Sastra Islam, Sastra Sufi


Bersyukurlah karena Tuhan mengirimkan seorang nabi sempurna yang telah menyemai benih salah satu peradaban besar dunia. Dan berbahagialah karena Tuhan telah menghiasi peradaban itu dengan keindahan dan keberisian cita makna. Islam datang dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang maha indah yang hanya dapat dicapai dengan pengalaman pribadi yang tiada sempurna mampu dilukis kata. Jangan pernah katakan agama yang dibawa Sang Cahaya Ilahi ini miskin rasa dan makna. Di sinilah kau lihat dan akan kau temukan apa yang selalu kau sangsikan keberadaanya. Sebuah penerimaan baru yang belum pernah kau rasa. Mari! Kau yang selalu dihinggapi rindu dan cinta, bersamalah kami menyelami kesejukan samudera yang maha dalam ini. Di sinilah rindu dan cintamu akan terpuaskan.

Islam memiliki tradisi sastra yang dapat dikatakan berbeda dengan berbagai macam karya lain di luarannya. Hal ini tidak lepas dari dasar yang digunakan oleh pelaku-pelaku sastra tersebut. Dasar yang mewarnai corak ragam seni dan sastra Islam antara lain; bertumpu pada al-Qur’an, hadist, falsafah, dan estetika di dalam Islam. Lalu apa yang membedakan sastra Islam dengan sastra lainnya? Bukankah semua sastra memiliki ciri-ciri yang hampir sama, yaitu paling tidak harus memiliki empat unsur yang membentuknya. Pertama, majaz (figuratif). Kedua, tasbih (image atau citraan). Tiga, tamsil (simbol perumpamaan). Dan yang terakhir, istiarah (metafora). Dan saya pikir sastra manapun memiliki hal itu, meski tidak mutlak. Perbedaan mendasar antara sastra Islam dan sastra lainnya dapat dikatakan terletak pada kedekatan sastra Islam pada dunia tasawuf. Sastra Islam setidaknya berkembang karena tasawuf. Sejak abad ke-10 M, sastra telah digunakan oleh para sufi sebagai media dalam kegiatan keruhanian mereka. Perbedaan inilah yang nampak relevan untuk menjadi ciri khas sastra Islam, meskipun tidak menutup kemungkinan ada banyak perbedaan lainnya. Dari sinilah kemudian muncul sastra sufi, yaitu sastra Islam yang berisi artikulasi-artikulasi pengalaman sufi. Dalam perkembangannya, sastra sufi disemarakkan oleh dua aliran besar sastra. Pertama, sastra Arab yang berkembang dari abad 8 M hingga abad 13 M. Aliran ini dipelopori oleh seorang sufi wanita, Rabiah al-Adawiyah, yang terkenal karena begitu cintanya pada Tuhan, hingga segala penderitaan dalam hidupnya tidak ada arti baginya, kecuali itu berkenaan dengan kecintaannya pada Allah. Selain Rabiah sastra Arab juga diwarnai oleh Dhu al-Nun al-Misri, Sumnun bin Hasan Basri, Bayazid al-Bistami, Saqiq al-Balkhi, Sari al-Saqati, Junaid al-Baghdadi, Abu Bakar al-Syibli, Abu al-Hasan al-Nuri, Mansur al-Hallaj, Niffari, dan Abu al-Qasim al-Sayyani. Sastra sufi Arab kemudian mencapai masa jayanya pada tokoh-tokoh seperti Ibn `Arabi, Sustari, Sadruddin al-Qunyawi, Ibn Atha`ilah al-Sakandari, Ibn al-Farid, Ibn Tufayl, Qushairy, Imam al-Ghazali, dan Najamuddin Daya.

Aliran sastra kedua yang mewarnai sastra sufi adalah Sastra Persia. Sastra sufi yang berkembang sejak abad 11 hingga 18 M ini diwarnai oleh tokoh-tokoh seperti Sana`i, Abu Sa`id al-Khayr, Khwaja Abdullah Anshari, Baba Kuhi, Baba Tahir, Fariduddin `Attar, Ruzbihan Baqli, Jalaluddin Rumi, Nizami al-Ganjawi, Fakhrudin `Iraqi, Sa`di, Suhrawardi, Mahmud al-Shabistari, Maghribi, dan Jami Karim al-Jili.

Dari orang-orang inilah sastra sufi berkembang ke berbagai tempat, terutama tempat-tempat yang penduduknya beragama Islam. Sastra sufi tercatat telah merasuki sastra yang berkembang di negara-negara seperti: Turki, Afrika, India, dan Kepulauan Melayu.

Sastra Sufi, Hanyakah Cinta Ilahi?

Tentu ada yang membedakan antara sastra Arab maupun sastra Persia pada umumnya, dengan sastra sufi. Philip K. Hitti dalam History of Arab-nya mengatakan bahwa pada awalnya sastra Arab bercirikan ungkapan-ungkapan yang singkat, tegas, dan sederhana, namun dalam perkembangannya sastra Arab dan Persia tumbuh dengan kecendrungan untuk menggunakan ungkapan-ungkapan kiasan dan bersayap. Selain itu biasanya kedua aliran sastra berkisah tentang kehidupan pengelana, kisah cinta anak manusia, lingkup padang pasir, masalah-masalah sosial, dan terkadang kritik-kritik terhadap pengusa. Sedangkan sastra sufi dalam bahasannya lebih menekankan pada ungkapan-ungkapan cinta pada Tuhan. Dalam salah satu sajak Rumi, gambaran tentang ungkapan-ungkapan cinta itu akan dapat kita lihat;

Suatu malam seorang berseru “Allah!” berulang-kali hingga bibirnya menjadi manis oleh pujian-pujian bagi-Nya. Setan berkata, “ Hai kau yang banyak berkata-kata, mana jawaban ‘Aku di sini’ (labayka) atas semua seruan ‘Allah’ ini?Tak satupun jawaban yang datang dari ‘Arsy: berapa lama kau akan berkata ‘Allah’ dengan wajah suram?………………………………………………….

Dan semangatmu adalah utusan-Ku kepadamu. Ketakutanku dan cintamu adalah jerat untuk menangkap Karunia-KuDi balik setiap ‘O Tuhan’-Mu selalu ada ‘Aku di sini’ dariku.”

Tema cinta menjadi tema utama dalam sastra sufi, menurut Dr. Abdul Hadi W.M karena cinta merupakan peringkat keruhanian tertinggi dan terpenting dalam dunia sufi. Hanya dengan cintalah ungkapan-ungkapan perasaan antara seorang sufi dengan Tuhannya dapat termanifestasikan. Cinta bukan sekedar cinta biasa. Cinta dalam kehidupan sufi adalah cinta altruis pada yang dicintainya. Seperti yang digambarkan dalam sajak Rumi di atas, seorang pencinta Tuhan dalam cintanyapun tidak akan mengatasnamakan dirinya sendiri dalam setiap munajatnya. Cinta seperti inilah yang disebut cinta sejati, cinta yang terdiri dari; keintiman (uns) seorang pecinta dan yang dicintainya, kerinduan (syawq), kecenderungan hati (mahabbab), ketulusan, dan kesabaran (sabr). Tidak jauh berbeda dengan Rumi, Rabiah al-Adawiyah-pun dalam setiap sajak dan pusinya begitu bermandikan cahaya cinta;

Saudara-saudaraku, Khalwat merupakan ketenangan dan kebahagiaankuKekasihku selalu di hadapankuTak mungkin aku mendapat pengganti-NyaCinta-Nya pada makhluk cobaan bagikuO, hati yang ikhlasO, tumpuan harapanBerikanlah jalan untuk meredam keresahankuO, Tuhan, sumber bahagia dalam hidupkuPada-Mu saja, kuserahkan hidup dan keinginan

Kupusatkan seluruh jiwa ragakuDemi mencari ridha-MuApakah harapanku akan terwujud?

Agak berbeda dengan sufi Rumi, Rabiah yang terkenal cantik, tetap tidak menikah dikarenakan kecintaannya pada Allah. Dengan begitu cinta menurut Rabiah adalah totalitas cinta yang dapat diberikan kepada yang kekasihnya. Seorang pecinta harus rela berkorban demi yang dicintainya. Seperti halnya Rabiah yang rela mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan dari cintanya. Meskipun pada akhirnya dalam kesufian Rumi totalitas cintanyapun muncul ketika muncul tokoh sufi misterius yang menjadi kawan sekaligus guru sufinya-Syamsi Tabriz. Namun penulis tetap menilai bahwa totalitas cinta yang dimiliki Rabiah terlihat lebih besar dibandingkan Rumi. Terlihat dari bait terakhir puisinya di atas. Dia berkorban hanya karena berharap akan keridhaan sang kekasih, apapun ia lakukan untuk itu. Selain cinta Rabiah hanya diberikan pada seorang kekasih semata, hanya Tuhannya. Sedangkan di dalam hubungan percintaan Rumi, terlihat ada hubungan percintaan segitiga antara Rumi, Syam, dan Allah. Rumi begitu mencintai Syam sampai tergila-gila karena sempat ditinggal, sedangkan kecintaan Rumi pada Allah-pun tidak diragukan. Meskipun kita juga harus melihat siapa sebenarnya Syam ini. Tokoh Syamsi Tabriz ini jangan-jangan hanyalah tokoh karangan yang dibuat Rumi untuk menjadi sosok pengganti bagi Allah. Dan jika memang demikian, kesimpulan lainpun harus dibuat. Namun demikian pendapat umum yang beredar tentu bahwa Syamsi Tabriz ini adalah guru spiritual Rumi. Yang karenanya, murid-murid Rumi merasa dicampakkan oleh gurunya dan mereka kemudian sepakat mengusir Syam secara diam-diam dari kehidupan Rumi.

Tema utama dalam sastra sufi memang adalah cinta ilahi. Namun, selain tema ini, tema lainpun tetap menjadi bagian penting dalam sastra sufi seperti yang terlihat dalam sajak Rumi tentang Pertentangan Agama berikut;

Ketujuh-puluh golongan ini akan bertahan sampai Hari Kebangkitan tiba: percakapan dan alasan dari orang bid’ah tidak akan gagal

Banyaknya kunci atas harta benda adalah bukti ketinggian nilainya

Panjangnya jalan yang berliku-liku, bertebing dan berjurang, serta banyak penyamun yang menghadangnya, adalah petunjuk akan besarnya tujuan perjalanan setiap ajaran yang palsu menyerupai sebuah jalan pegunungan, bertebing curam, dan berpenyamun

Beriman secara buta adalah berada dalam dilema, karena para pemuka berdiri tegak pada salah satu sisinya: tiap-tiap kelompok bangga dengan caranya sendiri

Hanya Cinta yang dapat mengakhiri pertentangan, hanya Cinta yang menjadi penyelamat apabila engkau berteriak meminta tolong terhadap perbedaan pendapat mereka

Orang yang fasih bicara akan terperangah oleh Cinta: tak berani bertengkar

Pecinta takut untuk membantah, supaya mutiara mistik jangan sampai menetes dari mulutnya

Seolah-olah seekor burung yang sangat indah hinggap bertengger di atas kepalamu, lantas jiwamu takut ia akan terbang

Engkau tak berani bergerak ataupun bernafas, engkau menahan batuk, supaya burung itu tidak terbang.

Rumi yang terkenal dengan madzab Cintanya, memang seolah agak geram melihat pertikaian yang terjadi antara firqoh-firqoh yang ada dalam Islam. Hadis yang menyebutkan bahwa pada hari Akhir nanti umat Islam akan terpecah menajadi tujuh puluh golongan dan hanya satu yang selamat menjadi pijakan pertikaian antar golongan di dalam tubuh Islam. Rumi seakan tidak rela melihat pertikain memperebutkan status satu golongan yang selamat itu. Puisinya ini menjadi semacam peringatan bagi para pemimpin golongan-golongan itu, agar tidak saling bertikai hanya karena sesuatu yang belum terjadi. “Jadikanlah semua berdasarkan cinta kasih, maka kalian akan selamat.” Sepertinya itulah pesan yang ingin disampaikan Rumi pada kita semua.

Beberapa Tokoh Sastra Sufi

Di atas telah disebutkan bahwa tokoh-tokoh sastra sufi begitu banyak. Dan tiga dari sekian banyak sufi itu akan sedikit dipaparkan berikut ini. Mereka adalah Rabiah al-Adawiyah, Fariduddin `Attar, dan Jalaluddin Rumi. Dan penulis harap dari pemaparan ini, dapat muncul gambaran yang lebih jelas terhadap corak sastra sufi.

Rabiah al-Adawiyah (w. 764 M) dan Totalitas Cintaanya

Sebelum masa Rabiah al-Adawiyah datang, mistisisme Arab cenderung masih berupa gerakan asketisme yang benar-benar mementingkan kehidupan akhirat dan menafikan dunia. Hidup para orang-orang sufi identik dengan kesederhanaan bahkan kemelaratan minim keindahan. Mereka berkelana dengan baju wool yang pada umumnya terlihat lusuh. Menyendiri dan jarang beraktivitas bersama masyarakat. Dalam hubungannya dengan Tuhanpun mereka mengandalkan tawakal dan takwa. Rabiah al-Adawiyah datang dan sedikit demi sedikit merubah pandangan tersebut. Meski jalan asketis tetap tidak ditinggalkan, namun Rabiah telah memberi warna lain dalam kehidupan tasawuf. Dengan sajak dan munajat-munajat yang ia lantunkan pada Allah, benih-benih Cinta mulai tumbuh di dalam tasawuf.

Rabiah yang sejak kecil sudah terbiasa hidup menderita, mencari-cari hakikat hidup yang ia jalani. Sambil meneruskan usaha ayahnya menyeberangkan orang dengan perahu yang diwarisinya, ia tetap selalu beribadah pada Allah setiap saat. Kian hari kian ia semakin khusuk beribadah pada Allah, ia mencari ridha-Nya. Namun, ia tetap dalam kepedihan dan kesedihan karena merasa masih jauh dengan apa yang dicarinya. Ketika sedang khusuk tiba-tiba didengarlah suara menyebut namanya. “Rabiah janganlah engkau bersedih hati. Pada hari kiamat nanti orang-orang shaleh akan menaruh hormat padamu.”

Dan inilah salah satu munajat Rabiah pada Tuhan;O. Tuhanku…Orang-orang berkhalwat ingin dekat denganmuIkan-ikan di laut bebas memuji keesaan-MuDemi keagungan-Mu bergelora ombak-ombak di lautDemikian malam gelap gulitaCahaya siang terang benderangDan bahtera berlayar di laut bebasBulan purnama bersinar cerahBintang berkelap-kelipSemuanya menunjukkan keagungan-MuKarena Engkau Mahakuasa Kecintaannya pada Allah tiada taranya. Ia menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk mengingat Allah. Orang lain mungkin telah menganggapnya gila karena ia sering mengucapkan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti. Namun dibalik kata-kata yang sulit dimengerti orang awam, lantunan-lantunan nyanyian cinta telah ia panjatkan pada kekasihnya. Diala Rabiah al-Adawiyah sang mistikus perempuan paling populer di dunia Islam.

Farriduddin ‘Attar dan Pencarian Burung-burung pada Simurgh

Farriduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim lebih dikenal dengan nama Attar, si penyebar wangi. Meskipun sedikit yang diketahui dengan pasti tentang hidupnya, namun agaknya dapat dikatakan bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 506 H/1119 dekat Nisyapur di Persia Barat-Laut (tempat kelahiran Umar Khayyam) dan meninggal sekitar tahun 607 H/1220 di Syaikhuhah.

Farriduddin ‘Attar pada mulanya hanyalah seorang pemilik sebuah kedai minyak wangi sebelum ia menjalani kehidupan tasawufnya. Dikisahkan bahwa kedainya kedatangan seorang Darwis berpakaian jubah wool. Darwis itu menangis ketika menghirup wewangian minyak wangi di kedai ‘Attar. Karena menganggap Darwis ini hendak meminta belas, ‘Attar-pun menyuruh sang Darwis pergi. Tetapi sang Darwis tidak mau pergi dan berkata pada ‘Attar; “Tidak ada yang dapat menghalang saya dari meninggalkan kedaimu ini, dan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia yang bobrok ini. Apa yang ada padaku hanyalah jubah bulu domba yang lusuh ini, tetapi aku justru kasihan kepadamu, bagaimanakah kau dapat mengubah pandangan kau kepada persoalan maut dan meninggalkan harta benda dunia ini?” Dan setelah berkata demikian sang Darwis meninggal di kedai ‘Attar.

Peristiwa inilah yang disinyalir membawa perubahan pada diri ‘Attar. Sejak saat itu ia mulai berkelana mencari guru-guru sufi untuk menemukan hakikat hidupnya. Meskipun jarang disebutkan tentang pengalamannya ketika berkelana, namun menurut hemat penulis ‘Attar telah berhasil mengalami pengalaman mistik dan menemukan jati dirinya. Dan dalam Mantiq al-Tayr (Persidangan atau Musyawarah Burung) inilah ia memanifestasikan pengalaman yang pernah ia jalani agar lebih mudah dipahami.

Mantiq al-Tayr sendiri berkisah tentang perjalanan sekawanan burung untuk mencari raja mereka yang disebut sebagai Simurgh di Puncak Gunung Kaf yang agung itu. Dalam perjalanan itu, para burung yang dipimpin oleh Hud-hud harus melalui tujuh jalan yang melambangkan tingkatan-tingakatan keruhanian.

Pertama, jalan pencarian (talab). Di jalan inilah seorang pencari mulai menjalani kehidupan spiritualnya. Barbagai macam godaan duniawi harus dapat ia takhlukkan untuk dapat mencapai jalan berikutnya. Pada tahapan ini pengupayaan pembersihan diri harus diupayakan sesempurna mungkin. Para pencari diharuskan berjuang dengan gigih untuk mendapatkan cahaya ilahi yang didambanya dengan menghilangkan hasrat-hasrat duniawinya.

Kedua, jalan cinta. Di tahapan ini sang pencari harus menemukan cinta sejati dalam dirinya untuk dapat menghalau tangan hitam akal yang menutupi ketajaman mata batin. Hanya dengan mata batinlah para pencari kebenaran ini dapat melihat realita apa adanya. Mata hati tidak dapat dibohongi. Dalam kecintaanya, seorang pencari haruslah memiliki kesudian untuk mengorbankan apa-apa darinya demi yang diharapkannya—yang dicintanya. Keikhlasan dalam berkurban menunjukkan seberapa besar cintanya pada kekasihnya. Demikianlah jalan kedua merupakan jalan pengujian akan cinta seorang pencari cinta, atas nama cinta. Dengan mata batin manusia akan menemukan sesuatu berdasarkan hakekatnya, bukan hanya dari segi fisik belaka.

Berkenaan dengan ini saya menjadi teringat akan kisah Yusuf dan Zulaikha yang disebutkan di dalam al-Qur’an. Kisah percintaan sejati yang mengabaikan keindahan fisik demi satu keindahan ruhani. Diceritakan bahwa ketika Zulaikha masih muda dan berstatus istri wazir Mesir, ia jatuh hati pada Yusuf bin Ya’qub anak angkat suaminya. Di masa mudanya, secara fisik Zulaikha adalah wanita yang benar-benar cantik, paling tidak di kawasan Mesir saat itu. Demi melihat ketampanan Yusuf, jatuh cintalah ia pada pemuda ini. Zulaikha akhirnya mengutarakan juga hasratnya itu pada Yusuf. Namun, ada sesuatu yang membuat Yusuf merasa tidak tertarik dengan Zulaikha. Selain wanita ini masih bersuami, menurut Yusuf ia bukan kriteria wanita yang diidamkannya, karena kelakuannya. Bagi Yusuf kecantikan bukan soal fisik semata. Kecantikan terpancar karena dalam tubuh memancar kecantikan jiwa pemiliknya, wanita seperti inilah yang diharapkan putra Ya’qub ini sebagai pendampingnya.

Namun, setelah beberapa tahun dan ketika usia Zulaikha sudah menua, Yusuf berbalik menjadi begitu mencintai wanita yang dulu pernah ditolaknya. Hal ini karena Zulaikha telah merubah sikap dan kelakuannya. Wanita ini telah menjadi seorang yang taat beribadah, dan berbudi pekerti luhur. Zulaikha telah mengorbankan segalanya demi Yusuf dan pada akhirnya Yusuf-pun tidak memperdulikan kondisi fisik Zulaikha yang telah menua, mereka tetap saling mencintai dengan cahaya kerupawanan ruhani masing-masing.

Cerita di dalam al-Qur’an ini tentu memberi pesan kepada kita bahwa seseorang itu tidak dapat dinilai dari segi fisiknya saja. Kadang ada orang yang dari segi fisik tidak begitu menarik, tetapi memiliki kerupawanan ruhani. Demikian pula dengan orang yang memiliki keelokkan fisik belum tentu memiliki kerupawanan ruhani.

Ketiga, jalan kearifan. Seorang pencari setelah mata hatinya terbuka dan dapat melihat jelas realita ciptaannya, maka otomatis kearifan akan menyertai kehidupannya. Jalan makrifat dapat dilalui dengan cara tata cara ibadah yang khusuk, dan latihan-latihan penempaan diri dalam. Tentu setelah melalui jalan cinta. Tapi jika diperhatikan dengan seksama hubungan antara makrifat dan cara memperolehnya, masih nampak ada kesulitan di sini untuk mengerti. Bentuk ibadah sekhusuk apa yang harus dilakukan untuk dapat mencapai kemakrifatan ini.Realita ibadah adalah ritual fisik sedangkan kemakrifatan yang dicapai adalah ruhaniah. Bagaimana ini terhubung?

Melihat pola hubungan ini saya hanya dapat sampai pada kesimpulan bahwa makrifat memang dapat dicapai dengan ritual-ritual fisik ibadah yang disertai cinta seperti yang ada pada tahapan sebelum tingkatan ini, yaitu cinta. Kesungguhan hati untuk mencari dilandasi cinta pada yang dicarinya pada akhirnya membuka pintu kearifan ini.

Keempat, jalan kebebasan. Jalan ini adalah tahapan para pencari sudah mampu menghilangkan nafsu untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah atau dengan ikhtiar biasa. Dalam tingkatan ini kesibukan seorang pencari akan fokus pada hal-hal yang utama dan hakiki. Dia melihat segala seakan biasa, tanpa ada yang menakjubkan.

Kelima, jalan Keesaan. Jalan yang menampakkan semua pecah tercerai berai dan menjadi satu kembali. Semua Esa dalam kesempurnaan Tuhan yang Esa. Semua nampak banyak, namun satu saja.

Keenam, jalan hayat atau ketakjuban. Dalam jalan ini sang pencari akan mengalami ketakjuban luar biasa karena semua menjadi serba terbalik. Siang jadi malam, malam jadi siang. Semuanya serba berubah. Dari hal ini saya mendapatkan sedikit gambaran tentang adanya perubahan-perubahan ini. perubahan-perubahan ini menurut saya merupakan tanda bahwa pengalaman-pengalaman fisis pada kita tidak mampu untuk bersinergi dengan ke-tetap-an yang akan diraih oleh seorang pencari pada jalan berikutnya. Siang menjadi malam dan malam menjadi siang menjadi semacam peringatan pada para pencari bahwa alam fisis itu tidak mampu mengadaptasikan dirinya pada kesempurnaan. Ketika sampai pada level ini pengalaman-pengalaman fisis tadi laksana lukisan yang disiram minyak, luntur dan tidak jelas lagi bentuknya.

Ketujuh, jalan faqir. Ketika sampai pada level ini, sang pencari akan menemukan dirinya secara utuh. Tanpa embel-embel apapun pada dirinya. Yang ditemukannya hanyalah dirinya dan hakikat dirinya. Setelah tahap inipun sang pencari akan menemukan simurgh yang tak lain adalah hakikat dirinya sendiri.

Melalui Musyawarah Burung ini, ‘Attar mengajarkan pada kita bagaimana menjadi seorang pencari sejati. Dan dia pernah membuktikannya.

Jalaluddin Rumi Sang Penabur Benih Cinta dari Konya

Rumi memiliki Nama Asli Jalal al-Din Muhammad. Ia lahir dikota Balkh pada tanggal 30 September 1207 M. Ketika masih remaja ia harus mengikuti orang tuanya pindah ke daerah Nisyapur dan kemudian ke Bagdad untuk menghindari serangan bangsa Moghul di Balkh. Rumi begitu dikenal karena sajak-sajak cintanya yang mengajarkan perdamain. Hal ini dapat dilihat dalam salah satu sajaknya “Nisbinya Keburukan”;

Di dunia ini tiada keburukan yang mutlak: keburukan itu nisbiSadarilah kenyataan ini. Di dunia waktu sesuatu pastilah menjadi pijakan bagi seseorang dan belenggu bagi yang lainnya.Bagi seseorang merupakan pijakan, bagi yang lainnya merupakan belenggu; bagi seseorang merupakan racun, bagi yang lainnya merupakan manis dan berfanfaat laksana gulaBisa merupakan sumber kehidupan bagi ular, namun maut bagi manusia; lautan merupakan sumber kehidupan bagi binatang laut, namun bagi makhluk daratan merupakan luka yang

mematikan………………………………………………………………………………………………………..

Semua yang dibenci menjadi yang dicintai manakala ia membawamu kepada Sang Kekasih-mu

Sajak ini menjelaskan bahwa apa yang kita lihat pada dasarnya akan selalu berubah dan memiliki keistimewaannya masing-masing. Tidak perlu kita menyombongkan diri hanya karena ketampanan atau kekayaan atau kelebihan fisik lainnya. Hanya dengan melihat kelebihan dengan mata hatilah kita dapat tahu kemutlakan apa adanya. Tanpa mata hati kita selalu tertipu dengan segala bentuk fisik yang menipu.

Jejak Sastra Sufi Indonesia ada dalam karya-karya Hamzah Fansuri

Seperti yang dikatakan Dr. Abdul Hadi W.M, biografi tentang Hamzah Fansuri memang tetap kabur. Belum ada bukti-bukti yang memberi penjelasan tentang asal-usul sastrawan sufi ini. Namun yang jelas Hamzah Fansuri adalah tokoh penting yang memberi warna pada khasanah kesustraan melayu. Selain seorang sastrawan, Hamzah Fansuri juga adalah seorang sufi yang berpengaruh di zamannya. Lazimnya seorang sastrawan yang dipengaruhi oleh spiritual sufi, karya-karya Hamzah Fansuri-pun kental dengan unsur-unsur kesufian. Yang pembahasannya tidak akan jauh dari pembahasan Tuhan, cinta, dan asketisisme. Tema-tema yang menandai bahwa Hamzah Fansuri memang mewarisi tradisi sastra sufi, baik yang bercorak Arab maupun Parsi. Selain itu beberapa sajak Hamzah Fansuri, kerap merujuk pada tokoh-tokoh sastra sufi, misalnya Fariduddin ‘Attar, Jalaludin Rumi, dan Ahmad Ghazali. Hamzah Fansuri banyak sekali menghasilkan sajak-sajak sufi yang pada umumnya tidak memiliki judul tersendiri. Bahkan namanyapun kerap kali tidak dicantumkan dalam karya-karyanya itu. Hal inilah yang memunculkan kesulitan untuk membedakan karya-karya sastra miliki Hamzah Fansuri dengan sastrawan lainnya. Di antara karya-karya yang dinisbatkan kepadanya yang karena beberapa hal, karya sastra berupa sajak-sajak itu diragukan adalah asli karyanya. Sajak-sajak itu adalah Sya’ir dagang, ikat-ikatan bahr al-Nisa, dan Syai’r Perahu yang membuat namanya dapat dikenang sampai sekarang. Di dalam bagian sajak-sajak ini terlihat ketidakotentikan karya Hamzah Fansuri.

Hamzah Fansuri memiliki karya-karya yang agak berbeda dengan karya sastra sufi pendahulunya. Karya Hamzah Fansuri memiliki keunikan pada rima yang digunakannya. Rima yang dipakai dalam setiap sajak yang dibuatnya selalu A-A-A-A, satu hal yang unik memang. Kita dapat melihatnya dengan memperhatikan syair Hamzah Fansuri sebagai berikut:

Dengarkan di sini, hai anak datu

Enkaulah khalifah dari ratu

Wahid-kan emas dan mutuSupaya dapat pandangmu satu Ruh al-quds terlalu payah

Akhir mendapat di dalam rumah

Jangan engkau cari jauh payah

Mahbub-mu dengan sertamu di rumah ……………………………

Hunuskan pedang, bakarlah sarung

Itsbatkan Allah nafikan patungLaut tawhid yogya kau harung

Di sanalah engkau tempat beraung

Meski dalam hal isi syair Hamzah Fansuri tidak begitu jauh berbeda dengan syair-syair Rumi misal, namun dalam hal penataan rima dan baris karya Hamzah Fansuri nampak lebih rapi terlihat, meskipun kita juga harus melihat konteks bahasa yang dipakai juga.

Untuk membedakan karya-karya sastra ciptaan Hamzah Fansuri dengan karya-karya lainnya, Dr. Abdul Hadi W.M telah memberikan 7 kriteria yang dapat dijadikan pegangan.

Pertama, semua sajak Hamzah Fansuri menggunakan pola empat baris denga rima AAAA

Kedua, dari makna batinnya sajak-sajak Hamzah Fansuri menggunakan ungkapan perasaan fana, cinta ilahi, kemabukan mistik, dan pengalaman perjalanan keruhanian.

Ketiga, terdapat kutipan ayat-ayat muhtasyabihat al-Qur’an di dalam puisi-puisi dengan fungsi religius dan estetis.

Keempat, terdapat beberapa penanda kesufian seperti anak dagang, anak jamu, anak datu, anak ratu, orang uryani, faqir, thalib, dan sebagainya.

Kelima, terdapat ungkapan-ungkapan paradoks di dalam sajak-sajaknya.

Keenam, adanya sejumlah baris syair Hamzah Fansuri yang memiliki kesamaan dengan baris-baris syair para penyair sufi Parsi

Ketujuh, terdapat kata yang diambil dari bahasa Arab dan Jawa.

Kriteria-kriteria inilah yang kiranya dapat membantu dalam melihat dan memahami karya-karya Hamzah Fansuri.

Penutup

Manusia cenderung melihat semuanya secara hitam putih. Mereka terkadang tidak tahu bahwa apa yang mereka katakan benar mungkin salah, dan apa yang mereka klaim salah mungkin saja benar. Sastra sufi memberitahu kita untuk mengetahui segala sesuatu secara hakiki. Selain itu, dari sastra sufi kita juga diajarkan untuk hidup dalam damai, saling mengasihin, dan menghormati. Dan dalam konteks keindonesiaan, seorang tokoh bernama Hamzah Fansuri telah memulai tradisi damai tersebut. Kitapun jadi harus belajar dan belajar lagi untuk memahami diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Setelah era Dr. Abdul Hadi W.M. dkk, jarang sekali para sastrawan Indonesia yang mau bergelut dalam dunia Sastra Sufi. Mungkin bahasannya memerlukan pengalaman batin yang begitu dalam, sehingga anak-anak muda masa kini yang lebih cinta hidup praktis lebih suka meninggalkan cara-cara hidup merepotkan ala para sastrawan sufi ini. Hidupkan sastra sufi Indonesia!

Daftar Pustaka

Hadi, Abdul, “Puisi-puisi Sufi Arab”, Diktat Kuliah Seni dan Sastra Islam

__________, “‘Mantiq al-Tayr’: Alegori Sufi Fariduddin al-`Attar”, diktat mata kuliah Seni dan Sastra Islam ICAS-Paramadina

__________, Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri, Jakarta: Paramadina, 2001

Hitti, K., Philip, History of the Arabs, Jakarta: Serambi, 2005

Kertanegara, Mulyadi, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago, Jakarta: Paramadina, 2000

Leaman, Oliver, Menafsirkan Seni dan Keindahan Estetika Islam, Bandung: Mizan, 2005

Muhammad, Atiyah Khamis, Rabiah al-Adawiyah, Jakarta: Pustaka Firdaus

Nicholson, A., Reynold, Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi, terj. Sutejo Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000

4 tanggapan

  1. Yang penting anak muda mudi kita harus di kenalkan secara utuh tentang dirinya sendiri dimana terdiri dari luar dan dalam atau rohani dan jasmani dan keduanya harus dipenuhi kebutuhan

  2. mantab sekali dah artikelnya,,pembelajaran tentang islam yang lebih luas lagi buat orang” yang seperti saya mudah”an bsa d terapkan d kampus maupun d lingkungan kerja.n_n

  3. tersebutlah suatu cerita atau kabar tak lain dari pada sebuah amalan akan suatu keindahan akan kisah dan pesan-pesan para aulia bahwasannya Al-Qur’anul Karim adalah satu paket kesusastraan yang menyampaikan suatu keindahan dan Rahmat dari pada Alam Semesta dan tergambar pada seorang Sufi…dengan berbagai refleksi dan perbedaaan dimensi.

  4. Salut buat tulisannya, memang menyedihkan melihat kaum muda bahkan yang udah tua mabuk oleh novel populer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: