Arsip untuk Februari, 2008

20
Feb
08

Konsep Manusia dalam al-Qur’an

Muqaddimah

Wacana tentang asal-usul manusia, menjadi satu hal yang menarik untuk dikaji dan dikaji lagi lebih dalam. Dua konsep (konsep evolusi dan konsep Adam sang manusia pertama) menimbulkan perdebatan yang tak habis-habis untuk dibahas.

Di satu sisi konsep evolusi menawarkan satu gagasan bahwa manusia adalah wujud sempurna dari evolusi makhluk di bumi ini. Sedangkan konsep yang kedua mengatakan bahwa manusia adalah keturunan Adam dan Hawa. Lanjutkan membaca ‘Konsep Manusia dalam al-Qur’an’

20
Feb
08

Kapitalisme, Sosialisme dan Sistem Ekonomi Indonesia

Pembahasan tentang ekonomi dan permasalahannya, seperti tidak akan lekang dimakan zaman. Entah itu, dalam tingkat yang paling sederhana ekonomi rumah-tangga, ataupun dalam tataran yang lebih luas, dalam konteks ekonomi negara misalnya. Sifat dasar manusia yang ingin selalu memenuhi kebutuhannya, semakin menambah ruang lingkup pembahasan itu semakin luas. Pembahasan masalah ekonomi berkembang menjadi pembahasan permasalahan manusia itu sendiri. Dengan kebutuhan yang tidak pernah habis manusia dibuat menjadi sibuk. Kenyataan inilah yang membuat manusia diliputi masalah-masalah ekonomi.

Perekonomian dunia yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia, memiliki cerita sejarah yang panjang. Deretan-deretan tulisan yang menerangkannya pun tak akan habis dibaca, selalu ada bagian-bagian tertentu yang masih tersisa untuk dibuka dan dipahami. Lanjutkan membaca ‘Kapitalisme, Sosialisme dan Sistem Ekonomi Indonesia’

09
Feb
08

Benarkah Nabi Muhammad Buta HUruf?

Kemampuan Nabi Muhammad dalam hal baca tulis sampai saat ini memang tetap menjadi sebuah polemik di dunia Islam. Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa nabi memang buta huruf, sedangkan yang lain mencoba membantah ini. Masing-masing memiliki alasan yang menurut mereka lebih kuat dibanding yang lain.
Baik kelompok yang menolak maupun yang menerima ke-ummi-an nabi sebagai sebuah kebutahurufan sama-sama berangkat dengan menggunakan ayat yang sama dalam perdebatan mereka. Yaitu: “orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…..” Lanjutkan membaca ‘Benarkah Nabi Muhammad Buta HUruf?’

07
Feb
08

Membangun Tradisi Ilmiah Islam Indonesia, Mungkinkah?

Dalam setiap alur sejarah, para penguasa nampak begitu berperan dalam menentukan maju-mundurnya satu tradisi ilmiah. Kebijakan yang berpihak, tentu membawa dampak positif bagi perkembangan dan kemajuan pada bidang pendidikan. Sebaliknya, jika kebijakan penguasa kurang memperhatikan pendidikan, hampir dapat dipastikan bahwa tradisi ilmiahpun akan cenderung limbung. Apalagi bila kebijakan penguasa menekan para akademisi dan lembaga-lembaga pendidikan karena beda ideologi misal. Peristiwa pembakaran buku-buku filsafat Ibnu Rusyd (1194-1195) contohnya. Oleh Khalifah Abu Ya’la Yusuf al-Mansur (1184-1199) penguasa Sevilla, karya-karya Ibnu Rusyd tersebut dibumihanguskan hanya karena khalifah lebih condong pada para teolog.[1] Dan runtuhlah tradisi ilmiah filsafat di Sevilla. Lanjutkan membaca ‘Membangun Tradisi Ilmiah Islam Indonesia, Mungkinkah?’

05
Feb
08

Reaktualisasi Budaya Kritik

Baik pemikiran al-Ghazali (1058-1111M) ataupun Ibnu Rusyd (1126-1198M) pada dasarnya memiliki satu garis hubung yang sama di mata umat Islam. Yaitu sebuah garis yang berangkat dari titik pemikiran Ibnu Sina dengan aliran filsafat yang memiliki bangunan dasar wahdat al-wujud. Dari sinilah al-Ghazali mulai mengeluarkan komentar-komentar yang mungkin lebih tepat disebut sebagai kritikannya terhadap filsafat.[1] Al-Ghazali begitu gigih membantah lontaran-lontaran argumen dari para filosof dengan titik fokus pada filsafat metafisik mereka.[2] Dan kemudian mengumandangkan bahwa para filsuf yang dengan tiga hal (keabadian alam, pengetahuan Tuhan yang universal, menolak bangkitnya jasad setelah mati) yang diajarkannya adalah kafir, termasuk bagi mereka yang mengikutinya. Lanjutkan membaca ‘Reaktualisasi Budaya Kritik’

04
Feb
08

Berguru Pada Syaikh Attar Melalui Manthiq at-Thair

Prolog

Bukan bercerita tentang Attar si Penebar Wewangian itu. Bukan tentang Attar yang berkelana karena kata-kata seorang fakir akan harta benda ketika ia meracik obat dikedainya. Juga bukan tentang dia yang meninggalkan Nisyapur tempat kelahirannya untuk meneguk setetes ilmu dari orang saleh dari madzhab Kubrawiyyah, Syaikh Ruknuddin Akkah. Bukan pula tentang pengembaraannya melewati panasnya matahari gurun menuju Mekkah melewati Kufah, Damaskus, Turkistan, dan India yang tanpa uang sepeserpun itu. Lagi-lagi bukan tentang Attar Si Jerami, penghempas takdir ketokohan Jalaludin Rumi, Sufi madzab Cinta dari Konya, karya ini akan berkata panjang lebar. Lanjutkan membaca ‘Berguru Pada Syaikh Attar Melalui Manthiq at-Thair’

03
Feb
08

Gejala Spiritualitas “Menyimpang”, Sesat Tidakkah Pelakunya

Fenomena munculnya ajaran-ajaran yang dapat dikatakan sebagai sempalan dari agama-agama besar terutama Islam, menjadi bagian menarik dari wacana yang akhir-akhir ini beredar. Dimulai dari Ahmadiyah, kemudian Lia Aminuddin, dan wacana besar berkaitan dengan ini, yang belum lama mengisi benak kita tentu adalah munculnya “nabi baru” yang sekarang sudah bertobat—Ahmad Mushaddeg. Gejala-gejala macam apakah ini? Hingga orang-orang seperti Lia Aminuddin dan Ahmad Mushaddeg dengan terang-terangan mengaku menjadi orang suci yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Munculnya Lia Amunuddin dengan Jibrilnya dan Ahmad Mushaddeg dengan kenabiannya tentu tidak dapat dipandang sebelah mata. Meski sekarang Ahmad Mushaddeg sudah bertobat dan Lia masih mendekam di bui tahanan tentu pertanyaan awal tadi belumlah mampu terjawab dengan baik oleh berita-berita yang hadir di tengah-tengah kita. Kenabian Ahmad Mushaddeg dan kejibrilan Lia meninggalkan bekas noda yang sulit dihilangkan di benak dan hati kita. Lanjutkan membaca ‘Gejala Spiritualitas “Menyimpang”, Sesat Tidakkah Pelakunya’