Dalam setiap alur sejarah, para penguasa nampak begitu berperan dalam menentukan maju-mundurnya satu tradisi ilmiah. Kebijakan yang berpihak, tentu membawa dampak positif bagi perkembangan dan kemajuan pada bidang pendidikan. Sebaliknya, jika kebijakan penguasa kurang memperhatikan pendidikan, hampir dapat dipastikan bahwa tradisi ilmiahpun akan cenderung limbung. Apalagi bila kebijakan penguasa menekan para akademisi dan lembaga-lembaga pendidikan karena beda ideologi misal. Peristiwa pembakaran buku-buku filsafat Ibnu Rusyd (1194-1195) contohnya. Oleh Khalifah Abu Ya’la Yusuf al-Mansur (1184-1199) penguasa Sevilla, karya-karya Ibnu Rusyd tersebut dibumihanguskan hanya karena khalifah lebih condong pada para teolog.[1] Dan runtuhlah tradisi ilmiah filsafat di Sevilla. Lanjutkan membaca ‘Membangun Tradisi Ilmiah Islam Indonesia, Mungkinkah?’
Cari
Bulan
Blogroll
Entri Terkini
- DOKTRIN TEOLOGI AHMADIAH DALAM KONSEPSI SYARIAT JIHAD
- Al-Ghazali
- Ibn Taimiyyah
- AL-MAWARDI: Biografi dan Pemikiran politiknya
- Pemikiran Politik Al-Farabi
- Pancasila sebagai Etika Politik:Ironi Pedoman hidup bangsa yang Diagungkan
- ISLAM, MARXISME DAN PERSOALAN SOSIALISME DI INDONESIA
- Islam, Kemajuan, dan Indonesia
- Manusia Otentik
- Paradigma Sufistik dalam Sastra