13
Okt
09

DOKTRIN TEOLOGI AHMADIAH DALAM KONSEPSI SYARIAT JIHAD

I. PENDAHULUAN

Orang lebih sering melihat Ahmadiyah dari nilai-nilai atau ajaran-ajaran menyimpang yang ada padanya. Kurang lebih, Ahmadiyah dilihat selalu hampir dengan pandangan negatif, yang meng-common sense. Dan tidak aneh akhirnya, andai kita menyebut kata “ahmadiyah”, orang akan menanggapinya sebagai sesuatu yang sesat, sesuatu yang menyimpang, dan sebagainya. Orang-orang lebih cenderung melihatnya begitu, apalagi setelah MUI menetapkannnya sebagai salah satu golongan sesat yang wajib diinsyafkan.

Tak pelak, hal ini menutupi kontribusi yang diberikan Ahmadiyah pada Islam. Bahwa Ahmadiyah dengan gerakannya telah sedemikian rupa memberi warna tersendiri yang meski tak khas tetapi memiliki pengaruh yang signifikan dalam Islam. Baik pengaruh secara intelektual maupun praktis kerja di lapangan. Lanjutkan membaca ‘DOKTRIN TEOLOGI AHMADIAH DALAM KONSEPSI SYARIAT JIHAD’

20
Apr
09

Al-Ghazali

By Toni dkk

Biografi

Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Thusi al-Shafi’i al-Ghazali

Lahir: Thus (Khurasan,Iran) 1058M

Wafat: Usia 70 tahun, di Iran, 1128 M

Guru-gurunya:

—  Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani

—  Imam Abu Nashr  al-Isma’ili

—  Imam Haramain  al-Juwaini

Karya-karya:

Ilmu Agama:

-          Al-Munqidh min al-Dalal (Rescuer  from Error)

-          Hujjat al-haq (Proof of the Truth)

-          Al-Iqtisad fil I’tiqad (Median in Belief)

-          Al-Maqsad al-Asna fi Sharah Asma’Allahu al Husna(The Best means in Explaining Allah’s Beautiful Names)

-          Jawahir AlQuran wa Duraroh(Jewels of the Quran and its Pearls)

-          Fayals al Tafriqa bayn al-Islam wal Zandaqa(The Criterion of distinction between Islam and Clandestine Unbelief)

-          Mishkat al-Anwar (The Niche of Lights)

-          Tafsir al-Yaqut al-Ta’wil Lanjutkan membaca ‘Al-Ghazali’

20
Apr
09

Ibn Taimiyyah

by: Forget Them

BIOGRAFI DAN SITUASI POLITIK

Nama lengkapnya adalah Taqi al-Din Abu Abbas Ahmad Ibnu al-Halim Ibnu Abd al-Salam Ibnu Taimiyyah. Ia dilahirkan pada 22 Januari 1262 di Harran, dekat Damaskus, dan meninggal di penjara pada tanggal 26 September 1328 M. Ia hidup pada masa ketika dunia Islam mengalami puncak disintegrasi politik, dislokasi sosial dan dekadensi moral, dimana kekuasaan tidak lagi berada di tangan khalifah di Bagdad, melainkan dikuasai oleh penguasa lokal. Selain itu, juga terjadi krisis internal berupa kejumudan dan taklid yang mewabah dalam naungan militerisme negara. Ketika Mongol menyerbu kota Harran, dia dan keluarganya hijrah ke Damaskus.

Pada masa itu, yaitu sekitar abad ketujuh dan kedelapan yang merupakan masa penghabisan Daulah Abbasiah, kaum muslimin telah terpecah-belah dalam kerajaan-kerajaan kecil yang antara satu dengan yang lainnya saling memusuhi. Lebih dari itu, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapat ancaman besar dari tiga sisi: serangan bangsa Tartar dari arah timur (Mongolia), serangan pasukan Perang Salib yang terus mendesak dari arah barat, serta ancaman akibat perpecahan dari umat Islam sendiri. Lanjutkan membaca ‘Ibn Taimiyyah’

20
Apr
09

AL-MAWARDI: Biografi dan Pemikiran politiknya

by: Abdul Hakim, Ellya Verawati, Tresna Agustian, Mohammad Fathi,

A. Pengantar

Khazanah intelektual Islam era kekhalifahan Abbasiyah pernah mengukir sejarah emas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan pemikiran keagamaan. Salah satu tokoh terkemuka sekaligus pemikir dan peletak dasar keilmuan politik Islam penyangga kemajuan Abbasiyah itu adalah Al Mawardi. Tokoh yang pernah menjadi qadhi (hakim) dan duta keliling khalifah ini, menjadi penyelamat berbagai kekacauan politik di negaranya, Basrah (kini Irak). Nama lengkap ilmuwan Islam ini adalah Abu al Hasan Ali bin Habib al Mawardi. Alboacen. Begitu peradaban Barat biasa menyebut pemikir dan pakar ilmu politik termasyhur di era Kekhalifahan Abbasiyah ini. Lahir di kota pusat peradaban Islam klasik, Basrah (Baghdad) pada 386 H/975 M, belajar ilmu hukum dari Abul Qasim Abdul Wahid as Saimari, seorang ahli hukum mazhab Syafi’i yang terkenal. Pindah ke Baghdad melanjutkan pelajaran hukum, tata bahasa, dan kesusastraan dari Abdullah al Bafi dan Syaikh Abdul Hamid al Isfraini. Dalam waktu singkat ia telah menguasai dengan baik ilmu-ilmu agama, seperti hadis dan fiqh, juga politik, filsafat, etika dan sastra. Di mata raja-raja Bani Buwaih, Al-Mawardi mendapatkan kedudukan yang cukup tinggi. Ia hidup pada masa pemerintahan dua khalifah: Al-Qadir Billah (381-422 H) dan Al-Qa’imu Billah (422-467 H). Wafat pada 1058 M, dalam usia 83 tahun. Lanjutkan membaca ‘AL-MAWARDI: Biografi dan Pemikiran politiknya’

28
Mar
09

Pemikiran Politik Al-Farabi

Muqaddimah

Masa di mana filsafat mulai tumbuh dan berkembang di dunia kaum muslim, di tahun 870 M Abu Nashr Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Al-Uzalagh Al-Farabi, dilahirkan pada sebuah distrik di Farab (sekarang dikenal dengan sebutan Atrar) bernama Wasij, Transoxiania (tepatnya di Turkistan). Lebih dikenal sebagai al-Farabi di dunia Islam, sedang di kalangan orang-orang Latin Abad Pertengahan di kenal sebagai Abu Nashr. Al-Farabi wafat pada tahun 950 M di Damaskus, Suriah, pada usia 80 tahun.

Pada masa hidupnya, kekuatan politik Islam yang berkuasa sama sekali tidak bersifat homogen. Dinasti Abasiyah di Bagdad secara politis telah jauh dari masa kejayaannya, meski dalam hal pendidikan Bagdad masih menjadi salah satu kota rujukan untuk memperdalam ilmu. Di tahun-tahun kepemimpinan al-Mu’tadid (892-902), al-Farabi dan guru logikanya ketika di Marw[1], Yuhanna Ibn Hailan, pergi ke Bagdad. Di tempat kelahirannya sendiri, Transoxiania, Dinasti Samaniyah menjadi negara yang sah pada masa kepemimpinan Ismail Ibn Ahmad (892-907 M) dan menjadikan Bukhara sebagai pusat pemerintahannya. Bukhara kemudian menjadi salah satu pusat ilmu dan kesusastraan di masa kepemimpinan khalifah keempat, Nasr Ibn Ahmad atau Nasr II (914-943 M). Pada kurun waktu ini hingga invansi tentara Mongol di Abad 12, Bagdad masih menjadi pusat politik Islam meski sekedar menjadi negara boneka demi kepentingan para pemimpin lokal yang sebelumnya dikuasai. Kondisi politik, seperti inilah yang agaknya berpengaruh besar pada pemikiran politik al-Farabi. Lanjutkan membaca ‘Pemikiran Politik Al-Farabi’

19
Okt
08

Pancasila sebagai Etika Politik:Ironi Pedoman hidup bangsa yang Diagungkan

  1. Pendahuluan

Adakah terdengar lagi gaung Pancasila dalam kancah kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini? Agaknya untuk melihat hal itu, perlu penelaahan yang cukup luas sudut pandangnya. Atau dapat dikatakan bahwa jika Pancasila dilihat sebagai sebuah fenomena, maka perlu juga dilihat noumena atau esensi dari fenomena itu, dengan begitu sudut pandangnya tidak hanya dibatasi pada tataran luaran yang nampak, tetapi juga berupaya melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Dan sebagai generasi yang hadir hidup di tengah pergumulan “hidup-mati’ Pancasila, sepertinya hal itu dapat dilakukan. Melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Pancasila.

Akhir-akhir ini kita tahu bahwa, Pancasila sedang mengalami satu fase delegitimasi keberadaan, di mana sebagai sebuah pandangan hidup sebuah bangsa ia tak lagi “diakui” sebagai pedoman hidup bersama. Pancasila sekarang sudah tidak sakti lagi, meski kita masih sering mendengar tiap tahunnya pada akhir bulan September dan awal Oktober selalu ada peringatan hari Kesaktian Pancasila. Reformasi 1998-1999 telah mencabik-cabiknya, dan melabelinya sebagai kaki tangan sebuah rezim kekuasaan, pada masa-masa Orba (orde baru). Pancasila menjadi korban. Korban yang diperalat, dan korban untuk dijadikan kambing hitam. Begitulah nasib Pancasila. Lanjutkan membaca ‘Pancasila sebagai Etika Politik:Ironi Pedoman hidup bangsa yang Diagungkan’

05
Jul
08

ISLAM, MARXISME DAN PERSOALAN SOSIALISME DI INDONESIA

By Abdul Hadi W.M

Judul di belakang Islam dan Marxisme dalam catatan ini diambil dari salah satu karangan Mohamad Hatta. Sosialisme yang akan dibahas pula bukan hanya sosialisme Marxis, tetapi juga faham ekonomi lain yang lebih relevan bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar pendudukunya menganut suatu aagama, khususnya Islam. Khususnya seperti dikemukakan Bung Hatta di Indonesia dan Muhammad Husein Heikal di Mesir. Pemikiran sosialisme seperti inilah yang mendasari gagasan Ekonomi Terpimpin Bung Hatta dan Mubyarto. Mereka berpendapat bahwa tatanan ekonomi terbaik yang mesti dijalankan di Indonesia haruslah berdasarkan keadilan sosial dan kian jauh dari praktek kapitalisme liberal.

Sebagai faham ekonomi, sosialisme mulai berkembang pada akhir abad ke-18 dan 19 M di Eropa. Ketika itu tatanan masyarakat feodal mulai runtuh sebagai akibat revolusi industri, yang memunculkan kelas penguasa baru di bidang ekonomi, yaitu kaum kapitalis. Sosialisme muncul sebagai reaksi terhadap kapitalisme.

Faham ini mulai muncul di Inggeris dan Perancis menjelang Revolusi Perancis, dan mencapai puncaknya pada akhir abad ke-19 dengan munculnya tokoh-tokoh besar seperti Proudhon, Karl Marx, Engels, Bakunin, Karl Kautsky, Plekhaniv, Lenin dan lain sebagainya. Lanjutkan membaca ‘ISLAM, MARXISME DAN PERSOALAN SOSIALISME DI INDONESIA’

02
Jul
08

Islam, Kemajuan, dan Indonesia

By Sulthon Fatoni

A. Pendahuluan

Indonesia dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia memiliki potensi besar untuk dapat memunculkan sebuah peradaban besar dunia. Bahkan sangat dimungkinankan memang kejayaan peradaban Islam zaman pertengahan akan terwariskan dan dibangun di bumi nusantara ini. Dengan kuantitas yang sedemikian besar dan kecenderungan umat Islam di Indonesia yang sadar perbedaan dan memahami keragaman yang ada, seperti halnya di masyarakat Islam di Andalusia yang hidup dengan semangat pluralitasnya, Indonesia seperti yang dikatakan oleh Mulyadi Kertanegara sebagai the Giant Sleeping[1] yang bila dibangunkan tentu akan menghasilkan satu peradaban dan sebuah tradisi ilmiah yang luar biasa hebatnya. Dan tentu ini tidak gampang semudah mengatakannya, butuh usaha dan semangat yang sangat untuk dapat memunculkan satu peradaban dan tradisi layaknya yang ada pada masa-masa keemasan Islam tempo dulu, baik di Bagdad pada masa khalifah Abasiyah maupun di tempat lain di mana Islam mengepakkan sayapnya lebar-lebar.

Dengan penekanan penduduk muslim dan kenapa bukan yang lain, bukanlah tulisan ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya sektarianisasi atas nama Islam atau juga bukannya tanpa alasan yang jelas kenapa hal itu diangkat. Ada kaitan antara Islam di Indonesia, yang berjumlah 80-an persen dari total 200-an juta penduduk Indonesia, dengan kemajuan dan munculnya sebuah peradaban dan satu tradisi yang mumpuni. Lanjutkan membaca ‘Islam, Kemajuan, dan Indonesia’

19
Jun
08

Manusia Otentik

By Muhammad Fathi, dkk

Latar Belakang

Terjadinya konsep manusia otentik adalah lahir dari rahim modernisme yang telah gagal memahami manusia secara utuh. Filsafat ‘pencerahan’, karena ketakjubannya dengan fisika memahami manusia seperti mereka memahami alam. Alam dianggap sebagai sebuah mesin raksasa, dan manusia dianggap sebagai mesin kecil. Penyamaan manusia dengan alam sebagai mesin menyebabkan ‘kemesinan’ manusia (i’ home machine).

Pemesinan manusia yang diperparah oleh penggunaan teknologi industrial setelah terjadinya ‘Revolusi Industri’ di Eropa, dimana peradaban ‘mesin’ sungguh-sungguh melingkari manusia. Manusia yang dulunya bekerja di pabrik-pabrik secara manual, sejak itu tergantikan oleh robot-robot. Manusia telah direndahkan derajatnya oleh industrialis-industrialis teknokrat yang lebih rendah dari robot-robot. Lanjutkan membaca ‘Manusia Otentik’

07
Jun
08

Paradigma Sufistik dalam Sastra

by Wiwit KR.

PENDAHULUAN

Beberapa sarjana mengatakan bahwa kata sufi berasal dari kata ‘safi’ yang dalam bahasa Arab bermakna suci atau bersih. Memang jalan kerohanian sufi dimulai dengan penyucian diri (tadhkiya` al-nafs) dan penyucian kalbu (tadhkiya` al-qalb). Tujuan penyucian diri dan kalbu dimaksudkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Di samping itu jalan kerohanian sufi ditempuh dengan maksud agar seorang salik (penempuh jalan kerohanian) lebih mengenali diri mereka dan hakikat bahwa manusia merupakan makhluq kerohanian, bukan semata-mata makhluq kejasmanian dan sosial.[1]

Membincang tentang tasawuf merupakan hal yang menarik bagi pencintanya. Banyak sastra-sastra Islam yang berisikan tentang puisi sufi yang sangat menarik dan indah terkait dengan penghambaan manusia terhadap Tuhannya. Dalam karya Dr. abdul Hadi W.M yang di presentasikan dalam mata kuliah ‘Sastra Islam’ di ICAS Paramadina, dia menyebutkan bahwa Tasawuf ialah bentuk spiritualitas atau jalan kerohanian dalam Islam. Sebagai bentuk spiritualitas dengan ajaran kerohanian yang telah dirumuskan ilmu tasawuf muncul pada awal abad ke-2 H atau 8 M. Mereka yang melaksanakan disiplin kerohanian mengikuti jalan tasawuf disebut sufi. Kerana itu tasawuf juga disebut sufisme. Para sufi telah sejak awal lagi melibatkan diri dalam kegiatan sastra, khususnya penulisan puisi. Lanjutkan membaca ‘Paradigma Sufistik dalam Sastra’