Membangun Tradisi Ilmiah Islam Indonesia, Mungkinkah?


Dalam setiap alur sejarah, para penguasa nampak begitu berperan dalam menentukan maju-mundurnya satu tradisi ilmiah. Kebijakan yang berpihak, tentu membawa dampak positif bagi perkembangan dan kemajuan pada bidang pendidikan. Sebaliknya, jika kebijakan penguasa kurang memperhatikan pendidikan, hampir dapat dipastikan bahwa tradisi ilmiahpun akan cenderung limbung. Apalagi bila kebijakan penguasa menekan para akademisi dan lembaga-lembaga pendidikan karena beda ideologi misal. Peristiwa pembakaran buku-buku filsafat Ibnu Rusyd (1194-1195) contohnya. Oleh Khalifah Abu Ya’la Yusuf al-Mansur (1184-1199) penguasa Sevilla, karya-karya Ibnu Rusyd tersebut dibumihanguskan hanya karena khalifah lebih condong pada para teolog.[1] Dan runtuhlah tradisi ilmiah filsafat di Sevilla.

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas umat Islam belumlah memiliki tradisi ilmiah yang begitu kuat, saat ini. Faktor inilah yang sedikit-banyak berperan dalam ketidakberhasilan bangsa ini membangun negeri. Selain itu, kenyataan juga memperlihatkan pada kita bahwa bangsa Indonesia hanya diperkenalkan tradisi ilmiah barat. Padahal tradisi ilmiah barat hanya melihat realitas dari satu sisi saja yaitu fisik (konsen di dunia fisik). Para ilmuan dalam bidang-bidang fundamental atas nama tradisi ilmiah menyingkirkan Tuhan. Hal itu karena mereka memisahkan antara agama dan sains. Sehingga, kecenderungan yang timbul adalah muncullah manusia-manusia Indonesia yang abai spiritualitas dan norma-norma agama. Tidak lagi kebaikan bersama sebagai sebuah bangsa dijadikan tujuan untuk diciptakan.

Melihat hal ini seharusnya kita menyadari bahwa sebenarnya di dalam Islam ada cahaya yang dapat digunakan untuk menerangi negeri ini. Tradisi ilmiah Islam dengan dua aspek—fisik dan spiritual— mungkin dapat menjadi pegangan bangsa ini. kita dapat melihat bahwa tradisi ilmiah Islam tidak kalah baik dengan tradisi barat saat ini, bahkan dapat dikatakan melebihi. Dari tradisi Islam itu misalnya muncul karya ilmiah as-Syifa yang membahas semua cabang ilmu pengetahuan, logika (terdiri dari: Isagogi, topika, dialektika, qiyas, retorika, sofistika, puitika), matematika ( terdiri dari: aritmatika, geometri, musik, astonomi), fisika (terdiri dari: Bumi dan langit, generasi dan korupsi, mineralogi, botani, zoologi, psikologi, anatomi, kedokteran), dan metafisika (terdiri dari dua buku yang beridi 23 bidang ilmu). Karya ilmiah yang mungkin hanya ada dalam tradisi Islam.

Dalam tulisan ini setidaknya ada dua tema utama yang menjadi topik bahasannya. Yang pertama, membicarakan tentang tradisi ilmiah Islam. Dalam pembahasannya, tema ini agak berkutat pada pembahasan sejarah tradisi ilmiah yang pernah ada dalam dunia Islam, yang tumbuh dan berkembang pada abad Pertengahan masehi. Di dalamnya juga ada penjelasan sedikit tentang gambaran kota-kota yang pernah menjadi pusat-pusat peradaban Ilmiah Islam. Dengan maksud untuk mengetahui sepeti apakah kondisi-kondisi kota yang di sebut memiliki tradisi ilmiah, dan saya rasa ini menjadi bagian penting untuk diketahui.

Kemudian tema yang kedua, adalah upaya saya untuk melihat tradisi ilmiha di Indonesia. Dengan pembahasan seputar dua sub tema yaitu tradisi ilmiah Islam dan tradisi ilmiah Barat.

Tradisi Ilmiah dalam Islam

Tradisi ilmiah adalah adat atau kebiasaan untuk menjalani kehidupan dengan moda-moda keilmuan yang ditandai dengan kegiatan-kegiatan ilmiah seperti penerjemahan, diskusi, riset ilmiah, dan penyelenggaraan pendidikan.[2]

Sedangkan tradisi ilmiah Islam sendiri merupakan tradisi ilmiah yang ditandai dengan kegiatan dengan penerjemahan karya-karya ilmiah Islam klasik, diskusi keilmuan yang ada dalam Islam, riset ilmiah, dan penyelenggaraan pendidikan Islam atau yang sesuai dengan Islam.[3]

Philip K. Hitti dalam History of the Arabs-nya, mengatakan bahwa kebangkitan intelektual Islam di penghujung abad ke-7 M tidak lepas dari pengaruh asing seperti Yunani, India, Persia, dan Suriah. Dari peradaban asing inilah bangsa Arab mulai mengembangkan diri dengan membangun tradisi ilmiahnya. Terjemahan-terjemahan karya-karya filsafat Yunani, naskah matematika dan astronomi dari India, dan ilmu kesenian kaligrafi dari Persia mulai bermunculan dan mulai mengisi khazanah literatur Islam.[4]

Para penerjemah-penerjemah karya-karya asing itu di antaranya adalah Muhammad Ibn Ibrahim al-Fazari (w. antara 796 dan 809) yang menterjemahkan naskah astronimi dari India yang berjudul Siddhanta. Ada juga Ibnu al-Muqqafa yang menterjemahkan karya sastra dari Persia yang berjudul Kulilah wa Dimnah yaitu buku tentang hukum-hukum pemerintahan. Kemudian, Hunayn Ibn Ishaq yang menterjemahkan buku-buku klasik Yunani seperti Republic (karya Plato) dan Categories, Physics, Magnamoralia (karya Aristoteles). Diriwayatkan bahwa untuk setiap buku yang diterjemahkannya Hunayn oleh al-Ma’mun dibayar dengan emas yang beratnya sama dengan buku yang diterjemahkannya. Selain itu ada pula al-Hajjaj Ibn Yusuf Ibn Mathar (786-833) yang menterjemahkan Elemen karya Euclid dan Almagest karya Ptolemius.[5]

Terjemahan-terjemahan yang dihasilkan dari manuskrip asing itu terkadang begitu sulit untuk dipahami dengan baik, terutama karya-karya filsafat Yunani. Dan karena inilah para penguasa yang tertarik pada keilmuan memerintahkan para ahli untuk memberikan komentar pada karya-karya asing yang sudah diterjemahkan itu. Tercatat bahwa Abu Ya’la Ya’qub Yusuf (1163-1184) penguasa dari dinasti Muwahiddun, di Maroko, memerintahkan Ibnu Rusyd (1126-1198) untuk memberikan komentar pada karya Aristoteles. Ibnu Rusyd pun tinggal di istana dengan membuat komentar-komentar terhadap karya Aristoteles. Komentarnya ini terdiri dari tiga macam, komentar pendek (jami’), komentar sedang (talkhis), dan komentar panjang (syarh atau tafsir).[6] Setiap karya Aristoteles diberinya tiga macam komentar tersebut, padahal karya filosof Yunani itu ada ratusan karya.

Setelah karya-karya asing itu diterjemahkan dan diberi komentar, kemudian para pemikir muslimpun mengembangkan diri dengan menulis karya-karya mereka sendiri. Karya-karya yang berhasil dihasilkan oleh para pemikir muslim itu di antaranya; al-Futuhat al-Makkiyah (penyingkapan Mekah) dan Fushus al-Hikam (Kantong-kantong Kebijaksanaan) karya Ibn ‘Arabi. Al-Jabar karya al-Khawarizmi. Al-Mua’alajah al-Buuqrhatiyah karya Ahmad al-Thabari. Al-Tashrif li Man ‘Ajaz ‘an al-Ta’alif karya Abu al-Qasim Khalaf Ibn ‘Abbas al-Zahrawi, yang membahas tentang ilmu bedah. Kemudian al-Kuliyyat fi ath-Thibb dan Tahafut at-Tahafut karya Ibnu Rusyd. Masih banyak lagi karya-karya asli yang dibuat oelh para pemikir muslim yang jelas tidak dapat disebutkan semua.

Kota-kota berperadaban Ilmiah di Masa Keemasan Islam

Beberapa kota berperadaban ilmiah yang pada umumnya juga menjadi ibukota kerajaan satu dinasti-dinasti Islam di antaranya; Bagdad, Mesir, dan Andalusia.

  1. Baghdad

Kota yang menjadi pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah ini merupakan tempat di mana tonggak tradisi intelektual Islam dibangun. Khalifah kedua—al-Manshur (754-755)— dari dinasti ini memerintahkan penterjemahan-penterjemahan karya-karya ilmiah dan sastra dilakukan. Satu upaya awal yang sangat positif dalam mengembangkan tradisi Islam untuk menjadikan kota Baghdad menjadi pusat peradaban dan kebudayaan Islam.

Yang paling menonjol dari kota Seribu Satu Malam ini adalah kondisi intelektualnya yang begitu dinamis. Para pencari ilmu dan para ilmuan berbondong-bondong ke kota ini. Kota ini telah menjadi daya tarik yang begitu hebat, membuat tradisi-tradisi keilmuan dari Yunani,Persia, dan India berkumpul di kota ini. Yunani dengan filsafatnya, Persia dengan arsitektur dan sastranya, dan India dengan astronomi dan ilmu hitungnya, semuanya berkumpul di kota indah ini. Membentuk satu jaringan yang berkembang menjadi peradaban ilmiah yang mumpuni.

Apalagi dengan adanya madrasah Nizamiyah (abad ke-11 M) yang mampu menampung ribuan anak didik. Dan dengan kekayaan negara yang melimpah, mampu memberikan tidak hanya beasiswa bagi siswa-siswanya, tetapi biaya hidup mereka juga ditanggung. Selain itu para siswa juga disediakan asrama-asrama untuk tempat tinggal semasa belajar. Di madrasah Nizamiyah cabang Thus, tokoh sufi al-Ghazali pernah mengajar. Madrasah lain yang pernah menghasilkan bibit-bibit intelektual lainnya adalah madrasah Musthansiriyah. Madrasah yang didirikan oleh Khalifah al-Mustanshir Billah ini berdiri sejak abad ke-13 M dua abad setelah madrasah Nizamiyah di dirikan. Dan jika benar apa yang digambarkan Le Strange dalam bukunya Baghdad During the Abbasid Calipate, maka madrasah ini merupakan madrasah yang benar-benar istimewa. Bagaimana tidak? Digambarkan bahwa madrasah ini memiliki sistem pengajaran yang modern pada zamannya, dengan membagi empat pengajaran empat madzab Sunni dengan tempat terpisah. Dan masing-masing memiliki seorang profesor yang bertanggung jawab pada fakultas-fakultas itu. Selain itu, madrasah ini juga dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Dari perpustakaan hingga rumah sakit untuk para akademisinya.[7] Dua madrasah inilah yang menjadi pilar-pilar tardisi ilmiah Islam di Bagdad.

Selain dua madrasah tadi khalifah al-Ma’mun juga tercatat memiliki perpustakaan yang koleksi bukunya berjumlah ribuan. Perpustakaan yang dikenal dengan Bait al-Hikmah.[8]

Kehadiran Bagdad sebagai kota ilmiah membantu umat Islam dalam mengembangkan diri. Meski, paska penyerangan Hulagu Khan, kota ini menjadi kota mati.

  1. Mesir (Kairo)

Kairo dibangun pada 17 Sy a’ban 969 M. Dan kemudian di pimpin oleh dinasti Fathimiah. Dinasti ini memiliki kontribusi yang cukup penting bagi tradisi ilmiah kota ini. Pada masa kekuasaan al-Hakim (996-1021) didirikanlah sebuah akademi sekaligus perpustakaan—Dar al-Hikmah— yang menjadi pusat kajian ilmu pengetahuan pada masa itu. Dikatakan bahwa, sebagai perpustakaan, Dar al-Hikmah memiliki sekitar 600.000 jilid[9] buku yang setiap saat bisa dibaca oleh kalangan manapun di kota itu. Buku-buku itu tidak hanya terdiri dari ilmu-ilmu di bidang agama. Dar al-Hikmah juga mengoleksi karya-karya di bidang sejarah, astronomi, biografi, dan kedokteran. Setelah dinasti Fathimiah dikalahkan orientasi Kairo-pun berubah, Yang semula Syi’ah diganti Sunni oleh Shalah al-Dhin.

Pada masa inilah lembaga-lembaga ilmiah baru didirikan, terutama masjid-masjid yang dilengkapi dengan tempat belajar teologi dan hukum. Kamus-kamus biografi, kompendium sejarah, manual hukum, dan kometar-komentar teologi menjadi produk dari kegiatan ilmiah yang berjalan. Rumah-rumah sakitpun tidak ketinggalan mencetak para dokter yang handal. Selain itu didirikanlah rumah sakit tempat orang cacat pikiran. Perpustakaan Iskandaria juga merupakan bagian penting dalam peradaban pengetahuan Islam. Di sini terdapat ribuan manuskrip dan buku-buku yang saat perang Salib sebagian besarnya dimusnakan Pasukan Salib.

  1. Kordoba (Andalusia)

Kordova adalah salah satu kota di Andalusia yang pada masa dinasti Umayyah menjadi pusat ilmu pengetahuan. Dengan universitas Kordova sebagai pusat pendidikan yang ada. Sama halnya madrasah Nizamiyah, universitas Kordova-pun menjadi magnet bagi para pencari ilmu dan para ilmuan, untuk belajar dan berbagi pengetahuan.Atas jasa khalifah Abd al-Rahman al-Nashir dan putranya al-Hakam, kordova menjadi begitu mahsur dalam hal pendidikan. Selain itu khalifah ini juga membangun perpustakaan Kordova yang memiliki koleksi buku kurang lebih 400.000 judul.

Cordoba pada masa itu juga tercatat memiliki 107 sekolah. Delapan puluh di antaranya dibiayai pemerintah untuk mendidik anak-anak kurang mampu. Mereka dapat bersekolah gratis di situ Dan yang 27 sekolah lainnya adalah sekolah swasta, tetapi juga mendapatkan subsidi pendidikan dari pemerintah.[10]

Kordova digambarkan oleh Syed Amir Ali[11] sebagai sebuah kota dengan kehidupan dan aktivitas yang bercorak tradisi ilmiah sekali. Di sana para guru dan siswa berdatangan untuk mengasah dan menebarkan pengetahuan. Masjid-masjid dipenuhi para siswa yang melakukan aktivitas belajar. Filsafat, sastra, astronomi, dan ilmu-ilmu lainnya dipelajari di kota ini.

Adakah tradisi ilmiah Islam di Indonesia?

Meskipun sedikit literatur yang menjelaskan tentang aktivitas ilmiah Islam di Indonesia, namun dapatlah dikatakan bahwa tanah nusantara ini pernah memiliki tradisi ilmiah itu. Hal ini tentu tak lepas dengan kedatangan Islam ke Indonesia yang sampai saat ini sejarahnya masih simpang siur. Ada yang mengatakan bahwa Islam datang sejak abad abad ke-11 Masehi dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maemun di Leran (Gresik). Penemuan makam pertama yang menggunakan atribut Islam ini disinyalir sebagai tonggak sejarah kedatangan Islam di negeri ini.

Fase berikut setelah adanya gelombang Islam masuk ke Nusantara, di pesisir-pesisir tempat yang biasanya strategis untuk menjadi pelabuhan internasional berdirilah kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam. Hal ini juga tidak lepas dengan semakin mundurnya pengaruh Sriwijaya terhadap perdagangan dunia. Sriwijaya lama-kelamaanpun meredup digantikan kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudra Pasai, Aceh Darussalam, Demak, Pajang, Mataram, Cirebon, Banten, Kutai, Goa-tallo.

Namun sayangnya dari sekian banyak kerajaan Islam yang ada, catatan mengenai adanya tradisi ilmiah Islam kurang begitu jelas. Tetapi dengan demikian bukan berarti kita tidak memiliki tradisi ilmiah. Dalam sejarah Aceh Darussalam (abad ke-17) disebutkan bahwa Sultan Iskandar Iskandar Muda suka sekali mengundang para ulama untuk berdebat di istananya. Melalui Bustan al-Salathin[12] karya Syaik al-Raniri hampir dipastikan bahwa memang ada tradisi ilmiah Islam di masa itu, tetapi kajiannya hanya terfokus pada bidang-bidang teologi, fikih, Qur’an, hadits, dan tasawuf. Sedangkan bidang-bidang kajian seperti filsafat, ilmu sosial, dan ilmu alam lainnya kurang begitu nampak dikembangkan. Filsafat mungkin ada, yaitu filsafat wujudiyah ibnu Arabi, namun itupun mendapatkan label sesat bagi yang mengikutinya. Orang-orang seperti Hamzah Fansuri merupakan salah satu korban label sesat itu. Bahkan karena ajaran-ajarannya, namanya tidak pernah ada secara gamblang disebutkan dalam buku al-Raniri. Padahal pada masanya, Hamzah Fansuri merupakan salah satu tokoh yang memiliki pengaruh yang luas di kalangan Islam. Tradisi Ilmiah Islam memang pernah ada di nusantara, meski ranah kajiannya masih terbatas pada ilmu-ilmu agama. Begitupun di Jawa. Tradisi yang berkembang masih tetap terfokus pada hal yang sama ilmu-ilmu alam bahkan sama sekali tidak diajarkan di dalam tradisi ilmiah yang diajarkan melalui pesantren-pesantren, parahnya lagi mempelajari ilmu alam terkadang dianggap sebagai bid’ah.

Dan kondisi ini terus bertahan hingga bangsa Indonesia dikuasai oleh penjajah. Pada bulan Februari 1817, sebuah sekolah dasar sekuler didirikan di Weltevreden (Menteng).[13] Satu titik yang mengawali peta tradisi ilmiah Indonesia menjadi dua mainstream. Pertama, arus tradisi ilmiah Islam dengan memegang ajaran-ajaran agama sebagai bagian dari pengajaran-pengajajaran dengan basis di pesantren, surau, meunasah, atau dayah. Kedua, adalah arus tradisi ilmiah barat yang mulai dikembangkan seiring munculnya kebutuhan akan pegawai-pegawai rendahan bagi pemerintahan kolonial belanda.

Arus tradisionalisme sampai saat inipun masih tidak banyak berubah dengan masa-masa dulu. Mempelajari ilmu-ilmu agama dengan tidak menyertakan ilmu-ilmu sosial dan alam dalam kurikulum mata pelajarannya, meskipun tidak semuanya sekarang tetap seperti ini. Sedangkan arus kedua, dalam sejarahnya mengalami perkembangan yang cukup menarik untuk ditelusuri.

Berangkat dari politik etisnya, Belanda kemudian mulai membangun sekolah-sekolah yang pada awalnya ditujukan bagi kaum Boemiputra (pribumi). Sekolah Rakyat (vernacular Schools) dirintis mulai tahun 1849, dengan berdirinya dua sekolah eksperimen. Yang kemudian pada tahun 1852 meningkat menjadi 15 buah. Pada akhir abad ke-19, HBS (Sekolah Menengah Atas) di dirikan.

Dan pada abad ke duapuluh HIS (Holland Inlandsche School—sekolah belanda untuk pribumi) juga didirikan, di susul dibangunnya MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs—sekolah menengah)[14] pada tahun 1914. Yang meski pada kenyataannya rakyat biasa hanya bisa sekolah sampai tingkat Sekolah Rakyat (Vernacular Schools) saja yang setingkat dengan sekolah dasar saat ini. Sedangkan sekolah lanjutan hanya bisa dinikmati orang-orang penting di negeri ini yaitu anak-anak para orang-orang Belanda sendiri dan anak-anak para pejabat-pejabat pribumi.

Awal abad keduapuluh, tradisi ilmiah yang kedua ini mulai menggeliat, pada tanggal 28 Oktober 1928 gerakan-gerakan terdiri dari anak-anak muda Indonesia yang mendapat “pencerahan” memprakarsai Sumpah Pemuda. Mereka yang pernah belajar di luar negeri, dan di sekolah-sekolah elit di Indonesia semisal sekolah kedokteran STOVIA (School tot opleiding Van indlandsche artsen), bersama bergabung dengan semua elemen anak muda Indonesia dan mengikrarkan Sumpah Pemuda pada tanggal itu. Jadi tradisi ilmiah yang ada pada masa itu memang belum diorientasikan pada kegiatan ilmiah itu sendiri. Ini harus di lihat sebagai sebuah jalan yang harus dilalui sebuah bangsa yang belum merdeka. Tapi yang perlu dicatat bahwa pada masa-masa itu anak-anak muda Indonesia mulai mengenalkan diri mereka pada tradisi ilmiah itu, dan mereka mulai sadar bahwa itu adalah hak mereka yang harus diperjuangkan. Dan untuk dapat melakukan hal itu, bangsa ini harus merdeka dari penjajahan.

Setelah merdeka, anak-anak muda dengan tradisi ilmiah barat inilah yang kemudian menjadi fouding father bangsa ini. Dan berangkat dari sinilah pertanyaan kenapa saat ini kita cenderung hanya mengenal tradisi ilmiah Barat terjawab. Padahal bangsa ini mayoritas adalah muslim. Tradisi ilmiah pada dasarnya tidak jelek, namun tetap memiliki kekurangan yang dapat kita saksikan sebagai minimalitas spiritual dalam gerak kehidupannya. Makanya kenapa sampai saat ini kita masih saja berkutat pada keterpurukan dan masih menjadi bangsa yang terbelakang, ini karena spiritualitas yang kita dalam tradisi ilmiah belum muncul. Lagi-lagi ini berangkat dari tradisi ilmiah Barat yang memusatkan segala sesuatu pada hal-hal yang fisis.

Saat ini kita memiliki peradaban-peradaban fisik yang menggambarkan adanya wajah tradisi ilmiah Islam di situ. Lihat saja UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta, sebagai salah satu miniatur peradaban tradisi Islam Indonesia, yang dari segi bangunan nampak megah dan modernis, serta Islamis. Namun spirit dari tradisi ilmiah Islam itu belum begitu hadir menjiwai dalam peradaban itu. Tradisi fisik memang sudah Islam, namun tradisi jiwa kita masih kebarat-baratan. Dari hal ini kita tidak dapat mengatakan bahwa ini tanggung jawab atau salah siapa. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan memberi jalan keluar bagi negeri ini. Katakanlah bahwa ini tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah, para akademisi atau siapapun itu! Membangun negeri ini dengan tradisi ilmiah baik Islam maupun Barat, tidak hanya dapat mengadalkan patronase pemerintah. Partisipasi semualah yang akan menjawab hal itu.

Daftar Pustaka

Ahmad, Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004

Hadi, W., M., Abdul, Tasawuf yang Tertidas, Jakarta: Paramadina, 2001

Hitti, K., Philip, History of the Arabs, Jakarta: Serambi, 2005

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta: Grafindo Pustaka, 2005

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Grafindo Pustaka, 2001

Kertanegara, Mulyadi, Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, Jakarta: Baitul Ihsan, 2006

Latief, Yudi, Intelegensia Muslim dan Kuasa, Bandung: Mizan, 2005


[1] Ahmad, Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004, hal. 196. Lihat juga, Philip, K Hitti, Hostory of the Arabs, Jakarta: Serambi, 2005, hal. 742.

[2] Terpaksa saya menggunakan definisi sendiri untuk mengartikan apa yang disebut sebagai tradisi ilmiah ini. Yang mungkin dari definisi ini masih banyak kekurangan.

[3] Meski tak menutup kemungkinan kajian-kajian keilmuan non-Islam untuk dapat dimasukkan. Karena bagaimanapun ketika mempelajari keilmuan Islam, keilmuan lainpun juga diperlukan.

[4] Philip K. Hitti, Ibid, hal. 381-383.

[5] Ibid, hal. 382-392.

[6] Ibid, hal. 743. Lihat juga, Ahmad, Zainul Hamdi, Op.Cit, hal. 192.

[7] Mulyadi, Kertanegara, Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, Jakarta: Baitul Ihsan, 2006, hal.30.

[8] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarat: Grafindo Persada, 2001. hal. 279.

[9] Mulyadi, Kertanegara, Op.Cit, hal. 37.

[10] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ikhtiar Baru van Hoeva, Jilid 1, 1994, hal. 275.

[11] Ibid, hal. 293.

[12] Abdul Hadi W.M, Tasawuf yang tertindas, Jakarta: Paramadina. 2001, hal.116.

[13] Yudi Latief, Intelegensia Muslim dan Kuasa, Bandung: Mizan, 2005, hal. 87, footnote.

[14] Ibid, hal. 97.

2 responses

  1. trima kasih banyak.. tulisan yang sangat bermanfaat dab ilmiah,.

  2. Tolong kirimkan tulisan tentang puncak keemasan ilmu islam dan tradisinya. Tempat atau daerahnya dan periode waktunya serta pemhuasanya. Syukron katsiron.
    Muhammad Shofwan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: