Arsip untuk Maret, 2008

28
Mar
08

Perang Kritik

By :

Alayqid

Mahasiswa ICAS-Paramadina, Jakarta

PENDAHULUAN

Bagi mayoritas masyarakat, kritik (dalam hal apapun) masih sering dianggap sebagai sebuah penghinaan. Mereka yang tidak terbiasa dengan kritik akan menganggap para pengritik adalah kaum sinis yang hendak menjatuhkan nama baik orang lain. Tak pelak lagi, akibatnya masyarakat bersikap antipati terhadap kritik. Mereka tak akan pernah mau mendengarkan kritik dalam bentuk apapun, baik berupa tulisan ataupun ucapan langsung, mengenai karya mereka. Padahal kritik tersebut bisa menjadi pemicu untuk menghasilkan karya lebih baik. Tak aneh, jika dikatakan kritik dapat membangun peradaban baru. Peradaban yang lebih baik dari sebelumnya. Peradaban yang terisi dengan progresivitas menuju kesempurnaan. Oleh karena itu sangat disayangkan jika kita tidak terbiasa untuk mengritik dan menerima kritikan, karena hal itu berarti mematikan proses penyempurnaan peradaban. Lanjutkan membaca ‘Perang Kritik’

22
Mar
08

Hayy Ibn Yaqdzan: Intelektualitas Manusia Menemukan Kebenaran

Muqaddimah

Antara akal dan wahyu tidaklah memiliki kontradiksi yang begitu besar. Bahkan keduanya dapat memiliki satu visi dan tujuan yang sama tentang kebenaran. Dan juga akan memiliki titik keindahan bila keduanya dapat digabungkan. Bahwa jalan yang ditunjukkan oleh agama dapat diperoleh dengan intelektualitas manusia, yang cenderung berhasrat untuk terus bertanya dan mencoba menjawab apa yang ada, dan juga oleh wahyu yang dapat dijadikan petunjuk tetap menuju satu kebenaran. Keduanya sama-sama dapat menuju kebenaran, demikian pesan yang ingin disampaikan Ibn Thufail pada kita dalam karya monumentalnya, Hayy Ibn Yaqdzan.

Dalam karyanya ini, Ibn Thufail seperti merasa jengah dengan pertikaian dua proyektor besar dalam proses pencarian kebenaran, filsafat dan wahyu. Pertikaian yang diledakkan oleh al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah-nya, menentang Ibn Sina dan al-Farabi dengan ajaran Aristotelian mereka. Pertikaian yang pada dasarnya ada pada ketidaksetujuan al-Ghazali yang fokus pada tiga ajaran para filososf, terutama Ibn Sina dan al-Farabi, tentang keabadian alam, penolakan bangkitnya jasmani setelah mati, dan pengetahuan Tuhan yang universal. Ketiga hal yang benar-benar dianggap oleh al-Ghazali sebagai penyalahgunaan rasio untuk menyelewengkan agama.

Pertikaian ini coba didamaikan Ibn Thufail dengan mengatakan bahwa antara keduanya tidaklah jauh berbeda dalam memandang kebenaran yang sama, eksternal dan internal. Pemahaman agama melalui wahyu dan pemahaman agama melalui penalaran, melihat kebenaran dari sisi yang berbeda dengan hakikat yang sama.

 

Tentang Ibnu Thufail

Di Guadix atau di Wadi Asy, juga disebut Cadiz, sebuah distrik yang terletak cukup jauh di Timur Laut Granada, Ibnu Thufail atau Abu Bakar Muhammad ibn Abd al-Malik Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Thufail al-Qaisyi dilahirkan pada tahun 1110 M. Masa kecil Ibn Thufail di Andalusia adalah masa-masa di mana terjadi pergolakan politik yang luar biasa. Sebelas tahun setelah kelahirannya, dinasti Murabitihun yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin yang sebelumnya menggulingkan Muluk ath-Thawa’if  pengambil alih kekuasaan Daulah Umayyah, ditundukkan oleh Ibnu Tumart pada tahun 1121 yang kemudian mendirikan Dinasti Muwahhidun. Setelah Dinasti Muwahhidun berdiri, gejolak politik itu berangsur-angsur mereda. Kondisi kembali seperti masa-masa Dinasti Umayyah sebelumnya. Sevilla, Cordova, atau Andalusia secara umum kemudian kembali menjadi pusat peradaban Islam, yang menjadi salah satu paru yang berperan memajukan pendidikan Islam. Ilmu-ilmu warisan orang-orang seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibn Bajjah, bahkan al-Razi juga al-Ghazali, kembali mengalir deras di wilayah-wilayah ini. Dan Ibn Thufail muda dalam situasi pendidikan yang dinamis[1] seperti itu dididik dan diajarkan bernagai ilmu oleh orang tuanya, belajar filsafat, ilmu kedokteran, dan beragam ilmu yang lainnya. Hingga kemudian dia dikenal sebagai seorang dokter yang disegani di Andalusia.

Peran pentingnya dalam tubuh pemerintahan Dinasti Muwahhidun pada masa itu dimulai ketika ia diangkat menjadi Sekretaris Gubernur Granada, diteruskan menjadi Sekretaris Gubernur Ceuta dan Tangier. Mengabdi pada putra Muhammad ibn Tumart (1080-1130 M), Abd al-Mu’min ibn ‘Ali (w.1163). Setelah  al-Mu’min wafat, Ibnu Thufail menjadi dokter istana dan wazir Abu Ya’qub Yusuf (memerintah 1163-1183). Sebagai ahli falsafah, Ibnu Thufail adalah guru dari Ibnu Rusyd (Averroes), ia mengusai ilmu lainnya seperti ilmu hukum, pendidikan, dan kedokteran, sehingga Thufail pernah menjadi sebagai dokter pribadi. Ia menjadi salah seorang terpenting di negerinya berada, serta memiliki pengaruh penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Andalusia, karena melalui dialah Abu Ya’qub Yusuf yang cinta ilmu pengetahuan itu memberikan wewenang untuk mengundang orang berilmu dan terpelajar ke istana, salah satunya Ibnu Rusyd yang terkenal membela mati-matian filsafat dalam Islam. Ibnu Thufail seperti yang dikatakan oleh Leen E. Goodman[2] menjadi menteri kebudayaan Abu Ya’qub Yusuf, selain juga sebagai dokter pribadinya. Satu jabatan yang lebih tepat disebut sebagai wazir jika melihat kedekatan antara Abu Ya’qub dan Ibn Thufail seperti yang dikatakan Goodman. Sedikit orang yang dapat memiliki hubungan khusus dengan sultan, meskipun dengan jabatan sebagai menteri yang notabene di bawah wazir tetap dimungkinkan adanya hubungan dekat itu. Namun sekali lagi, hubungan itu akan nampak relevan jika Ibn Thufail adalah wazir dari khalifah.

Kehidupan Ibn Thufail dapat dilihat sebagai sebuah kesuksesan yang dapat dijadikan aspirasi. Kehidupan seorang intelektual yang malang-melintang di sebuah istana, yang memberikan segala tentang dunia. Akhirnya setelah melampui masa-masa indah sebagai manusia, menjalani tawa dan canda bersama orang-orang istana, ia wafat di usianya yang telah senja pada tahun 1185 M, di Maroko, ibu kota kerajaan dinasti Muwahiddun. Meninggalkan beberapa karya yang beberapa di antaranya dapat kita baca sampai hari ini. Dan kebanyakan tidak terekam atau hilang ditelan zaman.

Hanya sedikit karya tulis yang dapat dikenal sebagai buah pikir Ibn Thufail, di antaranya Rasa’il fi an-Nafs, Fi Biqa’ al-Maskunah wa al-Ghair al-Maskunah, dan Hayy ibn Yaqdzan. Namun dari sekian karyanya itu, hanya Hayy ibn Yaqdzan yang lengkap sampai pada kita. Karya ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Giovanni vico dolla Mirandolla (Abad 15) sebagai karya besar ilmiyah (magnum opus) yang menjadi referensi utama pada masa itu. Hayy ibn Yaqdzan juga diterjemahkan oleh Edward Pockoke juga dalam bahasa Latin. Edward Packoke memberikan catatan khusus pada terjemahannya tersebut dengan Philosophus Autodidaktus (al filosuf al mu’allim nafsaha/Sang filosuf Autodidak), satu bentuk apresiasi yang diberikan pada Ibn Thufail. Setelah adanya penterjemahan dalam bahasa latin ini, Hayy ibn Yaqdzan kemudian juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Simon Ockley, dengan judul “The Improvement of Human Reason”, pada tahun 1708. Kemudian di susul oleh edisi barunya dengan judul “The History of Hayy ibn Yaqzhan” pada tahun 1926. Terjemahan bahasa Perancis muncul setelah Leon Gauthier mengalihbahasakan Hayy ibn Yaqdzan dalam bahasa tersebut, karya dalam edisi bahasa Perancis ini bahkan di sertai dengan teks arabnya “Hayy Ben Yaqdhan Roman Philosophique d’ibn Thofail”. Hayy Ibn Yaqdzan juga diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol, Jerman, Rusia, Belanda dan Indonesia

 

 

 

Tentang Hayy ibn Yaqdzan

Perjalanan manusia menapaki jalan spritualnya, demikianlah Hayy ibn Yaqdzan dikisahkan oleh Ibn Thufail. Pencarian jalan yang benar dengan berbagai tahapan pengamatan dan tindakan. Hayy Ibn Yaqdzan mulai melakukan pencarian dengan memulai pengamatan-pengamatan inderawainya, kemudian rasio, dan ketiga batinnya. Sedikit demi sedikit Hayy mulai melakukan itu, mengamati fenomena yang ada di sekitar, binatang, bintang, gejala alam, yang kemudian jalan pada Sang Kebenaran ia temukan setelah melalui tahapan demi tahapan itu. Hayy berhasil menemukan esensi dari segala esensi yang ada.

Kisah ini dimulai dengan penuturan Ibn Thufail yang mengatakan bahwa ada dua versi tentang keberadaan Hayy ibn Yaqdzan. Pertama, Hayy Ibn Yaqdzan dilahirkan oleh seorang Puteri yang memiliki saudara seorang raja yang tiran. Sang raja yang mengutamakan kemegahan, melarang sang Puteri menikah sebelum ada jodoh yang sederajat dengan mereka. Namun, secara diam-diam salah seorang kawan raja, bernama Yaqdzan, mengawini sang Puteri. Dan sang Puteripun akhirnya hamil, dan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki. Karena takut ketahuan sang Raja, maka sang Puteri menghayutkan anaknya ke laut pada sebuah peti. Peti itupun sampai pada pulau Waqwaq, sebuah pulau tak berpenghuni manusia. Peti yang berisi Hayy ibn Yaqdzan ini kemudian dihempaskan oleh air laut ke daerah dalam pulau, dan di situlah Hayy ditemukan oleh seekor rusa, yang kemudian mengasuhnya.

Kedua, dikatakan bahwa Hayy ibn Yaqdzan lahir karena proses alam. Perpaduan antara unsur-unsur alam yang menyatu dalam tanah dengan tekstur dan kondisi dalam rahim. Sedemikian rupa karena terolah dengan baik dalam waktu yang cukup lama oleh alam akirnya tanah tersebut melahirkan Hayy ibn Yaqdzan yang kemudian ditemukan dan dirawat sang Rusa.[3]

Selama tujuh tahun Hayy ibn Yaqdzan dirawat sang Rusa, dan belajar bagiamna cara berkomunikasi, meminta tolong, dan berbagai isyarat komunikasi baik dengan hewan lain maupun rusa yang mengasuhnya. Dari sini ia mulai belajar dengan pengamatan inderanya, melihat binatang lain seusianya yang nampak memiliki kelebihan muncul pada tubuh mereka. Hewan-hewan yang ada di sekitarnya dengan sendirinya memiliki alat-alat pertahanan ada pada tubuh mereka, rusa jantan dengan tanduk mereka, banteng juga dengan tanduk mereka, macan dengan taring dan kukunya, Elang dengan paruhnya, dan itu semua membuat Hayy ibn Yaqdzan kecil bertanya-tanya, kenapa dia tidak memiliki itu semua. Diapun belajar dengan melihat hal-hal itu, kemudian dibuatlah baju untuk menutupi tubuhnya dari sengat matahari yang awalnya berasal dari dedaunan, namun karena tidak dapat bertahan lama akhirnya dia dapatkan kulit hewan yang ternyata selain mampu melindunginya dari sengatan matahari juga mampu menahan dingin angin. Untuk pertahanan diri digunakannya tongkat untuk menghalau binatang buas yang hendak mengganggunya.

Pengetahuan Hayy bertambah lagi setelah secara tidak sengaja di dalam sebuah perjalanannya mengelilingi pulau ia menemukan api. Dari api itu ia dapat menghangatkan diri dan memperoleh penerangan di kala gelap melanda. Selain itu ia juga tahu bahwa api mampu menjadikan daging dan ikan menjadi lebih lezat setelah dibakar, mulailah ia selalu menggunakannya untuk memasak makanannya.

Ketika mengamati bahwa silih berganti apa yang ada di dalam ini kemudian musnah dengan sendirinya, disusul kematian rusa yang merawatnya, Hayy ibn Yaqdzan mulai menyadari bahwa alam ini tidak abadi, satu persatu semua akan berakhir pada ketiadaan. Ia menyaksikan bahwa segala eksistensi di alam ini bagaimanapun berbedanya ternyata mempunyai titik-titik kesamaan baik dari segi asal maupun pembentukan, maka ini mengarahkannya pada pemikiran bahwa segala yang ada ini bersumber dari subyek yang satu, dan kini dalam pikirannya telah terpatri satu zat tunggal yang diimani sebagai sang pencipta segalanya. Hayy menemukan Tuhan melalui jejak-jejak suci yang ditinggalkan-Nya.

Pengamatannya berlanjut pada benda-benda langit, bahwa matahari terbit dan tenggelam, demikian juga dengan bulan dan bintang, yang kemudian memunculkan satu tesis bahwa alam ini begitu teratur. Dan tentu ada dzat maha sempurna yang mengaturnya yang tentunya maha kekal dan tidak sama dengan alam semesta ini yang tiada abadi, hilang dan silih berganti mengisi waktu.

Kematangan mulai nampak pada diri Hayy ibn Yaqdzan saat ia berusia 35 tahun,[4]ia mulai mencari kebenaran melalui pencarian melalu penelusuran ulang tentang cipta rasanya yang sudah-sudah. Ia mulai meraba-raba episteme mana yang membawanya pada kebenaran. Dan ia kemudia berkesimpulan bahwa, ia dapat mengetahui melalui tiga hal, akal dengan bantuan pencerapan indra, ruh, dan jiwa. Menuntunya pada tingkatan-tingkatan yang pernah dilalui sampai yang kini dijalani, maqam keindahan spiritual melalui pancaran cahaya ilahi.

Kisah inipun semakin menarik ketika datang Asal atau Absal dari pulau seberang ke pulau Waqwaq. Ia juga seorang salik layaknya Hayy ibn Yaqdzan yang tengah sibuk dengan meditasi dan menikmati ekstasi spiritualitas yang dijalaninya, mencari ketenangan dan memilih jalan hidup kesendirian. Asal atau Absal ini berasal dari sebuah pulau yang dipimpin oleh Salaman, sahabat Asal yang memilih hidup zuhud di tengah masyarakat dengan melakukan ritual keagamaan secara biasa, karena hal inilah Asal dan Salaman kemudian berpisah.[5]Di pulau yang dikira Asal tidak berpenghuni ini, Hayy ibn Yaqdzan dan Asal bertemu pandang. Karena tidak mau terganggu Asal pun berlari dan bersembunyi. Hayy yang baru sekali seumur hidup melihat manusia lain dengan pakaian aneh yang dipakainnya, mengejar dan mencari Asal yang bersembunyi. Asal akhirnya tertangkap, melihat ada orang aneh dengan kekuatan yang luar biasa ia nampak ketakutan. Namun, Asal tetap mencoba berkomunikasi dengan Hayy yang dikiranya ingin berbuat jahat padanya. Dengan segala bahasa yang dimilikinya ia berkata pada Hayy ibn Yaqdzan, namun Hayy tidak memahami apa yang dikatakannya. Setelah tahu bahwa Hayy ibn Yaqdzan tidak bermaksud jahat dan tahu bahwa orang yang ada dihadapnnya tidak dapat berbahasa manusia, Asal sedikit demi sedikit memberi petunjuk menandai sesuatu dengan bahasa. Dari sinilah Hayy mulai belajar berkomunikasi, dan kemudian mereka saling bertukar pikiran tentang pengalaman mereka. Asal bercerita tentang kaummnya yang ada di pulau seberang yang hidup dengan cara hidup agama wahyu yang nampak adikodrati. Sedang Hayy menceritakan pengalaman hidupnya setelah lama hidup di pulau Waq-waq sendiri, dan ia bercerita pula tentang pencapaiannya pada cahaya cinta sang Illahi. Bahwa dengan pengamatan dan penalaran yang dilaluinya ia telah sampai pada maqam pencari kesejatian, menemukan apa yang dicarinya.

Merasa satu jalan dengan Hayy ibn Yaqdzan, Asal yang merasa bahwa apa yang dijalani oleh masyarakat di tempatnya haruslah dirubah, yaitu dengan jalan yang telah ditemukan Hayy ibn Yaqdzan. Ia ingin agar penduduk di kotanya memperoleh pencerahan seperti halnya Hayy ibn Yaqdzan memperoleh hal itu. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berangkat ke kampung halaman Asal, menyebarkan ajaran agama yang ditemukan Hayy Ibn Yaqdzan, ajaran agama melalui penalaran dan penyelaman jiwa pada cinta Ilahi. Sesampainya di tempat Asal, mereka berdua mulai berdakwah menyebarkan ajaran yang mereka bawa. Namun segala upaya yang mereka tempuh tidak menghasilkan apa-apa, dan penolakan terhadap ajaran yang mereka berikan yang kemudian muncul. Akhirnya Hayy Ibn Yaqdzan dan Asal memilih kembali ke pulau Waqwaq, dan tetap meyakini bahwa ajaran yang mereka bawa memiliki nilai lebih dibandingkan sekedar ajaran agama wahyu yang ada di tempat Asal berasal. Kembali menjalani hidup suci di padang pengasingan kehidupan.

 

Epistemologi Hayy Ibn Yaqdzan

Pencapaian pencarian seperti yang dialami Hayy ibn Yaqdzan dalam kisah yang diceritakan Ibn Thufail memiliki tiga jalan yang harus dilalui. Tiga jalan yang pada dasarnya bisa dilalui oleh setiap manusia yang telah dibekali Tuhan dengan akal dan jiwa dalam tubuh yang sama. Tiga jalan pencarian itu adalah;

  1. Indera (empiris)

Meliputi panca indra yaitu penglihatan, pendengaran, perasam pencium dan peraba yang merupakan alat untuk mengenali lima dimensi obyek yaitu obyek-obyek fisik yang terlihat, suara, rasa, bau-bauan, dan obyek yang tersentuh sekalipun begitu indrawi masih mempunyai kelemahan karena ia terkadang tidak bekerja secara sempurna, bahwa indera dapat dengan mudah tertipu dengan karena tiap indera memiliki kemampuan terbatas dalam mengidentifikasi objek, maka di sinilah dibutuhkan sumber pengetahuan lain.

 

  1. Akal (rasio)

Akal yang dengan daya penalarannya mampu mengabstraksikan suatu obyek yang karena itu ia mampu mengetahui seluruh profil dari suatu obyek. Selain ia juga mampu menangkap esensi dari obyek yang di pahaminya dan di amati oleh indrawi dengan demikian akal atau rasio bersifat melengkapi indrawi. Pengetahuan yang dicapai oleh akal memiliki validitas yang lebih dibanding dengan indera, bahwa rasio mampu melampau objek, ruang, dan waktu. Dalam tahapan ini Ibn Thufail menggambarkan bahwa Hayy Ibn Yaqdzan mencoba melakukan apa yang ada dalam pengamatannya terhadap benda-benda langit. Ia mulai berputar-putar, mengelilingi pulau, tempatnya tinggal, dan juga berputar pada dirinya sendiri. Ia mulai memikirkan bahwa ada satu subjek yang dapat memberinya pencerahan, dan ia dapat melihat itu pada jejak-jejak-Nya di alam ini. Hayy mulai merasionalkan segala keteraturan dan ketiadaabadian alam ini. Ia melihat rusa yang mengasuhnya nampak semakin tua dan kemudian mati, hewan yang lain juga sama, ia juga memikirkan peredaran matahari yang selalu muncul dari Timur ke Barat setiap hari. Dari sinilah ia menemukan satu entitas pencipta dan pengatur segalanya, sang Causa Prima. 

Namun sayangnya, kemampuan akalpun terbatas, akal tidak mampu misalnya menjelaskan dirinya sendiri secara jelas, akal juga misalnya tidak dapat menjelaskan mengapa manusia dapat menangis sejadi-jadinya ketika melihat kekasihnya mati. Atau akal tidak dapat mengenali sang Causa Prima itu, akal hanya mampu mengetahui-Nya melalui jejak-jejak yang ada, akal belum mampu membawa manusia pada pertemuan manusia pada sang Penciptanya. Maka dari itu, manusia pada dasarnya dibekali Tuhan dengan intuisi.

  1. Intuisi

intuisi menurut Ibn Thufail mampu menangkap esensi dari pengetahuan sejati yang merupakan wilayah metafisika dengan cara penyucian jiwa, seperti halnya Hayy Ibn Yaqdzan yang dalam tahap akhir pencarianya menemukan esensi dari segala esensi yang ada. Hayy melalui riyadah perjalanan spiritula menemukan identitas kesejatian yang menyelimuti alam semesta. Dia tenggelam dalam identitas kesejatian itu, menikmati pancaran cinta yang ada menyertainya.

 

 

Penutup

Meskipun tidak secara jelas Ibn Thufail melakukan mediasi antara wahyu dan akal, namun secara implisit ia ingin menyatakan bahwa keduanya sama-sama jalan menuju kebenaran. Hayy Ibn Yaqdzan mampu menemukan kebenaran sejati melalui jalan penalaran yang dijalaninya. Begitu juga dengan Salaman, ia menemukan Tuhan melalui pemahaman keberagamaannya yang berasal dari kabar-kabar Tuhan yang disampaikan Muhammad SAW. Keduanya mencapai hal yang sama. Sedangkan Asal adalah tokoh yang dihadirkan Ibn Thufail, sebagai anatomi elaborasi keduanya, Asal yang sebelumnya tinggal satu kota dengan Salaman, memperoleh pengetahuan awalnya dari wahyu dan kemudian setelah pertemuannya dengan Hayy Ibn Yaqdzan, ia memadukan pemahaman pengetahuan awalnya itu dengan ajaran yang diterimanya dari Hayy.

Berkaitan dengan, Ibn Thufail mengajarkan pada kita bahwa, semangat keagamaan, baik yang penerimaannya melalui wahyu atau penalaran, tidaklah elok bila saling menjatuhkan. Keduanya melihat kebenaran dari sisi yang dilihat masing-masing. Keduanya melihat kebenaran yang tunggal, kebenaran yang tidak sepatutnya diklaim dan dijadikan justifikasi untuk menegasikan atau bahkan mengkafirkan yang lain. Kebenaran tetaplah tunggal, cara melihatnya yang beragam.

 

 

Bahan Bacaan

Seyyed Hossein Nasr, Oliver Leamen, editor, Ensiklopedi Tematis, Filsafat Islam, Bandung: Mizan, 2003, jilid I

Masruri, Hadi, Ibnu Thufail, Jalan Pencerahan Mencari Tuhan, Yogyakarta: LKIS, 2005

Ibn Thufail, Hayy bin Yqdzan, Anak Alam Mencari Tuhan, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997

Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999


[1] Dalam Ibnu Thufail, Jalan Pencerahan Mencari Tuhan, M. Hadi Masruri mengatakan bahwa masa-masa Ibnu Thufail bukanlah masa-masa yang kondusif untuk beerkembangnya intelektualitas orang-orang di sana, dan saya agak tidak setuju dengan hal ini, meskipun dalam beberapa bidang keilmuan saya setuju dengan dia, bahwa misalnya filsafat mengalami sedikit kurang berkembang pada masa-masa awal kehidupan Ibnu Thufail, tetapi bagaimanapun bidang keilmuan seperti kedokteran, astronomi, bahasa, dan beberapa bidang keilmuan lainnya selain filsafat terus berkembang dengan baik.

[2] Seyyed Hossein Nasr, Oliver Leaman, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Bandung: Mizan, 2003

[3] Ibn Thufail, Hayy ibn Yaqdzan, terj. Ahmadie Thaha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997, hal 19-20

[4] Saya tidak tahu kenapa Ibn Thufail memilih usia ini. Mungkin saja karena memang pada usia inilah manusia biasanya memperoleh kematangan diri, atau juga ini didasarkan pada pengalaman pribadi Ibn Thufail sendiri yang mencapai kematangannya pada usia ini.

[5] satu metafor untuk menggambarkan antara Filsafat yang diwakili Asal dan menganut ajaran agama secara fatalistik ala para fuqaha, yang diwakili Salaman. Dan juga menggambarkan ketidakharmonisan hubungan intelektual Ibn Sina dan al-Ghazali.

21
Mar
08

MULTIKULTURALISME DAN MASA DEPAN INDONESIA

By; 

Muhammad Abduh Ali Saputra BM 

Muqaddimah 

Adalah Samuel P. Huntuington (1993) yang “meramalkan” bahwa sebenarnya konflik antar peradaban di masa depan tidak lagi disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, politik dan ideologi, tetapi justru dipicu oleh masalah masalah suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Konflik tersebut menjadi gejala terkuat yang menandai runtuhnya polarisasi ideologi dunia kedalam komunisme dan kapitalisme. Bersamaan dengan runtuhnya struktur politik negara-negara Eropa Timur. Ramalan ini sebenarnya telah didukung oleh peristiwa sejarah yang terjadi pada era 1980-an yaitu terjadinya perang etnik di kawasan Balkan, di Yugoslavia., pasca pemerintahan Josep Broz Tito: Keragaman, yang disatu sisi merupakan kekayaan dan kekuatan, berbalik menjadi sumber perpecahan ketika leadership yang mengikatnya lengser.1 Lanjutkan membaca ‘MULTIKULTURALISME DAN MASA DEPAN INDONESIA’

15
Mar
08

Modernisasi Pendidikan Sayyid Idrus al-Jufri

By  Djauharul Bar

Mahasiswa ICAS-Paramadina, Jakarta 

Maju dan mundurnya salah satu kaum sangat bergantung kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dikalangan mereka.

Suatu pernyataan yang pasti dibenarkan oleh setiap orang yang ingin menghendaki kemajuan. Ilmu sebagai prasyarat mutlak untuk memulai segala hal, tanpa ilmu orang sekarang mungkin tidak bisa berbuat apa-apa semua yang ada di zaman ini kerena peran ilmu pengetahuan . Tidak pernah tercatat dalam sejarah kemajuan satu bangsa lantaran pendidikannya yang rendah. Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi hebat, melainkan mereka memperbaiki anak didik dan pemuda mereka dengan pendidikan yang layak.

Bangsa  Jepang, salah satu bangsa timur yang sekarang sedang menjadi buah bibir orang  di seluruh dunia lantaran kemjuannya, masih akan terus tinggal dalam kegelapan jika saja mereka tidak mengatur dan memperbaiki pendidikan bangsa mereka. Sebaliknya ada suatu bangsa yang tidak bisa malakukan apa-pun lantaran negarannya tidak lekas memperbaiki kualitas pendidikan para penerusnya. Lanjutkan membaca ‘Modernisasi Pendidikan Sayyid Idrus al-Jufri’

15
Mar
08

REKONSILIASI ISLAM DAN DEMOKRASI, MUNGKINKAH?

BY

Muhammad Abduh Ali Saputra

Mahasiswa ICAS-Paramadina, Jakarta

 Abstraksi;Sebuah proyek besar yang telah dan sedang digarap bangsa Indonesia adalah proyek demokratisasi. Dalam perjalanannya, proyek ini mengalami pasang surut. Terkadang lancar tanpa halangan tetapi juga tersendat. Dua hal yang selalu berkaitan, dan terus akan mempengaruhinya yaitu agama dan kekuasaan. Agama sebagai salah satu unsur vital akan lebih menentukan ke mana arah demokratisasi negeri ini. Dan di sini Islam memegang peranan penting dalam proyek demokratisasi di Indonesia. Islam dengan segala potensinya diharapkan akan menjadi “pencerah” sehingga mampu menjadi motivator sekaligus penopang ke arah demokratisasi Indonesia yang diharapkan. Demokrasi yang mampu menampung segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak hanya bernegara akan tetapi juga beragama. Lanjutkan membaca ‘REKONSILIASI ISLAM DAN DEMOKRASI, MUNGKINKAH?’

15
Mar
08

KALILAH WA DIMNAH, FABEL HIKMAH DAN INSPIRASI

By Fitriyah

Mahasiswa ICAS-Paramadina, Jakarta 

Muqaddimah

Pada awal abad ke-8 M, dalam dunia sejarah sastra Arab, sesungguhnya kegiatan menulis prosa sudah dimulai saat dinasti Umayah berkuasa. Ini dapat dibuktikan dengan adanya karya besar Ali bi Abi Thalib, yakni Nahj Al Balaghah. Karya besar ini sebenarnya berbentuk prosa akan tetapi orang-orang Arab tidak berpandangan demikian. Prosa tidak begitu berkembang disebabkan, pada saat Dinasti Umayyah berkuasa, para penguasa terlalu menempatkan dan memposisikan bangsa Arab dalam kegiatan di bidang sastra dan intelektual sehingga mereka menganggap bahwa sastra Arab adalah sastra yang paling unggul dibanding dengan sastra-sastra lainnya. Akhirnya penulisan prosa tidak begitu berkembang karena mereka lebih berminat  dan senang untuk menulis puisi dari pada prosa. Namun keadaan ini berubah saat peralihan kekuasaan dari Dinasti Umayyah ke tangan Dinasti Abbasiyah. Pada saat itulah prosa mengalami perkembangan dan kemajuan. Para khalifah Abbasiyah mulai memberikan kesempatan dan peluang kepada orang-orang non-Arab (‘Ajm) untuk ikut andil dalam kegiatan penulisan di bidang sastra dan intelektual. Hal ini tidak seperti yang terjadi pada masa dinasti Umayyah berkuasa, yang hanya memprioritaskan orang-orang Arab dalam kegiatan di bidang sastra. Pada masa Abbasiyah, penulisan di bidang sastra mulai melibatkan orang non-Arab, yang sudah menguasai bahasa Arab, khususnya penulis Persia karena mereka juga mempunyai tradisi lama dalam sastra, khususnya dalam penulisan prosa yang kemungkinan dapat terus mengembangkan prosa saat itu. Lanjutkan membaca ‘KALILAH WA DIMNAH, FABEL HIKMAH DAN INSPIRASI’

10
Mar
08

Zum Ewigen Freiden, Perdamaian Abadi Dunia Kant

“Kondisi perang akhirnya akan membawa manusia pada satu kondisi di mana mereka memimpikan keadaan damai. Mereka menyebar ke berbagai penjuru dunia, mencari kedamaian atas tuntunan perang di bawah bimbingan alam…” Immanuel Kant (Zum Ewigen Frieden, 1795)

Muqaddimah
Orang lebih sering melihat Kant sebagai seorang moralis dan kritikus pengetahuan, daripada politikus yang menghasilkan sebuah mahakarya pemikiran politik. Kant lebih cenderung dikenal karena buku-buku kritik dan metafisiknya daripada buku politiknya, yang termaktub dalam Zum Ewigen Freiden. Padahal, ide politik Kant tak dapat dipungkiri telah menjadi satu sindrom yang telah menggejala di seluruh dunia. Sebuah sindrom universalitas manusia, yang menjadi salah satu pijakan bagi gerakan Humanisme internasional saat ini. Namun, di sini anda tak akan menemukan pembahasan tentang gerakan humanisme lebih lanjut. Tema yang akan dibicarakan akan lebih difokuskan pada pemikiran politik Kant itu sendiri. Tema ini menjadi topik utama di pembahasan kali ini bukan karena keunggulannya di antara pemikiran Kant yang lain. Semua pemikiran Kant tentu memiliki keunggulan-keunggulan dengan spesifikasi yang berbeda-beda. Jadi, tema ini diangkat hanya untuk melihat bagaiamanakah konsep politik yang ditawarkan Kant itu. Apakah konsep politik yang diberikan Kant berupa konsep politik yang mengagungkan kebebasan individu seperti yang ditawarkan Locke, ataukah sebuah konsep yang menjadi bayang-bayang pemikiran politik Machiavelli yang menjunjung absolutitas sebuah kekuasaan? Pemikiran Kant akan segera nampak setelah satu-persatu bagian-bagian dari konsep politiknya dibedah. Pembahasan pertama akan menampakkan sebuah bidang besar yang berisi tentang konsep awal perdamaian pada tataran masyarakat lokal hingga taraf dunia. Di sini akan dijelaskan bagaimana perdamaian itu muncul dan dipertahankan. Pembahasan kedua akan sedikit membicarakan relevansi pemikiran Kant ke dalam realita kekinian, dalam masyarakat yang sudah mengglobal. Lanjutkan membaca ‘Zum Ewigen Freiden, Perdamaian Abadi Dunia Kant’

10
Mar
08

Muhammad Iqbal, Cermin yang Tak Pernah Buram

By DJauharul Bar

Mahasiswa S1 ICAS-Paramadina, Jakarta

 

Muqaddimah

Legenda yang tak akan pernah habis dibicarakan, Muhammad Iqbal sosok fenomenal abad 21 telah meninggalkan banyak sekali catatan pemikirannya. Siapa yang tak mengangkat topi kepadanya, nama besar dari keluarga kecil banyak menorehkan tinta emas dalam perjuangannya menindas ketidakadilan. Melawan kekuatan penjajah, mengahabisi tipu daya kapitalis, menghiasi hari-hari dengan alunan kata puitis semuanya merupakan ciri dari sosok Iqbal.

Dikatakan bahwa Iqbal merupakan sosok yang belum tergantikan saat ini, gelar sebagai Sir serta sederet penghargaan erat dengannya. Bahkan, beliau juga disebut sebagai tokoh yang serba bisa, mulai dari pemikir, sufi, penyair, sampai seorang yang cukup agamis. Ini dikarenakan catatan hari-harinya penuh dengan guncangan peristiwa dan makna.

Sejarah tidak bisa melupakan akan jasa dan pengabdiannya terhadap dunia, membuka cakrawala pemikiran, membentangkan aksara kejahiliaan, membebaskan dari penindasan. Sekalipun, banyak sekali aliran pemikiran belakangan ini, akan tetapi semangat pemikiran Iqbal masih up to date, terlihat betapa seorang pemikir ini begitu menghalangi kekuatan Barat yang berlatar belakang kapitalis yang masih menguasai dunia sampai saat ini. Sistem demokrasi yang dilancarkan oleh barat masih harus banyak sekali koreksian. Lanjutkan membaca ‘Muhammad Iqbal, Cermin yang Tak Pernah Buram’

04
Mar
08

Superioritas Wakil Rakyat Hak dan Kewajiban Wakil Rakyat menurut Thomas Hobbes

By Ali Muhayyar

Mahasiswa SI STF Diyarkara, Jakarta

A. Biografi singkat

Lahir pada tahun 1588 di Malmesbury, Inggris. Hidup pada masa yang kejam dan berdarah dalam sejarah Inggris. Waktu Hobbes lahir, Ratu Elizabeth I menundukkan golongan Katolik di Irlandia dan Skotlandia dengan kejam. Setelah inggris dikuasai oleh Stuart, Inggris terpecah antara gereja Anglikan resmi, kaum puritan, dan Katolik; serta pertikaian antara raja dan parlemen. Hobbes sendiri sedikit banyak ikut terlibat dalam konflik politik ini. Tahun 1651 terbit Leviathan yang membuat nyawanya terancam karena memuat kritik atas Gereja Anglikan. Tahun 1679 Hobbes meninggal dengan relatif tenang, karena telah berdamai dengan penguasa waktu itu. Lanjutkan membaca ‘Superioritas Wakil Rakyat Hak dan Kewajiban Wakil Rakyat menurut Thomas Hobbes’

03
Mar
08

Manifestasi Cinta Maulana Jalaluddin Rumi

By: Djauharul Bar

Mahasiswa SI ICAS-Paramadina, Jakarta

Muqadimmah

Sebagai seorang pujangga cinta Maulana Jalaluddin Rumi adalah salah satu tokoh yang sangat populer di dunia Islam, melalui puisi dan syair dia mengungkapkan dengan segala kekaguman diri akan hakikat cinta. Dengan semangat baru melalui kekuatan perasaan dapat mengendalikan akal dan nafsu dan mampu meletakkan asas bagi pembicaraan baru tanpa benturan akal.

Sungguh suatu magnet yang sangat luar biasa. Maulana Jalaluddin Rumi mengibaratkan cinta seperti yang dia ungkapkan ”Cinta dapat menghancurkan segala keraguan, dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih menjadi emas, kering menjadi bening, sakit menjadi sembuh, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakan besi, meghancurleburkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya, seta membuat budak menjadi pemimpin”.

Lebih dahsyat lagi dia menambahkan bahwa cinta adalah “sayap yang dapat menerbangkan manusia yang membawa beban yang sangat berat ke angkas raya, dan dari kedalaman mengangkatnya ke tinggian, dari bumi ke bintang Tsurayya”.

Syair dan puisinya dapat menghangatkan hati yang terluka, menghembusakan perasaan yang rindu kepada sang yang dicintai. Cinta adalah obat yang paling mujarab bagi segala penyakit jiwa. Walaupun kini ia sudah tidak ada tetapi syair dan puisi cintanya sangat melekat di hati dan sanubari sang pencari cinta. Lanjutkan membaca ‘Manifestasi Cinta Maulana Jalaluddin Rumi’