09
Feb
08

Benarkah Nabi Muhammad Buta HUruf?

Kemampuan Nabi Muhammad dalam hal baca tulis sampai saat ini memang tetap menjadi sebuah polemik di dunia Islam. Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa nabi memang buta huruf, sedangkan yang lain mencoba membantah ini. Masing-masing memiliki alasan yang menurut mereka lebih kuat dibanding yang lain.
Baik kelompok yang menolak maupun yang menerima ke-ummi-an nabi sebagai sebuah kebutahurufan sama-sama berangkat dengan menggunakan ayat yang sama dalam perdebatan mereka. Yaitu: “orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…..”

Berkenaan dengan hal ini Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah-nya menyatakan bahwa; “Kata ummi terambil dari kata umm/ ibu dalam arti seseorang yang tidak pandai membaca dan menulis. Seakan-akan keadaanya dari segi pengetahuan atau pengetahuan membaca dan pengetahuan menulis sama seperti keadaan ibunya yang tidak pandai baca-tulis.” Selain itu, masih menurut beberapa mufasirin kata ummi ini berasal dari kata ummah yang menunjukkan bahwa masyarakat pada masa sebelum al-Qur’an turun memang dalam kondisi buta huruf. Namun Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa memang Rasulullah memang benar-benar ummi dalam artian buta huruf. Hal ini dikarenakan untuk menjaga otentitas al-Qur’an itu sendiri. Ini dipertegas al-Qur’an sendiri. “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).”
Kalau dilihat melalui sejarah bangsa Arab, memang pada dasarnya, di lingkungan Hijaz, orang-orang yang pandai memang sangat sedikit sehingga mereka dengan mudah dapat dikenal. Termasuk di Makkah, ibu kota Hijaz. Tentu saja di lingkungan seperti ini, sekiranya Nabi pernah belajar membaca dan menulis pada seorang guru, tentu beliau akan terkenal saat itu. Seandainya kita tidak menerima kenabiannya, bagaimana mungkin beliau dalam kitabnya menjelaskan keummian dirinya dengan tegas? Apakah masyarakat tidak akan protes kepadanya seraya barkata, “Kamu kan pernah belajar”? Hal ini merupakan indikasi yang jelas akan keummiannya.
Pendapat di atas tentu juga menui kritik. Salah satunya dari Syeikh al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius?. Ia mengatakan bahwa para ulama telah melakukan kekeliruan dalam menafsirkan kata ummi dalam al-Qur’an. Al-Maqdisi tidak bisa menerima jika Nabi adalah seorang yang buta huruf dan aksara. “Bagaimana mungkin seorang yang ummi dapat memimpin dan mengajarkan ajaran Tuhan dengan baik jika ia tidak berpengetahuan dan berilmu.” Katanya.
Untuk memperkuat argumennya al-Maqdisi menggunakan hadis yang diriwayatkan Zaid bin Tsabit bahwa Nabi pernah bersabda: “Jika kalian menulis kalimat Bismillahirrahmanir rahim, maka perjelaslah huruf sin di situ.” Hadis ini menunjukkan bahwa nabi pandai membaca dan menulis. Jadi lagi-lagi tidak mungkin orang yang tidak dapat baca dan tulis dapat mengajar umatnya.
Menurut al-Maqdisi kesalahan yang dibuat oleh para ulama pada dasarnya terajadi karena kesalahan pemaknaan pada kata ummi itu sendiri. Kata ummi terlalu diartikan secara letterlock oleh para ulama sehingga apa yang dihasilkannyapun juga literar seperti apa adanya. Kata ummi akan lebih tepat jika diartikan sebagai orang-orang di Arab selain Yahudi dan Nasrani. Karena kedua golongan ini menyebut orang-orang di luar diri mereka sebagai ummi. Jadi seperti itulah pemaknaan yang sesuai mengenai kata ummi ini. Dengan menafsirkan kata ummi ini dengan golongan non-Yahudi dan non-Nasrani, maka kepribadian Nabi sebagai uswatun hassanah tidak akan terkoyak.
Namun, dari kritik inipun saya melihat bahwa al-Maqdisi dalam bukunya itu terlalu berspekulasi dengan tidak melihat kondisi yang ada pada saat itu secara detail. Meskipun pendapatnya juga tidak begitu salah dalam artian pernyataan bahwa ummi itu adalah orang-orang selain Yahudi dan Nasrani, namun, itu belum cukup membuktikan Nabi dapat membaca dan menulis atau tidak. Apalagi jika kita melihat tulisan Martin Lings dalam Muhammad yang menggambarkan kondisi sewaktu Nabi Muhammad masih kecil paska kematiannya kakeknya, beliau harus bekerja untuk mendapatkan nafkahnya sendiri dengan menggembalakan kambing. Ini dikarenakan baik kondisi ekonominya sendiri maupun pamannya, abu Thalib, dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Jadi praktis kehidupan Muhammad hanya berkutat pada pegunungan dan lereng-lereng padang rumput di Hijaz. Dan kemungkinan untuk belajar pada seorang yang pandai di Hijaz pada waktu itupun begitu kecil. Meskipun pernah diriwayatkan ia pernah belajar pada seorang Nasrani yang bekerja sebagai pandai besi, namun riwayat inipun masih diragukan.
Namun ada satu pendapat lagi yang menurut saya menarik. Pendapat ini muncul di kalangan orang-orang Syiah yang meski tetap berpendapat bahwa Nabi memang tidak bisa membaca dan menulis namun mereka mengatakan bahwa Nabi memiliki kemampuan khusus dalam memperoleh kebenaran. Kemampuan itu mereka sebut sebagai intuisi, yaitu kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa memerlukan pengenalan langsung pada apa yang dikenalnya itu. Jadi ketika nabi mengajar dan memberi pelajaran pada para sahabat Nabi tidak perlu bisa membaca dan menulis terlebih dahulu untuk melakukan itu, karena Nabi sendiri adalah ibarat tulisan dan sumber pengetahuan itu sendiri.
Selain itu sebuah riwayat dari Imam Bukhari yang menyebutkan bahwa, “Rasulullah bersabda: Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernafas. Kemudian ia melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’Kujawab, Aku tidak dapat membaca. Ia mendekapku lagi hingga akupun merasa tersesak. Ia melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’ Dan kembali kujawab, aku tidak dapat membaca! Lalu, ketiga kalinya ia mendekapku dan seperti sebelumnya, kemudian melepaskanku dan berkata………………” Ini menunjukkan bahwa nabi memang seorang yang ummi dalam artian tidak bisa membaca dan menulis. Namun tidak menutup kemungkinan lainnya untuk terjadi, karena sejarah bisa saja diutak-atik. Maka dari itu sejarah selalu membutuhkan sikap kritis kita dalam mempelajarinya.

Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim, terjemahan
Lings, Martin, Muhammad, Jakarta: Serambi, 2002
Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Tangerang: Lentera Hati, jilid 5, 2002
Syeikh al-Maqdisi, Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius, Jakarta: Nun Publisher, 2007


10 Tanggapan ke “Benarkah Nabi Muhammad Buta HUruf?”


  1. 1 Yasir Alkaf
    Februari 23, 2008 pukul 5:31 am

    Menurut mas sendiri ke-ummian Nabi itu artinya apa? Atau dari sekian pendapat itu mana yg menurut mas benar? Biar uraiannya lengkap sebainya sih ditulis kesimpulan yg mas ambil setelah melakukan riset ini…

  2. Februari 26, 2008 pukul 10:43 am

    Dari Konteks keumian nabi ini saya melihat bahwa nabi mengalami beberapa fase dalam kehidupan beliau. fase pertama, saat masih kecil dan usia remaja, hingga masa-masa umur dua puluhan. Fase ini, sosok nabi adalah seorang yang memang benar dikatakan buta huruf.
    Setelah fase inilah kemudian spekulasi dapat dimunculkan. masa perkenalannya dengan Khadijah, dijadikan manager khalifah dagang wanita kaya ini. Cukup sulit dikatakan bahwa nabi buta huruf pada sosok nabi sebagai ahli dagang. meski kemudian dapat dimunculkan pula bahwa bisa saja seseorang menjadi pedagang tanpa harus bisa membaca dan menulis. namun sebagai orang kepercayaan khadijah saya pikir Nabi tidak lagi buta huruf, paling tidak beliau telah bisa membaca………………………………..

    • 3 nawal
      Juni 16, 2009 pukul 7:01 pm

      Kakek saya adalah salah satu orang terkaya semasa hidupnya di Palembang,meninggal kira-kira 12 tahun yang lalu.
      Dia adalah seorang direktur dari perusahaan,selain seorang pengusaha restaurant HAR. Dipalembang saja ada lebih dari 40 restaurant belum lagi yang diluar Palembang.
      Beliau cuma bisa membaca Qur’an tapi tidak huruf latin. Seluruh kontrak selalu beliau tanda tangani dengan cap jempol,karena sampai mati dia BUTA HURUF.

      Saya tidak ingin sombong disini,tapi maksud saya seseorang itu bisa saja sangat sukses tetapi buta huruf,kakek saya yang hidup di zaman ini,apalagi Nabi yan ghidup 1430 tahun yang lalu. Ingat buta huruf bukan berarti bodoh,karena nabi adalah seorang jenius.

  3. 4 MZamma
    Mei 9, 2008 pukul 12:42 am

    Jangankan Nabi yang menjadi kholilullah orang biasa saja ada yang tidak sekolah tetapi bisa baca dan bisa menulis bahkan masih kecil (anak-anak) dia sudah bisa bercerah dan hafal Quran, Apa lagi seorang Nabi yang Rosulullah, kholilullah, pasti dengan kuasa Tuhan beliau dapat membaca dan menulis.
    Berkaitan dengan saat menerima wahyu pertama beliau menjawab tidak bisa membaca dan menulis, saat itu memang sebelumnya beliau tidak pernah membaca maupun menulis akan tetapi malaikat Jibril langsung mendekap nabi sampai 3 kali dan Wahyu (al-Quran) secara bertahap (berangsur-angsur) bisa diturunkan kepada Nabi sampai selesai, artinya seandainya Nabi betul-betul tiak bisa membaca dan menulis sampai akhir hayatnya, Wahyu (Al-Quran) tidak akan pernah bisa turun sampai ke Nabi Muhammad SAW dan kita seluruh ummat Islam.
    Karena ketika Wahyu diturunkan itu pasti disabdakan (disuarakan/dibacakan)buat Nabi Muhammad SAW belajar membaca dan menulis itu bukan sesuatu yang sulit dan teramat mudah, kalau tidak begitu beliau tidak akan menjadi Pemimpin Besar yang bisa mengubah keyakinan manusia 1/3 Dunia. Kita Contohkan peristiwa Isra’ Mi’raj yang jaraknya (berjuta-juta tahun cahaya) tidak terukur saja bisa ditempuh dalam beberapa menit, apa lagi transformasi Ilmu membaca dan menulis itu hal yang sangat sepele dan kecil.
    Sekarang manusia baru bisa menemukan metode membaca Al Quran dalam 1 jam, akan tetapi buat Allah tidak ada metode yang baru, Buat Tuhan Allah zaman dahulu, sekarang atau yang akan datang selalu upto date, Tuhan Maha Berkehendak, apa yang Tuhan mau itulah yang terjadi.

  4. November 10, 2008 pukul 5:10 am

    biasanya, orang2 modern akan menggunakan bukti otentik u/ menentukan seseorang bisa menulis/tdk…

    contoh sederhana… bila kita pernah belajar menulis, maka dapat dipastikan akan ada yg pernah kita tulis, entah di kertas, dinding, batu, dll…

    bila memang Rasul saw. bisa menulis, apakah ada peninggalan (manuskrip, artefak, prasasti dll) yang merupakan hasil tulisan Rasul saw…? ternyata sampai detik ini, tdk ada yg bisa membuktikannya… itu menunjukkan bhw Rasul saw. memang ummi dalam pengertian tdk bisa membaca & menulis… ini juga u/ menjaga otentikasi Al-Qur’an bhw Al-Qur’an murni dr Allah, bukan karangan dr Rasul saw… tp, jg lupa bhw Rasul saw. fathanah…

    begitu dulu, saudaraku… semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com

  5. 6 bonie
    Januari 24, 2009 pukul 6:07 am

    Penasaran juga sih berkenaan dg ke-ummui-an Nabi Muhammad. Sebagai seorang panglima perang dan kepala pemerintahan yang bersinggungan dg surat-menyurat dan administrasi lainnya, bagaimana Nabi SAW menjalankan tugasnya tsb?
    Dibilang jenius memang benar adanya tp apakah sama sekali tidak mengenal huruf?
    Alangkah baiknya jika tulisan ini mengupas lebih jauh sehingga menjawab pertanyaan banyak orang selama ini.

  6. 7 Apa bukti otentik bahwa nabi menulis
    April 23, 2009 pukul 1:38 pm

Tinggalkan Balasan