Benarkah Nabi Muhammad Buta HUruf?


Kemampuan Nabi Muhammad dalam hal baca tulis sampai saat ini memang tetap menjadi sebuah polemik di dunia Islam. Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa nabi memang buta huruf, sedangkan yang lain mencoba membantah ini. Masing-masing memiliki alasan yang menurut mereka lebih kuat dibanding yang lain.
Baik kelompok yang menolak maupun yang menerima ke-ummi-an nabi sebagai sebuah kebutahurufan sama-sama berangkat dengan menggunakan ayat yang sama dalam perdebatan mereka. Yaitu: “orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…..”

Berkenaan dengan hal ini Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah-nya menyatakan bahwa; “Kata ummi terambil dari kata umm/ ibu dalam arti seseorang yang tidak pandai membaca dan menulis. Seakan-akan keadaanya dari segi pengetahuan atau pengetahuan membaca dan pengetahuan menulis sama seperti keadaan ibunya yang tidak pandai baca-tulis.” Selain itu, masih menurut beberapa mufasirin kata ummi ini berasal dari kata ummah yang menunjukkan bahwa masyarakat pada masa sebelum al-Qur’an turun memang dalam kondisi buta huruf. Namun Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa memang Rasulullah memang benar-benar ummi dalam artian buta huruf. Hal ini dikarenakan untuk menjaga otentitas al-Qur’an itu sendiri. Ini dipertegas al-Qur’an sendiri. “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).”
Kalau dilihat melalui sejarah bangsa Arab, memang pada dasarnya, di lingkungan Hijaz, orang-orang yang pandai memang sangat sedikit sehingga mereka dengan mudah dapat dikenal. Termasuk di Makkah, ibu kota Hijaz. Tentu saja di lingkungan seperti ini, sekiranya Nabi pernah belajar membaca dan menulis pada seorang guru, tentu beliau akan terkenal saat itu. Seandainya kita tidak menerima kenabiannya, bagaimana mungkin beliau dalam kitabnya menjelaskan keummian dirinya dengan tegas? Apakah masyarakat tidak akan protes kepadanya seraya barkata, “Kamu kan pernah belajar”? Hal ini merupakan indikasi yang jelas akan keummiannya.
Pendapat di atas tentu juga menui kritik. Salah satunya dari Syeikh al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius?. Ia mengatakan bahwa para ulama telah melakukan kekeliruan dalam menafsirkan kata ummi dalam al-Qur’an. Al-Maqdisi tidak bisa menerima jika Nabi adalah seorang yang buta huruf dan aksara. “Bagaimana mungkin seorang yang ummi dapat memimpin dan mengajarkan ajaran Tuhan dengan baik jika ia tidak berpengetahuan dan berilmu.” Katanya.
Untuk memperkuat argumennya al-Maqdisi menggunakan hadis yang diriwayatkan Zaid bin Tsabit bahwa Nabi pernah bersabda: “Jika kalian menulis kalimat Bismillahirrahmanir rahim, maka perjelaslah huruf sin di situ.” Hadis ini menunjukkan bahwa nabi pandai membaca dan menulis. Jadi lagi-lagi tidak mungkin orang yang tidak dapat baca dan tulis dapat mengajar umatnya.
Menurut al-Maqdisi kesalahan yang dibuat oleh para ulama pada dasarnya terajadi karena kesalahan pemaknaan pada kata ummi itu sendiri. Kata ummi terlalu diartikan secara letterlock oleh para ulama sehingga apa yang dihasilkannyapun juga literar seperti apa adanya. Kata ummi akan lebih tepat jika diartikan sebagai orang-orang di Arab selain Yahudi dan Nasrani. Karena kedua golongan ini menyebut orang-orang di luar diri mereka sebagai ummi. Jadi seperti itulah pemaknaan yang sesuai mengenai kata ummi ini. Dengan menafsirkan kata ummi ini dengan golongan non-Yahudi dan non-Nasrani, maka kepribadian Nabi sebagai uswatun hassanah tidak akan terkoyak.
Namun, dari kritik inipun saya melihat bahwa al-Maqdisi dalam bukunya itu terlalu berspekulasi dengan tidak melihat kondisi yang ada pada saat itu secara detail. Meskipun pendapatnya juga tidak begitu salah dalam artian pernyataan bahwa ummi itu adalah orang-orang selain Yahudi dan Nasrani, namun, itu belum cukup membuktikan Nabi dapat membaca dan menulis atau tidak. Apalagi jika kita melihat tulisan Martin Lings dalam Muhammad yang menggambarkan kondisi sewaktu Nabi Muhammad masih kecil paska kematiannya kakeknya, beliau harus bekerja untuk mendapatkan nafkahnya sendiri dengan menggembalakan kambing. Ini dikarenakan baik kondisi ekonominya sendiri maupun pamannya, abu Thalib, dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Jadi praktis kehidupan Muhammad hanya berkutat pada pegunungan dan lereng-lereng padang rumput di Hijaz. Dan kemungkinan untuk belajar pada seorang yang pandai di Hijaz pada waktu itupun begitu kecil. Meskipun pernah diriwayatkan ia pernah belajar pada seorang Nasrani yang bekerja sebagai pandai besi, namun riwayat inipun masih diragukan.
Namun ada satu pendapat lagi yang menurut saya menarik. Pendapat ini muncul di kalangan orang-orang Syiah yang meski tetap berpendapat bahwa Nabi memang tidak bisa membaca dan menulis namun mereka mengatakan bahwa Nabi memiliki kemampuan khusus dalam memperoleh kebenaran. Kemampuan itu mereka sebut sebagai intuisi, yaitu kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa memerlukan pengenalan langsung pada apa yang dikenalnya itu. Jadi ketika nabi mengajar dan memberi pelajaran pada para sahabat Nabi tidak perlu bisa membaca dan menulis terlebih dahulu untuk melakukan itu, karena Nabi sendiri adalah ibarat tulisan dan sumber pengetahuan itu sendiri.
Selain itu sebuah riwayat dari Imam Bukhari yang menyebutkan bahwa, “Rasulullah bersabda: Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernafas. Kemudian ia melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’Kujawab, Aku tidak dapat membaca. Ia mendekapku lagi hingga akupun merasa tersesak. Ia melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’ Dan kembali kujawab, aku tidak dapat membaca! Lalu, ketiga kalinya ia mendekapku dan seperti sebelumnya, kemudian melepaskanku dan berkata………………” Ini menunjukkan bahwa nabi memang seorang yang ummi dalam artian tidak bisa membaca dan menulis. Namun tidak menutup kemungkinan lainnya untuk terjadi, karena sejarah bisa saja diutak-atik. Maka dari itu sejarah selalu membutuhkan sikap kritis kita dalam mempelajarinya.

Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim, terjemahan
Lings, Martin, Muhammad, Jakarta: Serambi, 2002
Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Tangerang: Lentera Hati, jilid 5, 2002
Syeikh al-Maqdisi, Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius, Jakarta: Nun Publisher, 2007

13 responses

  1. [...] Sebab nabi mereka buta huruf. Konteks ini di debat habis-habisan oleh blogger bernama PoetraBoemi dan Ersis Warman Abbas [...]

  2. Menurut mas sendiri ke-ummian Nabi itu artinya apa? Atau dari sekian pendapat itu mana yg menurut mas benar? Biar uraiannya lengkap sebainya sih ditulis kesimpulan yg mas ambil setelah melakukan riset ini…

  3. Dari Konteks keumian nabi ini saya melihat bahwa nabi mengalami beberapa fase dalam kehidupan beliau. fase pertama, saat masih kecil dan usia remaja, hingga masa-masa umur dua puluhan. Fase ini, sosok nabi adalah seorang yang memang benar dikatakan buta huruf.
    Setelah fase inilah kemudian spekulasi dapat dimunculkan. masa perkenalannya dengan Khadijah, dijadikan manager khalifah dagang wanita kaya ini. Cukup sulit dikatakan bahwa nabi buta huruf pada sosok nabi sebagai ahli dagang. meski kemudian dapat dimunculkan pula bahwa bisa saja seseorang menjadi pedagang tanpa harus bisa membaca dan menulis. namun sebagai orang kepercayaan khadijah saya pikir Nabi tidak lagi buta huruf, paling tidak beliau telah bisa membaca………………………………..

    1. Kakek saya adalah salah satu orang terkaya semasa hidupnya di Palembang,meninggal kira-kira 12 tahun yang lalu.
      Dia adalah seorang direktur dari perusahaan,selain seorang pengusaha restaurant HAR. Dipalembang saja ada lebih dari 40 restaurant belum lagi yang diluar Palembang.
      Beliau cuma bisa membaca Qur’an tapi tidak huruf latin. Seluruh kontrak selalu beliau tanda tangani dengan cap jempol,karena sampai mati dia BUTA HURUF.

      Saya tidak ingin sombong disini,tapi maksud saya seseorang itu bisa saja sangat sukses tetapi buta huruf,kakek saya yang hidup di zaman ini,apalagi Nabi yan ghidup 1430 tahun yang lalu. Ingat buta huruf bukan berarti bodoh,karena nabi adalah seorang jenius.

  4. [...] Dari Konteks keumian nabi ini saya melihat bahwa nabi mengalami beberapa fase dalam kehidupan beliau. fase pertama, saat masih kecil dan usia remaja, hingga masa-masa umur dua puluhan. Fase ini, sosok nabi adalah seorang yang memang benar dikatakan buta huruf. Setelah fase inilah kemudian spekulasi dapat dimunculkan. masa perkenalannya dengan Khadijah, dijadikan manager khalifah dagang wanita kaya ini. Cukup sulit dikatakan bahwa nabi buta huruf pada sosok nabi sebagai ahli dagang. meski kemudian dapat dimunculkan pula bahwa bisa saja seseorang menjadi pedagang tanpa harus bisa membaca dan menulis. namun sebagai orang kepercayaan khadijah saya pikir Nabi tidak lagi buta huruf, paling tidak beliau telah bisa membaca sumber :http://poetra [...]

  5. Jangankan Nabi yang menjadi kholilullah orang biasa saja ada yang tidak sekolah tetapi bisa baca dan bisa menulis bahkan masih kecil (anak-anak) dia sudah bisa bercerah dan hafal Quran, Apa lagi seorang Nabi yang Rosulullah, kholilullah, pasti dengan kuasa Tuhan beliau dapat membaca dan menulis.
    Berkaitan dengan saat menerima wahyu pertama beliau menjawab tidak bisa membaca dan menulis, saat itu memang sebelumnya beliau tidak pernah membaca maupun menulis akan tetapi malaikat Jibril langsung mendekap nabi sampai 3 kali dan Wahyu (al-Quran) secara bertahap (berangsur-angsur) bisa diturunkan kepada Nabi sampai selesai, artinya seandainya Nabi betul-betul tiak bisa membaca dan menulis sampai akhir hayatnya, Wahyu (Al-Quran) tidak akan pernah bisa turun sampai ke Nabi Muhammad SAW dan kita seluruh ummat Islam.
    Karena ketika Wahyu diturunkan itu pasti disabdakan (disuarakan/dibacakan)buat Nabi Muhammad SAW belajar membaca dan menulis itu bukan sesuatu yang sulit dan teramat mudah, kalau tidak begitu beliau tidak akan menjadi Pemimpin Besar yang bisa mengubah keyakinan manusia 1/3 Dunia. Kita Contohkan peristiwa Isra’ Mi’raj yang jaraknya (berjuta-juta tahun cahaya) tidak terukur saja bisa ditempuh dalam beberapa menit, apa lagi transformasi Ilmu membaca dan menulis itu hal yang sangat sepele dan kecil.
    Sekarang manusia baru bisa menemukan metode membaca Al Quran dalam 1 jam, akan tetapi buat Allah tidak ada metode yang baru, Buat Tuhan Allah zaman dahulu, sekarang atau yang akan datang selalu upto date, Tuhan Maha Berkehendak, apa yang Tuhan mau itulah yang terjadi.

  6. biasanya, orang2 modern akan menggunakan bukti otentik u/ menentukan seseorang bisa menulis/tdk…

    contoh sederhana… bila kita pernah belajar menulis, maka dapat dipastikan akan ada yg pernah kita tulis, entah di kertas, dinding, batu, dll…

    bila memang Rasul saw. bisa menulis, apakah ada peninggalan (manuskrip, artefak, prasasti dll) yang merupakan hasil tulisan Rasul saw…? ternyata sampai detik ini, tdk ada yg bisa membuktikannya… itu menunjukkan bhw Rasul saw. memang ummi dalam pengertian tdk bisa membaca & menulis… ini juga u/ menjaga otentikasi Al-Qur’an bhw Al-Qur’an murni dr Allah, bukan karangan dr Rasul saw… tp, jg lupa bhw Rasul saw. fathanah…

    begitu dulu, saudaraku… semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol

    http://achmadfaisol.blogspot.com

  7. Penasaran juga sih berkenaan dg ke-ummui-an Nabi Muhammad. Sebagai seorang panglima perang dan kepala pemerintahan yang bersinggungan dg surat-menyurat dan administrasi lainnya, bagaimana Nabi SAW menjalankan tugasnya tsb?
    Dibilang jenius memang benar adanya tp apakah sama sekali tidak mengenal huruf?
    Alangkah baiknya jika tulisan ini mengupas lebih jauh sehingga menjawab pertanyaan banyak orang selama ini.

  8. Apa bukti otentik bahwa nabi menulis | Balas
  9. Orang yang tidak sekolah aja bisa jadi programmer komputer !

  10. Syaikh Al Maqdisi adalah nama samaran, seorang misionaris di Arab. Penerbit Indonesia yg menerbitkan bukunya entah teledor atau sengaja, menerbitkan dengan judul “Buta Huruf atau Jenius” sebagai eufimisme dari judul aslinya “Khurrafatu Ummiyatu Muhammad”, dia menganggap umminya Nabi yg merupakan ijma` ulama2 pendahulu sbg khurafat. Argumentasinya berkisar seputar penafsiran independen tentang ayat dan hadits tanpa sekalipun mencoba untuk merujuk pada pendapat ulama terdahulu. Silahkan cek ke link misionaris berikut: http://alkalema.site90.net/cd1.htm
    dan ini judul buku2nya yg lain: muhammad al watsaniyah (paganisme muhammad), kaafir ibnu kaafir (kafir anak orang kafir), majhul an tarikh muhammad dst. Sayangnya sebagian umat islam yg mudah dibodohi seperti ini.

  11. Ada orang-orang yang beranggapan bahwa Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis atau buta huruf. Dengan anggapan seperti itu, mereka yakin bahwa Al Qur’an benar-benar asli dari Allah dengan alasan bahwa tidak mungkin Al Qur’an dibuat oleh orang yang buta huruf. Demikian kira-kira yang penulis pernah ketahui beritanya. Setelah merenung-renung, penulis menjadi tidak percaya dengan anggapan tersebut. Tidak mungkin seorang Rasul Allah tidak bisa membaca dan menulis.
    Yang menjadikan penulis tidak percaya bahwa Nabi Muhammad adalah seorang buta huruf adalah sebagai berikut. Pertama, Rasul Allah akan menjadi bergantung pada orang lain yang tidak buta huruf. Padahal, tidak satu ayat pun dalam Al Qur’an menyebutkan juru tulis dan juru baca sebagai pembantu Rasul Allah yang mendampinginya. Yang lebih tidak mungkin lagi adalah bahwa Rasul Allah kemudian malah harus beriman atau percaya pada juru tulis dan juru baca karena Rasul Allah tidak bisa mengecek yang ditulis mereka. Padahal, manusia yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani hanyalah Rasul Allah.
    Kedua, Rasul Allah adalah teladan. Bagaimana mungkin seorang teladan tetapi buta huruf? Bukankah Rasul Allah menerima kitab yang harus dibaca manusia? Kalau Rasul-Nya tidak bisa membaca, mengapa orang lain disuruh membaca Al Qur’an? Bukankah Rasul-Nya tidak pernah membacanya karena buta huruf? Jadi, tidak mungkin Rasul Allah buta huruf.
    Ketiga, perlu diingat bahwa Rasul Allah adalah simbol Allah. Artinya, Rasul Allah bekerja atas nama Allah. Rasa-rasanya, tidak mungkin simbol Allah itu akan dijadikan ejekan orang karena dirinya hanya seorang buta huruf. Keempat, tidak mungkin manusia pilihan yang kehadirannya di muka bumi sudah lama direncanakan Allah dan disebutkan dalam kitab sebelum Al Qur’an hanyalah seorang buta huruf. Kelima, menurut cerita, Nabi Muhammad terlahir dalam keluarga terpandang sehingga sangat mungkin mendapatkan pendidikan yang baik dalam lingkungan keluarganya. Dalam pendidikan tersebut tentu ada pelajaran membaca dan menulis. Keenam, sebagai pedagang, tentulah beliau akan mencatat barang dagangan dan uang atau membaca dan menulis perjanjian perdagangan.
    Sehubungan dengan hal di atas, penulis ingin mengaji Al Qur’an, walaupun hanya terjemahan, untuk membuktikan bahwa Rasul Allah tidak buta huruf. Al Qur’an terjemahan yang digunakan akan disebutkan versinya.
    BUKTI BAHWA RASUL ALLAH TIDAK BUTA HURUF
    Ayat yang menurut penulis cukup untuk meyakinkan bahwa Nabi Muhammad dapat membaca adalah 98:2. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa Rasul Allah membacakan lembaran-lembaran atau halaman-halaman yang disucikan. Ini membuktikan bahwa Rasul Allah dapat membaca naskah dalam bentuk lembaran-lembaran atau halaman-halaman. Jadi, sangat jelas bahwa Rasul Allah dapat membaca.
    98:2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), (versi Dep. Agama RI)
    98:2. A Messenger from Allah, reciting purified pages, (Rasul Allah, membacakan halaman-halaman disucikan,) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
    Memang, membaca dapat berarti mengucapkan yang sudah dihafalkan dan dapat pula berarti membaca tulisan-tulisan. Ayat 98:2 tersebut dengan jelas menyebutkan lembaran-lembaran atau halaman-halaman sehingga yang dimaksud di sini adalah membaca tulisan, bukan mengucapkan sesuatu yang sudah dihafal. Ayat lain yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad dapat membaca adalah 17:106.
    17:106. Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (versi Dep. Agama RI)
    Kemampuan membaca dan menulis adalah merupakan satu kesatuan. Orang yang dapat menulis akan dapat membaca yang ditulisnya. Sebaliknya, orang yang dapat membaca harus mengenal huruf. Dengan demikian, menulis hanyalah proses penggambaran imajinasi tentang huruf yang sudah dikenalnya dalam suatu media, misalnya kertas. Oleh karena itu, kemampuan membaca yang dijumpai dalam 98:2 dan 17:106 sudah menjawab bahwa Nabi Muhammad bisa membaca dan menulis atau tidak buta huruf.
    Walaupun demikian, penulis akan menambahkan bukti bahwa Nabi Muhammad juga dapat membaca dan menulis. Ayat yang membuktikan hal tersebut adalah 29:48. Dalam ayat tersebut terungkap bahwa Nabi Muhammad menulis dengan tangan kanan. Seperti kita ketahui bahwa ada orang yang menulis dengan tangan kanan dan ada pula orang yang menulis dengan tangan kiri. Jadi, Allah sudah menyaksikan bahwa Nabi Muhammad ternyata menulis dengan tangan kanan. Dengan demikian, Nabi dapat menulis. Konsekuensi logisnya, Nabi juga dapat membaca karena orang yang bisa menulis akan bisa membaca. Jadi, ayat 29:48 menerangkan bahwa Nabi dapat membaca dan menulis.
    29:48. Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (versi Dep. Agama RI)
    Jika membaca terjemahan 29:48 versi Dep. Agama RI di atas, kita akan mempunyai persepsi bahwa jika Nabi pernah membaca dan menulis, orang-orang tidak beriman akan meragukan Nabi. Persepsi itu dapat terbentuk karena frase andaikata (kamu pernah membaca dan menulis). Perlu diperhatikan bahwa yang berada dalam kurung tersebut adalah penafsiran penerjemah. Terjemahan per kata dalam bahasa Inggris berikut ini akan membentuk persepsi yang berbeda.
    29:48. And you did not recite before it any Book, nor did you write it with your right hand, in that case the falsifiers would have doubted. (Dan kamu tidak membaca sebelumnya Kitab apapun, tidak juga kamu menulisnya dengan tangan kananmu, dalam kasus seperti itu para pemalsu akan telah merasa ragu-ragu.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
    Ayat 29:48 terjemahan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri di atas menjelaskan bahwa yang membuat orang-orang tidak beriman dapat menjadi ragu-ragu adalah jika Nabi pernah membaca atau menulis kitab sebelumnya, bukan jika pernah mambaca dan menulis seperti yang disangkakan penerjemah versi Dep. Agama RI. Artinya, keragu-raguan orang tidak beriman terhadap Al Qur’an tidak akan timbul jika Nabi membaca dan menulis selain kitab, misalnya surat, pengumuman, atau puisi. Dengan demikian, kemampuan membaca dan menulis Nabi bukan sesuatu yang dijadikan alasan orang-orang tidak beriman untuk meragukan Al Qur’an. Oleh karena itu, penafsiran bahwa Nabi Muhammad dibuat buta huruf agar orang-orang tidak beriman menjadi tidak ragu-ragu terhadap Al Qur’an adalah salah.
    Selain itu, dalam terjemahan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri di atas, bentuk tenses-nya adalah past tense, yaitu you did not recite (kamu tidak membaca) dan nor did you write (kamu juga tidak menulis). Artinya, tidak membaca dan tidak menulis yang dimaksud hanya berlaku dalam kasus yang tersebut dalam 29:48, bukan bersifat permanen. Jika diartikan bersifat permanen untuk menggambarkan orang buta huruf, frase tersebut akan menjadi you do not recite dan nor do you write. Jadi, ayat 29:48 justru menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dianggap Allah sebagai orang yang dapat membaca dan menulis.
    Bukti lain bahwa Nabi dapat menulis adalah kesaksian orang-orang yang tidak beriman kepada Al Qur’an. Kesaksian mereka tersurat dalam 25:5. Dalam ayat tersebut, Nabi Muhammad diakui oleh orang tidak beriman sebagai orang yang dapat menulis. Jadi, Nabi dapat menulis.
    25:5. And they say, “Tales of the former people which he has had written down, and they are dictated to him morning and evening.” (Dan mereka berkata, “Dongeng-dongeng orang-orang sebelumnya yang ia telah tulis sebelumnya, dan dongeng-dongeng tersebut didiktekan kepadanya pagi dan petang.” (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: