongan dari kawan-kawannya yang ada di tempat kejadian. Korban penembakan kejam ini adalah Murthada Muthahhari, seorang faqih, filosof, teoritikus ekonomi, pakar gender, dan politikus mumpuni Iran, yang bersama Ayatullah Khomeini memiliki andil besar pada jatuhnya kepempinan otoritarian Syah Khan. Di usianya yang ke-59 Muthahari tutup usia, mengakhiri kiprahnya dalam belantika kehidupan politik dan akademiknya di Iran yang dimulainya 30 tahun sebelum kematiannya, sejak pertemuan awal dalam kuliah yang diberikan Imam Khomeini.

  Lanjutkan membaca ‘Murthada Muthahhari’

28
Mei
08

Nafsu Lawwamah dan Nafsu al-Mulhamah

Pendahuluan

Manusia selamanya tak akan pernah diam dan sebisa mungkin ia akan selalu mencari kehakikian dalam hidupnya. Manusia akan selalu berubah bersama ruang dan waktu yang menyelimutinya demikianlah fitrahnya. “Manusia selalu berevolusi dengan gerak trans-subtansialnya.” Demikian Shadra berkata.

Sedikit demi sedikit, dengan kesadarannya manusia akan berusaha menempatkan dirinya dari kegelapan menuju cahaya. Manusia dengan watak dasarnya—pengetahuan, kecenderungan, dan kemampuan—akan berusaha selalu menuju Tuhan dengan potensi-potensi yang dimilikinya.(Dr. Mahmoud Rajabi, 2006:126-7)

Kemudian, transformasi jiwa manusia dapat dikategorikan dalam beberapa tahapan dengan beberapa pendapat yang ada menyertainya. Pertama, tahapan itu dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan. Yaitu nafsu ammarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, nafsu mutmainnah, nafsu radiyah, nafsu mardiyah, dan nafsu kamilah. (Robert Frager, 2002:100-29). Tahapan-tahapan ini adalah tahapan-tahapan yang biasa dikenali oleh para sufi dengan jalan spiritual yang dijalaninya.  Lanjutkan membaca ‘Nafsu Lawwamah dan Nafsu al-Mulhamah’

23
Mei
08

Demokrasi Islam; Antara Ada dan Tiada

by Zaenal Abidin

Abstraksi

Pada abad kontemporer ini Islam dihadapkan pada berbagai problem, khususnya problem dalam konstitusi negara. Dunia barat menilai bahwa sistem pemerintahan yang ada pada negara-negara Islam saat ini sangat tertinggal. Dalam artian sistem ini tidak berkembang sesuai dengan perkembangan dunia modern. Sudah selayaknya bagi Islam untuk mencoba beradaptasi ataupun mengadopsi sistem demokrasi yang terbukti sangat menjunjung tinggi HAM (hak asasi manusia). Kemudian meminimalkan aksi-aksi ekstrim anarkis beberapa kelompok Islam yang menyebabkan kekacauan dan ketidakstabilan situasi.

Mereka melihat bahwa kekerasan yang terjadi di sebagian negara Islam adalah akibat dari minimnya nilai-nilai sosial dan toleransi yang umat Islam miliki. Hal ini harus segera ditangani, karena dampaknya bukan hanya pada umat muslim lainnya yang berbeda paham dengan muslim yang secara radikal memahami Islam, namun juga non-muslim. Tentu ini sangat mengancam stabilitas internasional yang dikhawatirkan dengan adanya teroris-teroris. Ini sangat menyedihkan, karena ketika mereka berbicara terorisme, hal ini mengacu pada umat muslim. Lanjutkan membaca ‘Demokrasi Islam; Antara Ada dan Tiada’

23
Mei
08

Tasawuf di India

By Nanik dkk

A. PENDAHULUAN

Tasawuf, bukanlah sesuatu yang dengannya manusia dapat melakukan sebuah pelarian, bukanlah sesuatu yang dengannya manusia dapat berpangku tangan terhadap hidup. Melainkan, tasawuf adalah suatu metode penyucian jiwa dan pembening hati, yang menjadi bekal utama manusia dalam menggeluti ranah kehidupannya yang, pada dasarnya tidak pernah terlepas dari berbagia macam persoalan. Tasawuf membimbing manusia dalam pengembangan kinerja ukhrawi dan sekaligus juga duniawi.

Seorang sufi, bukanlah seseorang yang melepaskan dirinya dari dunia. Melainkan, mereka adalah pribadi-pribadi yang mampu mengguncang dunia. Tidak pernah melarikan diri dari masalah, namun menyongsongnya. Dengan berbekal nurani yang tercerahkan, para sufi tampil ke depan dan menghadapi semua bentuk tirani bumi, serta membangun pondasi-pondasi peradaban dunia baru. Lanjutkan membaca ‘Tasawuf di India’

11
Mei
08

Muhammad Iqbal; Sang Penyair Pembangun Identitas Islam

By Khadijah

I.      Pendahuluan

Perjalanan sejarah telah melahirkan banyak karya dibidang kesusastraan Islam. Khususnya puisi yang kaya dengan muatan makna yang dalam. Pembahasan mengenai syair-syair ini pun masih menjadi bahan yang menarik untuk dikaji dan dilakukan penelitian, bahkan telah banyak hasil penelitian yang membahas karya-karya tersebut.

Pesona yang dipancarkan dari syair-syair tersebut dikarenakan penggunaan bahasa simbolik, yang mengandung kedalaman makna dan pemikiran sang penyair. Selain itu syair tersebut tak hanya mewakili satu bidang pengetahuan saja, tapi  mencakup bidang pengetahuan lainnya. dalam syair-syair tersebut menunjukan sisi-sisi lain dari Islam yaitu sisi keindahan yang bisa menarik pemeluknya menuju ke arah yang lebih baik.

Namun demikian, penggunaan bahasa simbolik yang digunakan dapat menimbulkan banyak pertentangan pemahaman, tapi berangkat dari sinilah muncul berbagai dimensi estetika dalam Islam. Lanjutkan membaca ‘Muhammad Iqbal; Sang Penyair Pembangun Identitas Islam’

11
Mei
08

Subjektivisme

By Nanik, Dkk

PENDAHULUAN

Keadaan bumi ini tidaklah sama, ada yang tinggi ada yang rendah, ada yang subur ada yang gersang, ada yang basah ada yang kering. Iklimnya pun ada yang panas, ada yang dingin, dan lain-lain. Keadaan alam yang pada dasaranya tidak sama itu mempengaruhi keadaan fisik,  mental, budaya serta cara hidup.  Karena berbagai faktor, manusia itu berbeda-beda, berbeda karena alam yang mempengaruhinya, berbeda karena faktor keturunan yang dibawa dari orang tua, serta berbeda karena pengalaman, pendidikan, serta sejarah hidupnya.

Peribahasa mengatakan, “lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya”. Oleh karena masyarakat dan budayanya berbeda-beda, maka tidak ada standar norma universal[1] ataupun objektif, yang dapat diberlakukan bagi semua orang di seluruh dunia. Karena apa yang dinilai baik dan buruk, benar dan salah oleh seseorang belum tentu dinilai baik dan buruk, benar dan salah oleh orang lain. Bahkan, pada lingkungan yang pada dasarnya mirip, apa yang kenyataanya dianggap baik dan buruk, benar dan salah, dapat saja berbeda. Karena tidak ada standar norma yang sama dan berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia, tidak selayaknya seseorang merasa bahwa dirinya lebih tinggi atau lebih rendah daripada orang lain.

Dari adanya perbedaan manusia, masyarakat, bangsa dengan keadaan fisik, mental, kultural Lanjutkan membaca ‘Subjektivisme’